Transformasi Pesisir Kolaka: Nutrikukis dan Teknologi Digital Lawan Stunting

waktu baca 4 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – Di tepi pesisir Desa Muara Lapao-Pao, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, suasana dapur sederhana tampak sibuk.

Sekelompok perempuan menimbang adonan, menata loyang, dan memasukkan “nutrikukis” ke dalam oven kecil. Tak jauh dari sana, kader posyandu mencatat berat badan balita melalui ponsel pintar. Pemandangan itu menjadi wajah baru desa pesisir yang dulu bergantung penuh pada hasil laut dan tengkulak.

Inovasi ini lahir dari Program Kosabangsa 2025: Pemberdayaan Masyarakat Zona Aktif Pertambangan dalam Penanganan Stunting melalui Integrasi Teknologi Gizi Nutrikukis dan Neurolearning di Kabupaten Kolaka.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Sembilanbelas November Kolaka (USN Kolaka) bersama Universitas Halu Oleo (UHO), dengan dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi senilai Rp260,1 juta.

Dari Tambang ke Tantangan Baru

Desa Muara Lapao-Pao berada di kawasan pertambangan aktif. Sejak tambang beroperasi pada 2013, hasil tangkapan ikan menurun drastis dan banyak keluarga nelayan kehilangan sumber penghasilan tetap.

“Pendapatan rata-rata keluarga nelayan hanya sekitar satu juta rupiah per bulan, itu pun tidak menentu,” tutur Dr. Roslina, S.S., M.Hum, Ketua Tim Pelaksana Program Kosabangsa 2025.

Kondisi tersebut diperburuk dengan meningkatnya kasus stunting akibat keterbatasan asupan gizi dan layanan posyandu. Program Kosabangsa hadir untuk membangun kemandirian masyarakat dari bawah, dengan fokus pada dua mitra utama: Posyandu Anggrek Bulan dan Kelompok Wanita Nelayan Teppoe.

Posyandu difokuskan pada peningkatan kapasitas layanan kesehatan berbasis teknologi, sedangkan kelompok wanita nelayan diarahkan mengembangkan ekonomi produktif berbasis hasil laut.

Posyandu Digital dan Pendekatan Neurolearning

Salah satu inovasi utama adalah digitalisasi layanan posyandu berbasis pendekatan neurolearning STIFIn. Melalui aplikasi ini, kader dapat mencatat data ibu hamil dan balita secara cepat tanpa buku manual.

Selain itu, pelatihan konseling gizi berbasis karakter membantu kader memahami cara komunikasi efektif dengan para ibu balita.

“Pendekatan neurolearning membuat ibu balita stunting memahami perilaku anak dan cara menyikapinya. Mereka belajar bahwa setiap orang punya cara belajar dan merespons informasi yang berbeda,” jelas Roslina.

Hasilnya, dalam dua bulan, 85 persen kader posyandu mampu menggunakan aplikasi digital secara mandiri. Angka stunting turun dari 26 menjadi 15 anak. Bagi masyarakat desa, teknologi kini menjadi jembatan perubahan nyata.

Limbah Ikan Jadi Pupuk dan Kue Bergizi

Tak kalah menarik, Kelompok Wanita Nelayan Teppoe yang beranggotakan 25 perempuan kini bertransformasi. Dulu hanya mengolah ikan asin dengan keuntungan tipis, kini mereka memproduksi nutrikukis bulu babi, abon ikan, dan bakso ikan.

“Inovasi ini menggunakan gonad landak laut yang kaya protein dan omega-3, dan sudah terdaftar dengan nomor paten IDS000004771,” ungkap Prof. Dr. Wa Ode Salma, M.Kes, ketua tim pendamping program.

Produk nutrikukis ini memiliki kandungan gizi tinggi: 458 Kkal energi, 8,7% protein, 2,62 mg vitamin E, dan 2,63 mg zat besi per 100 gram. Makanan ini dirancang sebagai alternatif pangan tambahan untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah kekurangan gizi.

Selain itu, kelompok wanita juga mengolah limbah ikan menjadi pupuk organik cair untuk kebun gizi desa. Siklus ekonomi sirkular pun terbentuk—limbah laut kembali memberi manfaat bagi tanah dan tanaman.

Berkat pelatihan pengemasan dan pemasaran digital, kini produk mereka dipasarkan di Pasar Sore Woloyang dan melalui media sosial. Pendapatan bulanan anggota kelompok meningkat dari Rp1,2 juta menjadi Rp2,1 juta per orang.

“Sekarang kami tidak lagi bergantung pada tengkulak. Kami punya usaha sendiri,” ujar Bandri, anggota kelompok, dengan senyum bangga.

Kolaborasi yang Menguatkan

Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Mahasiswa berperan aktif dalam digitalisasi posyandu dan pendampingan produksi, pemerintah desa menyediakan fasilitas pelatihan, sementara LPPM USN Kolaka mengoordinasikan administrasi dan pendanaan.

“Kami ingin menciptakan model pemberdayaan yang bisa direplikasi di desa pesisir lain,” tambah Roslina.

Model integratif ini tidak hanya meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat untuk mandiri. Teknologi kini bukan ancaman, melainkan alat memperkuat tradisi dan potensi lokal.

Harapan yang Tumbuh di Pesisir

Kini, setiap kali angin laut bertiup membawa aroma asin dan suara anak-anak bermain di halaman posyandu, masyarakat Muara Lapao-Pao punya alasan untuk tersenyum. Desa yang dulu dikenal miskin dan tertinggal, kini berubah menjadi contoh sukses pemberdayaan berbasis teknologi dan kearifan lokal.

“Kami tidak ingin hanya menjadi penerima bantuan. Kami ingin tumbuh bersama, dengan kemampuan kami sendiri,” ujar Husniati, Ketua Kader Posyandu.

Di tengah derasnya arus globalisasi, kisah Muara Lapao-Pao menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana — dari sepotong nutrikukis, sebotol pupuk cair, dan semangat belajar hal baru.

  • Editor: Dekri