Impian Letkol Inf. Risa, Bangun Panti Asuhan Santuri

waktu baca 10 menit

Kelak Menciptakan Putra Putri Penerus Bangsa

Sedihnya dibalut gembira, pada wajah pria bernama Risa Wahyu Pudji Setyawan. Pria berpangkat Letnan Kolonel Infanteri itu, baru saja berhasil wujudkan impiannya sejak dulu, saat masih berpangkat Mayor. Dia membangun Panti Asuhan di Kolaka Utara, tampung 40 orang anak yatim piatu.

Penulis  : Dekri Adriadi

Wartawan : Kolaka

Risa Wahyu Pudji Setyawan, mungkin tak pernah mengira, jika apa yang dia impikan sejak dulu, kini bisa tercapai di Kolaka Utara. Wilayah yang saat ini menjadi teritorial nya.

Tapi inilah impian Risa Wahyu Pudji Setyawan, membangun Panti Asuhan yang representatif, berbagi kebahagiaan, bersama dengan 40 orang anak yatim piatu disana.

Panti Asuhan Santuri.  Panjangnya Sayang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santuri adalah nama Panti Asuhan hasil gagasan pria dengan dua bunga melati emas dipundak. Panti Asuhan tersebut, terletak di Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pria 42 tahun, yang saat ini menjabat sebagai Komandan Kodim 1412/Kolaka itu, membangun Panti Asuhan diatas lokasi dengan volume 1.800 meter.

Di Panti Asuhan Santuri dibangun dua barak, setiap barak terdapat beberapa ruangan, masing-masing ruangan dapat menampung 20 orang anak yatim piatu. Selain dua barak, di Panti Asuhan Santuri juga terdapat bangunan besar yang terletak  dibagian tengah, nantinya akan difungsikan sebagai ruang belajar, ruang rekreasi, dan kantor atau tempat administrasi anak yatim piatu. Sedangkan pada bagian belakan juga ada bangunan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang makan.

Menyelisik Panti Asuhan Santuri  

Dibangun dengan semangat NKRI Harga Mati , Panti Asuhan yang juga terletak di area kakao center Kolaka Utara itu, merupakan buah tangan dari Komandan Kodim 1412/Kolaka, Letkol Inf. Risa Wahyu Pudji Setyawan, Bs. M.Han bersama seluruh prajurit TNI Angkatan Darat.

Seperti namanya, Sayang Negara Kesatuan Republik Indonesia, Panti Asuhan Santuri,  dibangun oleh puluhan prajurit TNI AD yang bertugas di wilayah teritorial Kodim 1412/Kolaka.

Disana terlihat sejumlah pria berbadan kekar dengan penuh keringat, membasahi wajah serta tubuhnya. Mereka adalah prajurit TNI AD yang bertugas di Kodim 1412/Kolaka. Prajurit itu tengah menyusun batu bata untuk menyelesaikan bangunan Panti Asuhan Santuri.

Disana, terlihat juga beberapa warga yang tengah membantu prajurit TNI menyelesaikan pembangunan Panti Asuhan Santuri. Warga setempat bahkan tidak tanggung-tanggung untuk membuat kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 orang.

‘’Ada 10 orang dari masyarakat setempat, setiap harinya mereka datang bantu Prajurit TNI menyelesaikan pembangunan Panti Asuhan,’’ujar Rustam warga setempat yang juga ikut membantu pembangunan Panti Asuhan Santuri.

Kata Rustam Panti Asuhan Santuri saat ini sudah mencapai pada progres 70 persen. Lokasi Panti Asuhan tersebut kata Rustam, adalah milik orang tua Rahmat, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Ponggiha.

Lokasi Panti Asuhan Dihibahkan

Lokasi tersebut dihibahkan pada pribadi Dandim 1412/Kolaka, untuk pembangunan Panti Asuhan. Sementara itu Rahmat selaku anak dari pemilik lokasi  tersebut bercerita, jika sang ayah memang sudah berniat sejak lama akan menghibahkan lokasinya jika ada orang yang siap membangun rumah ibadah, pesantren, ataupun Panti Asuhan di lokasi tersebut.

Sebelumnya kata Rahmat, lokasi tersebut sudah pernah dihibahkan pada Jamaah Tabligh oleh sang ayah, untuk pembangunan rumah ibadah Musala. Namun, Jamaah Tabligh tersebut mengembalikan lokasi itu, dengan alasan tidak dapat membangun Musalah, sebab jarak lokasi dengan Musalah warga sangat dekat hanya sekitar 300 meter saja.

Niat Ayah Rahmat untuk menghibahkan lokasinya demi kemaslahatan umat akhirnya tertunda. Hingga akhirnya suatu ketika Rahmat mendapat kabar dari Babinsa Desa Ponggiha, jika Komandan Kodim 1412/Kolaka sedang mencari lokasi untuk pembangunan Panti Asuhan.

‘’Babinsa itu cerita sama saya, Pak Dandim lagi cari lokasi untuk dibeli, katanya untuk pembangunan Panti Asuhan,’’ kata Rahmat.

Usai mendengar berita tersebut, Rahmat kemudian bergegas menuju rumah ayahnya untuk menyampaikan kabar mulia itu. Ayah Rahmat gembira mendengar kabar tersebut, akhirnya niat mulia menghibahkan lokasinya guna kemaslahatan umat sebentar lagi terwujud.

Kedua orang dermawan itu akhirnya dipertemukan. Komandan Kodim1412/Kolaka didmpingi Danramil 1412-03/Lasusua, sedangkan Rahmat beserta saudaranya mendampingi kedua orang tuanya kala itu.

Pada pertemuan tersebut, Risa Wahyu Pudji Setyawan selaku Dandim 1412/Kolaka menceritakan niatnya pada keluarga Rahmat, jika ia sedang mencari lokasi untuk dibeli guna pembangunan Panti Asuhan.

Risa mengatakan jika ia sudah mencari lokasi di Kabupaten Kolaka Timur dan Kolaka, namun sayang, ia belum menemukan lokasi seperti yang ia cari, yaitu lokasi dengan volume 1.500 meter.

Mendengar niat Dandim 1412/Kolaka yang begitu tulus, ayah Rahmat kemudian menyampaikan, jika Ia siap menghibahkan tanahnya untuk pembangunan Panti Asuhan.

Orang tua Rahmat beserta keluarga lainya pun bersepakat untuk membuat surat hibah lokasi guna pembanguan Panti Asuhan. Lokasi tersebut kemudian dihibahkan atas nama Risa Wahyu Pudji Setyawan, yang tak lain Dandim 1412/Kolaka.

Rahmat beserta keluarganya sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya Dandim 1412/Kolaka yang memiliki niat baik untuk membangun Panti Asuhan di Kolaka Utara.

Keluarga Rahmat merasa bangga pada Dandim 1412/Kolaka, karena kecintaannya terhadap wilayah yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, memiliki niat mulia membangun Panti Asuhan yang begitu luas dan kokoh serta layak.  Padahal kata Rahmat,  Dandim 1412/Kolaka bukan asli pribumi Sulawesi Tenggara.

Kata Rahmat, Panti Asuhan Santuri merupakan panti Asuhan pertama di Kabupaten Kolaka Utara. Untuk itu, Rahmat beserta orang tuanya berharap dengan adanya Panti Asuhan Santuri di Kolaka Utara, anak yatim piatu tidak di wilayah itu, tidak lagi meninggalkan Kolaka Utara.

Niat Risa Membangun Panti Asuhan  Sejak Masih Berpangkat Kapten

Niat Risa sendiri untuk membangun Panti Asuhan ternyata sudah cukup lama, sejak ia masih berpangkat Kapten menuju Mayor.

Kala itu, ia masih bertugas di wilayah DKI Jakarta.  Risa kerap berinteraksi dengan beberapa anak-anak jalanan. Hingga kemudian Komandan Kodim 1412/Kolaka itu, mencari tahu asal usul para anak jalanan tersebut.

Ternyata Risa mendapat keterangan pada beberapa anak jalanan, jika selain keterbatasan ekonomi orang tua, banyak juga diantara anak jalanan itu berstatus yatim piatu.

”Banyak diatara mereka (anak jalanan) memiliki potensi yang luar biasa, hanya saja karena keterbatasan ekonomi memaksa mereka untuk tinggal di jalanan untuk mencari rezki agar dapat bertahan hidup,” kata Letkol Inf. Risa.

Terkadang beberapa diantara anak itu kata dia, terjerumus pada kegiatan yang tidak terpuji dan tercela, akaibat pengaruh kurang baik.

Risa akhirnya berniat suatu saat nanti jika diberikan amanah serta rezki yang cukup, ia bakal membangun Panti Asuhan, agar tidak begitu banyak lagi anak putus akan harapan dan cita-citanya.

Risa Waktu SD Jualan Es Lilin, SMP Lover Koran

Berangkat dari pengalamannya sewaktu masih duduk di sekolah dasar, Risa sadar sebulum seperti saat ini, ia juga terlahir dari keluarga kurang mampu.

Untuk dapat menghasilkan uang, Risa harus jualan Es lilin di beberapa lampu merah serta disekolahnya di SD Purworejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur saat itu.

Tidak hanya saat masih duduk dibangu sekolah dasar saja, Risa juga tetap membantu orang tuanya saat sudah duduk dibangu sekolah menengah pertama di SMPN 1 Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

”Kebetulan saat itu saya masuk belajar di siang hari, sehingga di pagi harinya saya manfaatkan untuk jualan koran, agar dapat menghasilkan uang bantu orang tua untuk biaya sekolah,” pilu Risa.

Risa teringat kala itu ia dapat menggapai cita-citanya hingga seperti saat ini berkat orang-orang dermawan yang membantunya.

Panti Asuhan Santuri Diharapkan  Menciptakan Generasi Pemimpin Nasional

Risa berharap di Panti Asuhan Santuri nantinya dapat menciptakan generasi pemimpin nasional seperti sekolahnya dulu di SMU Taruna Nusantara.

Panti Asuhan Santuri kata Risa, dibangun bukan semata-mata untuk anak yang beragama Islam saja, namun sangat dimungkinkan agama lain juga diterima di Pantiasuhan Santuri.

”Panti Asuhan Santuri bukan khusus anak muslim saja, namun mereka yang memeluk agama lain juga dimungkinkan untuk ada di Panti Asuhan tersebut, asalkan ada potensi yang dimiliki terhadap anak itu,” kata Risa Wahyu.

Panti Asuhan Santuri nantinya bakal dihuni oleh 40 orang anak yatim piatu. Untuk biaya anak yatim piatu di Panti Asuhan Santuri nantinya,  Risa telah menyediakan lahan seluas 2Ha yang siap diolah untuk mendukung biaya operasional sehari-hari 40 orang anak yatim piatu.

Pria alumni SMU Taruna Nusantara itu berharap, Panti Asuhan Santuri kedepan dapat menciptakan generasi pemimpin nasional yang baik untuk bangsa dan negara, lahir dari Bumi Mekongga.

Seperti SMU Taruna Nusantara dalam skala kecil, kebetulan beliau juga alumni SMU tersebut yang lulus pada tahun 1997.

”Kita berusaha betul-betul membuat anak pantiasuhan merasa nyaman disitu. Karena rencana kami kedepan, bakal mengembangkan potensi yang dimiliki anak yatim piatu melalui Panti Asuhan Santuri,” jelas Dandim 1412/Kolaka itu.

Selain itu, melalui Panti Asuhan santuri, Risa bakal memberikan kesempatan, kasih sayang, serta kesejahteraan terhadap anak yatim piatu selayaknya anak yang mempunyai kedua orang tua.

Bangun Panti Asuhan Juga Niat Risa dan Istri

 

 

Bekal dari pengalamanya yang begitu sulit, Risa bersama sang istri akhirnya berniat, jika suatu ketika diberikan amana dan rezki yang cukup, Risa bakal membalas kebaikan orang-orang yang pernah membantunya yang saat ini sudah tiada, dengan cara membangun Panti Asuhan.

”Saya pernah berniat bersama istri, jika suatu saat saya diberi amanah menjadi Komandan Kodim dimanapun itu, saya akan membangun Panti Asuhan,” kata Risa.

Dan akhirnya niat baik Risa dijaba oleh Allah SWT. Risa diberi kesempatan untuk menjabat sebagai Komandan Kodim 1412/Kolaka.

Risa Awal Tugas di Kodim 1412/Kolaka

Menjadi Prajurit TNI rupanya cita-cita Risa sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga keberhasilannya menyelesaikan sekolah menengah atas di SMU Taruna Nusantara saat itu.

Sebelum menjabat sebagai Dandim 1412/Kolaka, Risa adalah Komandan Batalion Infantri Para Raider 501/Bajra Yudha yang berkedudukan di Madiun, Jawa Timur, dibawa Brigade Infanteri Para Raider 18/Trisula divisi 2 Kostrad di Malang.

Tidak pernah terlintas dipikiran pria satu orang anak itu, jika bakal menjadi Komandan Kodim 1412/Kolaka dibawa Korem 143/Haluoleo Kodam XIV/Hasanuddin.

Sebab, ia sendiri sama sekali belum mengetahui tentang wilayah Kolaka. Karena selama hampir 14 tahun Risa bertugas di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Kata Risa baru mengetahui Kolaka setelah mendapat surat perintah untuk menjadi Komandan Kodim 1412/Kolaka. Saat itu barulah Risa mempelajari Geo, Demo dan Konsos wilayah Kabupaten Kolaka. Geo (lahan berkurang karena perumahan dan kepentingan lain), Demo (manusia terus bertambah) dan Konsos (berubah secara global).

”Ternyata Kodim 1412/Kolaka memiliki tanggung jawab terhadap tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur,” kata Risa.

Pada bulan pertama bertugas sebagai Komandan Kodim 14121/Kolaka, Risa mulai mempelajari wilayah dengan cara berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Risa sangat takjub dengan Kolaka, kata Risa, secara geografis potensi yang dimiliki Kolaka raya yang terdiri dari tiga kabupaten itu, sangat luar biasa.

Baik itu ditinjau dari sumber daya alam, seperti Perikanan, Pertanian, Perkebunan, Pariwisata, maupun Pertambangan, semuanya sangat luar biasa.

Begitupun masyarakat yang mendiami wilayah tersebut, kata Risa juga memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa, apabila diberi kesempatan untuk berkembang, dengan kreatifitas dan inovasi yang ada. Risa bercita-cita bakal memberikan yang terbaik untuk Kolaka Raya kedepan.

Kunci Prajurit TNI Hidup Diatas Kebanggaan dan Kehormatan

Seperti prinsipnya, kunci bagi seorang prajurit TNI kata Risa harus hidup diatas kebanggaan dan kehormatan. Apalagi saat ini prajurit tengah dihadapkan dengan tantangan era yang sangat luar biasa, dengan berbagai godaan cukup luar biasa, dengan globalisasi yang ada.

Risa yakin jika setiap jabatan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya bakal mampu ia jalankan. ”Saya yakin bahwa Allah SWT tidak akan memberikan amanah, serta jabatan yang tidak sanggup saya jalankan. Saya serahkan semuanya pada Allah,” kata Risa.

Untuk itu dengan amanah yang ia terima, Risa berjanji bakal melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Risa akan terus berusaha memberikan karya yang terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara.

”Prinsip saya sebagai prajurit TNI, kerap saya sampaikan pada anggota, bahwasanya kita hidup, kita bertugas, kita bekerja ditengah-tengah masyarakat. Karena memang Tentara lahir dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Untuk itu, kita harus bisa menjadi Mata Air bagi Masyarakat, dan jangan pernah menjadi Air Mata bagi mereka,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

Sudah ditampilkan semua