Asdar Pamma: Pemuda itu harus kritis, jika tidak itu ‘Sontoloyo’

waktu baca 3 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – Seorang pemuda harus berjiwa kritis dalam mengemukakan pendapatnya dimuka umum, demi untuk perubahan. Jika tidak, dia bukan pemuda melainkan sontoloyo (konyol, tidak beres, dan bodoh).

Demikian kata Asdar Pamma, saat menjadi pembicara di forum diskusi publik yang dilaksanakan di Cafee Story, Jumat (26/4/2024) malam.

Dalam diskusi publik yang mengangkat tema “Peran Pemuda Dalam Politik” itu, Asdar dengan lantang mengemukakan dihadapan sejumlah pemuda yang hadir.

“Pemuda yang tidak kritis atau hanya apatis, itu namanya sontoloyo,” ujar Asdar Pamma, dihadapan sejumlah mahasiswa dan pemuda yang hadir pada dialog tersebut.

Kata Asdar, selain berjiwa kritis pemuda juga harus dapat memahami apa arti dari pada politik.

Asdar mendefinisikan bahwasanya politik merupakan suatu metode dalam merebut maupun mempertahankan kekuasaan.

“Pemuda yang ingin merebut kekuasaan maupun mempertahankan kekuasaan, adalah pemuda yang tengah berpolitik,” ujar Asdar Pamma.

Menurut dia, sejak lahir hingga masa tua, manusia sudah berkaitan dengan politik. Untuk itu Asdar meminta pemuda agar dapat memahami apa arti dari politik.

Dengan demikian politik tidak lagi menjadi momok buruk dimata pemuda, seperti yang terjadi saat ini.

Diskusi publik itu juga menghadirkan Wira Wirawan, anak mantan Bupati Kolaka Utara Rusda Mahmud sebagai pembicara.

Dipandu moderator Isni Nirwan, mantan calon anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dapil Jakarta Selatan itu menuturkan, pemuda dengan usia produktif memiliki peluang untuk bisa menjadi agent of change atau agen perubahan.

“Usia kita yang produktif seperti saat ini, memiliki peluang untuk bisa menjadi agent of change,” kata Wira.

Wira berbagi pengalamanya saat maju menjadi calon anggota DPRD Provinsi di DKI Jakarta. Kata dia, Jakarta merupakan kota besar yang sama sekali tidak pernah terpikir dibenaknya untuk maju merebut simpati masyarakat di Pemilu kemarin.

Namun karena tekatnya untuk menjadi agen perubahan, Ia mencoba mengadu nasib sebagai calon anggota DPRD Provinsi di kampung orang.

Berbekal dari pengalaman apa yang dia didapatkan selama ini, Wira paham jika terjun di dunia politik harus bisa mengambil simpati dan empati masyarakat.

Alhasil, meski tidak terpilih sebagai anggota legislatif, Wira berhasil memperoleh suara yang cukup signifikan. Dia memperoleh suara belasan ribu dari masyarakat.

Kata Wira maju dalam kanca perpolitikan tidak selamanya harus dibekali dengan modal yang besar.

“Banyak juga diluar sana yang terpilih menjadi anggota DPRD hanya dengan modal dikenal baik oleh masyarakat. Intinya, seorang pigur harus mampu beradaptasi dengan masyarakat,” katanya.

Sehingga Wira meminta pemuda untuk dapat beradaptasi di masyarakat jika ingin terjun didunia politik. Agar kos politik tidak begitu banyak keluar.

Wira menitip pesan kepada mahasiswa maupun pemuda yang hadir dalam diskusi itu, agar cerdas dalam memilih pemimpin kedepan.

“Saya berharap sebagai pemuda, teman-teman kedepan harus cerdas, utamanya dalam memilih pemimpin masa yang akan datang,” pungkas Wira.(*)

error: Content is protected !!