Vale Indonesia Buka Peluang Vendor Lokal Kolaka Masuk Rantai Pasok Proyek IGP Pomalaa

waktu baca 4 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui sosialisasi prakualifikasi vendor lokal di Gedung Serbaguna Hotel Sutan Raja, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan pelaku usaha dari lima wilayah pemberdayaan IGP Pomalaa, yakni Kecamatan Tanggetada, Pomalaa, Baula, Wundulako, dan Kolaka. Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai mekanisme pendaftaran, verifikasi, persyaratan administrasi, hingga tahapan yang harus dipenuhi calon vendor sebelum mengikuti proses tender.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan penguatan kapasitas dan kesiapan pelaku usaha lokal merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperluas manfaat ekonomi proyek bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Menurut dia, keterbukaan informasi dan kesetaraan akses menjadi aspek penting agar perusahaan lokal memiliki kesempatan untuk terlibat dalam rantai pasok proyek.

“Kami ingin memastikan pelaku usaha lokal memiliki akses terhadap informasi yang sama dan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam rantai pasok IGP Pomalaa. Melalui proses yang transparan dan terukur, kami berharap semakin banyak perusahaan lokal yang mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan dan tumbuh bersama perkembangan proyek ini,” kata Rifai.

Ia menambahkan, keterlibatan vendor lokal tidak hanya mendukung kebutuhan pelaksanaan proyek, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan dan berdaya saing di Kabupaten Kolaka.

“Pengembangan kapasitas vendor lokal merupakan investasi jangka panjang. Kami ingin mendorong terciptanya pelaku usaha yang semakin profesional, kompetitif, serta mampu memenuhi aspek keselamatan, kualitas, dan tata kelola yang menjadi standar dalam operasional Vale Indonesia,” ujarnya.

Sosialisasi tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya bersama pengurus asosiasi pengusaha. Pada kesempatan ini, Vale Indonesia memperluas penyampaian informasi dengan melibatkan anggota dari sembilan asosiasi agar pemahaman mengenai ketentuan prakualifikasi dapat diterima secara lebih merata.

Dalam kegiatan itu, perusahaan memaparkan mekanisme prakualifikasi secara menyeluruh, mulai dari persyaratan administrasi dan legalitas, kapabilitas teknis, hingga aspek keselamatan kerja.

Penyampaian informasi tersebut diharapkan membantu pelaku usaha menyiapkan dokumen dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan sejak tahap awal.

Vale Indonesia menegaskan, prakualifikasi merupakan tahapan awal dalam proses pengadaan. Perusahaan yang dinyatakan memenuhi persyaratan dapat mengikuti tender sesuai kebutuhan proyek dan ketentuan yang berlaku.

Namun, kelulusan prakualifikasi tidak secara otomatis menjamin perusahaan memperoleh kontrak pekerjaan. Penetapan pemenang tender tetap mempertimbangkan kebutuhan bisnis, ruang lingkup pekerjaan, kemampuan teknis, aspek keselamatan, penawaran komersial, serta prinsip tata kelola perusahaan.

Pengusaha lokal sambut sosialisasi prakualifikasi

Ketua Asosiasi Pengusaha Bumi Mekongga (APBM) yang juga Direktur PT Putra Mekongga Utama, Madi, mengapresiasi sosialisasi tersebut karena dinilai memberikan kejelasan kepada pengusaha lokal mengenai mekanisme untuk masuk dalam rantai pengadaan IGP Pomalaa.

Menurutnya, prakualifikasi menjadi kesempatan bagi pelaku usaha daerah untuk meningkatkan kesiapan, melengkapi legalitas, serta memperkuat profesionalisme perusahaan sebelum mengikuti tender.

“Kami mengapresiasi pelaksanaan prakualifikasi ini. Momentum tersebut memberikan kesempatan kepada kontraktor lokal untuk mempersiapkan diri dan berkompetisi secara sehat melalui proses yang adil dan terbuka,” ujar Madi.

Ia berharap komunikasi dan sinergi antara Vale Indonesia, asosiasi, dan pelaku usaha lokal terus diperkuat guna menciptakan iklim usaha yang kondusif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka.

Apresiasi serupa disampaikan anggota Asosiasi Kontraktor Jasa Pertambangan Pomalaa (ASKOJAPP) yang juga Direktur PT Bija, Alfian. Ia menilai sosialisasi tersebut memberikan arahan yang lebih jelas bagi pengusaha daerah yang ingin menjadi vendor Vale Indonesia.

“Inisiatif Vale Indonesia menggelar sosialisasi dan prakualifikasi vendor lokal patut diapresiasi. Selain membuka akses terhadap peluang usaha, kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai persyaratan dan tahapan untuk menjadi vendor,” kata Alfian.

Alfian berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan pendampingan dan peningkatan kapasitas sehingga semakin banyak perusahaan lokal mampu memenuhi persyaratan pengadaan.

“Kami berharap Vale Indonesia dapat terus memberikan pendampingan kepada pengusaha dan asosiasi lokal sehingga semakin banyak perusahaan daerah yang siap mengikuti proses pengadaan secara profesional dan kompetitif,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, Vale Indonesia mendorong peningkatan kesiapan pelaku usaha lokal agar dapat berpartisipasi dalam rantai pasok proyek secara profesional, kompetitif, dan sesuai standar perusahaan.

PT Vale Indonesia Tbk merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1968. Perusahaan ini merupakan bagian dari Grup MIND ID bersama Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining serta tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Vale Indonesia menjalankan kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, serta mengembangkan sejumlah proyek pertumbuhan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara untuk mendukung hilirisasi dan penguatan rantai nilai nikel nasional.

Perusahaan menyatakan berkomitmen menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dengan mengintegrasikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik dalam kegiatan operasional maupun pengembangan bisnisnya.(*)