Empat Strategi Bupati Yusran Kendalikan Inflasi Konawe
TRIASPOLITIKA.ID : KONAWE — Bupati Konawe H. Yusran Akbar mengungkapkan empat strategi utama yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Konawe dalam menjaga stabilitas inflasi selama semester pertama 2026, sehingga daerah tersebut mencatat tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,12 persen pada Juni 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut merupakan yang terendah di antara kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara dan berada di bawah tingkat inflasi provinsi yang tercatat sebesar 4,68 persen.
Yusran mengatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui serangkaian langkah yang berfokus pada ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, penguatan aktivitas ekonomi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.
“Pengendalian inflasi membutuhkan kerja bersama. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus didukung seluruh pemangku kepentingan agar stabilitas harga tetap terjaga,” kata Yusran, Jumat 3 Juli 2026
Strategi pertama, kata dia, adalah memastikan ketersediaan bahan pangan melalui pengamanan siklus produksi pertanian, terutama dengan menjaga ketersediaan air irigasi untuk mendukung masa tanam dan panen.
Selain itu, pemerintah daerah memberikan subsidi transportasi bagi sejumlah komoditas yang masih dipasok dari luar daerah, seperti bawang merah dan bawang putih, guna menekan biaya distribusi dan menjaga harga di tingkat konsumen.
Menurut Yusran, langkah tersebut menjadi salah satu upaya menjaga pasokan kebutuhan pokok agar tetap tersedia dan harga tetap stabil di pasaran.
Berdasarkan data BPS, sejumlah komoditas pangan seperti bawang putih, bawang merah, cabai rawit, tomat, tahu, dan tempe tercatat memberikan andil terhadap deflasi di Kabupaten Konawe sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Strategi kedua adalah mendorong perputaran ekonomi daerah melalui penguatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta penyelenggaraan berbagai kegiatan daerah yang mampu meningkatkan aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat.
“Kami terus mendorong UMKM agar tetap produktif dan menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Strategi ketiga dilakukan melalui penguatan koordinasi dengan berbagai pihak, antara lain Perum Bulog, Bank Indonesia, perbankan, pelaku usaha, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan langkah pengendalian inflasi berjalan secara terpadu.
Ia menilai koordinasi yang rutin memungkinkan pemerintah daerah lebih cepat merespons perubahan kondisi pasar maupun potensi gangguan pasokan.
Adapun strategi keempat adalah membangun komitmen bersama seluruh unsur daerah, termasuk Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perangkat daerah, dan masyarakat dalam mendukung kebijakan pengendalian inflasi.
Yusran mengatakan sinergi seluruh pihak menjadi faktor penting agar setiap program pengendalian inflasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Data BPS menunjukkan tren inflasi Kabupaten Konawe mengalami penurunan dari 3,79 persen pada Januari 2026 menjadi 3,57 persen pada Februari, kemudian 1,81 persen pada Maret dan 1,61 persen pada April. Inflasi sempat meningkat menjadi 2,59 persen pada Mei sebelum kembali turun menjadi 2,12 persen pada Juni 2026.







