oleh

Mahasiswa Tolak Invasi Alfamidi di Baubau

-BAUBAU-1.435 views

BAUBAU, TP – Sejumlah aktivis mahasiswa di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menolak keras invasi supermarket Alfamidi di wilayah Koata Baubau.

Menurut mereka, hadirnya Alfamidi di wilayah tersebut dinilai sangat bertentangan dengan falsafah PO-5 yang terdiri dari Po Ma-masiaka yang berarti saling menyayangi, Po Pia-piara yang berarti saling memelihara, Po Mae-maeaka yang berarti saling menghargai, Po Angka-angkataka yang berarti saling mengangkat harkat, serta Po Binci-binciki kuli yang berarti toleransi.

Selain bertentangan dengan falsafah diwilayah tersebut, mahasiswa juga menilai hadirnya Alfamidi dapat menyebabkan turunya omset para pedagang kaki lima. Sebab, jaringan toko swalayan tersebut sangat berpotensi untuk memonopoli perekonomian masyarakat kota Baubau.

”Terutama pedagang eceran, pedagang kaki lima seperti, ”ina-ina” (Ibu-ibu pedagang kecil) yang harus melepas dagangan akibat omsetnya turun,” ujar ketua Gerakan Mahasiswa Wabula, Arif Rahman pada triaspolitika.id.

Apa lagi kata mahasiswa, dalam Peraturan Daerah tentang RTRW sudah menegaskan soal wilayah pembangunan Pusat pasar modern yang berpusat di wilayah Kecamatan Betoambari dan Kecamatan Wolio.

Minimarket Alfamidi rencananya bakal dibangun 19 unit dibeberapa kecamatan di Baubau, 9 unit di Kecamatan Betoambari dan 10 unit di Kecamatan Wolio.

Ketua Gerakan Mahasiswa Wabula, Arif Rahman

Dikatakannya, pembangunan Alfamidi boleh saja, asalkan dapat sejalan dengan prinsip kearifan lokal serta falsafah PO-5. ”Kami bukannya mau menolak modernisasi pasar, hanya saja kondisi tersebut harus sejalan dengan prinsip kearifan lokal falsafah PO-5,” terang Arif.

Dikatakan Arif, hadirnya Alfamidi memang dapat menciptakan lapangan pekerjaan, akan tetapi supermarket tersebut juga dapat menghancurkan perekonomian UMKM, PKL serta masyarakat lokal.

“Seharusnya yang dipikirkan Pemerintah Kota Baubau yaitu, menggenjot para pelaku usaha lokal, agar dapat mewujudkan ekonomi kerakyatan yang sesuai dengan kearifan lokal. Dengan begitu kesejahteraan dapat terwujud tanpa intervensi dari kaum neoliberalisme,” katanya.

Arif berkaca pada pembangunan Lippo Plazza Buton yang menyebabkan turunnya omset pendapatan warga kota Baubau yang Berusaha di Laelangi dan Umna plazza Wolio.

Arif juga ikut menyayangkan sikap LMND Baubau yang telah mendukung kehadiran Alfamidi di wilayah tersebut. “Setahu saya LMND harusnya berada dalam garis terdepan untuk menolak keras sistem neoliberalisme,” jelas Arif.

Rencana pembangunan 19 unit Alfamidi di Kota Baubau juga belum mendapat restu sepenuhnya dari pemerintah setempat, ironisnya tokoh swalayan tersebut sudah membangun 3 unit di wilayah tersebut.

Untuk itu, Arif meminta seluruh mahasiswa serta masyarakat Kota Baubau dapat bahu membahu untuk menolak kehadiran Alfamidi yang potensinya dapat melahirkan monopoli perdagangan di Baubau.

“Baubau ini harus sejahtera masyarakat nya, sebagaimana cita-cita UUD 1945 dan Pancasila,” imbuhnya.

Kota Baubau belum tepat dijadikan era ekonomi modern. Sebab, kota tersebut masih melekat dengan nuansa kerakyatan. ”Artinya pangsa pasar masih disini oleh rakyat dengan ekonomi menengah kebawah. Marih kita jaga dengan membangkitkan ekonomi rakyat, sebab kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab negara dalam hal ini Pemkot yang patut pro aktif,” pungkasnya.

Reporter: Atul

Komentar

HUKUM KRIMINAL