Tradisi Kadiu Ano Liwu Warnai Tahun Baru Islam di Baubau, Simbol Doa Keselamatan dan Pelestarian Budaya

waktu baca 3 menit

BAUBAU, TRIASPOLITIKA.ID – Tradisi adat Kadiu Ano Liwu kembali digelar masyarakat Kelurahan Lowu-Lowu, Kecamatan Lea-Lea, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, dalam rangka menyambut 1 Muharram atau Tahun Baru Islam.

Ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-18 itu menjadi simbol permohonan keselamatan, keberkahan, sekaligus pelestarian budaya masyarakat bekas Kesultanan Buton.

Sekretaris Daerah Kota Baubau, Laode Darusalam, yang hadir mewakili Wali Kota Baubau, mengatakan Kadiu Ano Liwu merupakan tradisi luhur yang sarat makna karena memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan budaya lokal yang diwariskan para leluhur.

“Hari ini kita kembali menyaksikan indahnya perpaduan antara ajaran agama Islam yang suci dengan keluhuran adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur kita.

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan atau tontonan semata, tetapi cerminan spiritualitas yang mendalam dan kesadaran kolektif masyarakat sebagai makhluk ciptaan Tuhan,” kata Laode Darusalam.

Ia memberikan apresiasi kepada masyarakat, tokoh adat, serta panitia penyelenggara yang terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

Menurutnya, Kadiu Ano Liwu menjadi salah satu kekayaan budaya yang memperkuat identitas Kota Baubau sebagai daerah yang religius dan berbudaya.

Darusalam menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan pelaksanaan salat, zikir, dan doa bersama selama tujuh malam berturut-turut di Masjid Jami Ar-Rahman.

Melalui kegiatan itu, masyarakat memanjatkan doa dengan tiga tujuan utama, yakni memohon perlindungan dari berbagai bencana dan musibah, mensucikan diri lahir dan batin, serta berharap terbukanya pintu-pintu rahmat dan keberkahan di tahun baru Hijriah.

“Pemerintah Kota Baubau sangat mendukung kelestarian adat seperti ini. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan silaturahmi yang tercipta selama pelaksanaan kegiatan menjadi energi positif untuk membangun daerah,” ujarnya.

Ketua Panitia Kadiu Ano Liwu, Josran, mengatakan pelaksanaan ritual tersebut bertujuan melestarikan budaya leluhur sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat.

“Ritual ini merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat,” katanya.

Menurut Josran, kegiatan tersebut juga melibatkan peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara yang turut hadir untuk mengikuti rangkaian prosesi adat.

Sementara itu, Sekretaris Komunitas Adat Kelurahan Lowu-Lowu, Burhan, menjelaskan bahwa Kadiu Ano Liwu secara harfiah berarti memandikan atau membersihkan kampung. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap 1 Muharram dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Burhan menuturkan, sebelum ritual mandi massal dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu mengikuti zikir dan doa bersama selama tujuh malam di Masjid Jami Ar-Rahman, masjid tertua di Kelurahan Lowu-Lowu.

Kegiatan itu dipimpin imam masjid dan diikuti tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat umum.

Dalam pelaksanaannya, zikir dan doa dimulai sekitar pukul 22.00 Wita hingga menjelang subuh. Menjelang tengah malam, lampu masjid dipadamkan untuk menciptakan suasana yang lebih khusyuk dan sakral.

Setelah rangkaian doa selesai, masyarakat berkumpul di sebuah kolam mata air yang dikenal dengan sebutan “Topa”. Di lokasi itulah prosesi Kadiu Ano Liwu dilaksanakan.

Ritual diawali dengan pembacaan doa tolak bala oleh imam atau tokoh agama. Selanjutnya, peserta menerima siraman air sebagai simbol penyucian diri dan harapan agar terhindar dari berbagai bencana serta malapetaka.

Salah satu keunikan tradisi tersebut adalah kebiasaan warga membawa pulang air dari kolam Topa dalam botol. Air tersebut diyakini sebagai simbol ikhtiar dan doa untuk keselamatan keluarga.

Usai prosesi mandi massal, masyarakat melanjutkan kegiatan syukuran melalui ritual haroa, yakni pembacaan doa bersama yang disertai sajian makanan dan kue tradisional khas daerah yang ditempatkan dalam wadah kuningan bernama tala.

Doa haroa dipimpin imam masjid dengan harapan masyarakat memperoleh rahmat, karunia, rezeki, serta perlindungan dari berbagai bencana sepanjang tahun yang baru.

Rangkaian haroa sekaligus menandai berakhirnya seluruh prosesi Kadiu Ano Liwu, sebuah tradisi yang hingga kini tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lowu-Lowu di Kota Baubau.

  • Reporter: Ahmad