Vale Indonesia Dorong Kemandirian Petani Organik, Permintaan Beras Kolaka Terus Berkembang
Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi sekaligus perumusan strategi untuk memastikan praktik pertanian organik tidak hanya berorientasi pada metode budidaya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi dan kelembagaan petani secara berkelanjutan.
Lokakarya tersebut melibatkan petani binaan dan berbagai pemangku kepentingan. Rangkaian pertama pada 26 Oktober diikuti 50 petani binaan untuk mengidentifikasi pengalaman, pembelajaran, serta tantangan selama menerapkan metode PSRLB.
Hasil diskusi tersebut kemudian dibahas dalam pertemuan lanjutan pada 27 Oktober yang melibatkan 120 peserta dari unsur pemerintah, asosiasi petani, dan pemangku kepentingan lainnya.
Head of External Relations Regional and Growth Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan pengalaman petani menjadi modal penting dalam membangun model pertanian berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Menurutnya, pemberdayaan petani tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan teknis budidaya, tetapi juga harus diarahkan pada penguatan kemandirian dan kapasitas organisasi petani.
“Keberlanjutan program pertanian perlu bertumpu pada kemampuan petani untuk memahami, menerapkan, dan mengembangkan praktik yang sesuai dengan kondisi mereka. Melalui lokakarya ini, pengalaman petani menjadi bahan pembelajaran bersama untuk merumuskan rekomendasi dan langkah tindak lanjut, sehingga praktik PSRLB dapat terus berkembang serta didukung oleh kelembagaan petani yang semakin mandiri,” ujarnya.
Lokakarya tersebut turut melibatkan Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK), warga belajar dari empat kecamatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Baula dan Tanggetada.
Dari hasil pembahasan bersama petani, dirumuskan empat rekomendasi utama untuk memperkuat keberlanjutan program PSRLB.
Pertama, pembangunan sektor pertanian perlu berpedoman pada prinsip PSRLB dengan mengedepankan nilai-nilai ekologis dalam praktik usaha tani sehari-hari.
Kedua, pendidikan petani harus lebih menitikberatkan pada proses pemahaman dan penyadaran berbasis pengalaman. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun keyakinan petani untuk mengembangkan usaha tani secara mandiri.
Ketiga, pemulihan keseimbangan ekosistem perlu menjadi prioritas, terutama dalam memperbaiki kesehatan tanah yang terdampak penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara terus-menerus. Berdasarkan pengalaman petani, penurunan kualitas tanah dinilai turut berkontribusi terhadap kehilangan hasil panen.
Keempat, diperlukan program tindak lanjut yang terarah untuk melanjutkan tahapan pemberdayaan sekaligus memperkuat kelembagaan petani dengan mengedepankan prinsip kemandirian, produktivitas, kearifan, kesehatan, efisiensi, kelestarian, dan keberlanjutan.
Keempat rekomendasi tersebut selanjutnya disampaikan dalam forum bersama pemangku kepentingan sebagai bahan evaluasi dan penyusunan program lanjutan. Langkah ini diharapkan dapat menjembatani pengalaman petani dengan dukungan kelembagaan dan kebijakan pemerintah.
Empat Tahun Perjalanan Pertanian Organik
Pengembangan pertanian organik di Kecamatan Baula telah berjalan sejak awal 2022, khususnya di Desa Hubonga dan Desa Puuroda. Selama empat tahun terakhir, program tersebut mulai menunjukkan potensi dalam meningkatkan pendapatan petani sekaligus membuka peluang pasar bagi produk beras organik.
Camat Baula, Syahrial Darmawan, mengapresiasi kontribusi Vale Indonesia dalam mendukung pengembangan pertanian organik di wilayahnya.
Menurutnya, permintaan pasar terhadap beras organik cukup tinggi, tetapi ketersediaan produk masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas pengembangan usaha tani.
“Alhamdulillah, setelah empat tahun kita bisa melihat bagaimana potensi beras organik semakin berkembang dan turut meningkatkan pendapatan petani. Pasarnya sangat baik, tetapi permintaan masih cukup besar sementara ketersediaan stok terbatas. Harapan kami, pengembangan ini terus ditingkatkan melalui kerja sama antara Vale Indonesia dan petani, terutama untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan pasar,” kata Syahrial.
Ia menambahkan, pemerintah kecamatan turut memfasilitasi komunikasi antara petani dan Vale Indonesia guna menindaklanjuti berbagai kebutuhan pengembangan pertanian organik.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, termasuk Training of Trainers (ToT), diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan kemampuan petani dalam menerapkan metode PSRLB.
Petani Ubah Limbah Menjadi Sumber Pendapatan
Manfaat perubahan praktik pertanian juga dirasakan langsung oleh Indah, salah seorang petani yang mengembangkan pertanian organik.
Ia mengaku sempat menghadapi tantangan ketika mulai beralih dari penggunaan pupuk kimia menuju pemanfaatan bahan-bahan alami. Namun, melalui proses adaptasi, ketekunan, dan dukungan pelanggan, ia mulai merasakan manfaat ekonomi dari sistem pertanian tersebut.
“Dulu saya sempat penasaran, apakah hanya dengan bahan-bahan alami dan rerumputan tanaman bisa tumbuh sehat. Sekarang saya bisa membuat pupuk organik dari bahan yang sebelumnya terbuang menjadi bermanfaat. Saya juga bisa menjual kompos dan tanaman dari pekarangan rumah. Sesuatu yang awalnya tidak menghasilkan, sekarang bisa menjadi sumber pendapatan,” tutur Indah.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa peralihan menuju pertanian organik membutuhkan proses, pendampingan, serta dukungan akses pemasaran. Selain meningkatkan keterampilan budidaya, kepercayaan konsumen juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha petani.
Melalui lokakarya PSRLB, Vale Indonesia berharap pengalaman dan pengetahuan petani dapat menjadi dasar dalam menyusun program pemberdayaan yang lebih terarah.
Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, asosiasi, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kelembagaan petani organik, memperluas penerapan pertanian ramah lingkungan, serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah pemberdayaan.
Dengan demikian, pengembangan pertanian organik tidak hanya menjadi upaya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi terciptanya sistem pertanian yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.Dek







