Catatan Mudik dan Balik seorang Mahasiswa (Dermaga Perpisahan: Antara Kenangan dan Perjuangan)
- Oleh: Surachman (Dekan Fakultas Teknik Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Muhammadiyah Muna Barat)
Menatap dermaga pagi ini, ingatan saya terseret jauh ke belakang—sekitar dua dekade silam. Di masa itu, saya adalah seorang mahasiswa yang harus memikul tas punggung, bersiap meninggalkan kehangatan rumah demi gelar sarjana di negeri seberang.
Rasanya masih sama: berat, penuh tanya, dan ada sesuatu yang bergelayut di sudut hati saat harus melangkah menjauh dari orang tua. Kala itu, hanya satu janji yang menguatkan langkah: “Kuliah harus tuntas.” Merantau adalah sebuah pembuktian sakral tentang janji seorang anak untuk membahagiakan mereka.
Bagi para perantau, lebaran bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah magnet yang menarik pulang jiwa-jiwa yang lelah. Kita rela menyisihkan setiap rupiah, menyiapkan pos khusus dalam penghasilan, hanya demi satu momen: mulih dhisik—pulang sejenak.
Tradisi ini telah mendarah daging, mungkin sejak zaman Mataram atau sejak urbanisasi mulai memisahkan jarak antara desa dan kota.
Ada getaran psikologis yang sangat khas dalam perjalanan mudik lebaran. Saya masih ingat betul momen-momen di Pelabuhan Tanjung Perak.
Saat kaki menginjak kapal Pelni, bayangan kampung halaman di Pulau Muna sudah menari-nari di kepala. Perjalanan dua hari satu malam mengarungi lautan tak lagi terasa lama. Di atas dek ekonomi, kita bertemu dengan kawan senasib dari penjuru Jawa—Malang, Jogja, Bandung, hingga Jakarta.
Antrean makan yang panjang di dapur kapal atau tidur beralaskan emperan dek menjadi fragmen ingatan yang abadi. Di sanalah kebersamaan tumbuh; diskusi mahasiswa yang dinamis, obrolan tentang organisasi, hingga benih-benih cinta yang mungkin bersemi di tengah deburan ombak.
Saat kapal merapat di Makassar dan menyambut kawan-kawan dari sana, suasana semakin riuh. Lalu, ketika bukit-bukit Kota Bau-Bau mulai tampak di cakrawala, rasa lelah mendadak luruh. Meski masih harus menyeberang satu-dua jam lagi menuju Muna, bau tanah kelahiran sudah terasa sedekat sepelemparan batu.
Masuk ke dalam rumah adalah puncak dari segala perjalanan batin. Segala beban hidup dan peliknya tugas kuliah seolah sirna saat menatap wajah orang tua.
Kita tidak pernah tahu seberapa gigih mereka bekerja hanya untuk memastikan kamar kita rapi dan hidangan kesukaan tersedia saat kita tiba. Keceriaan mereka menyambut kita—meski dalam segala keterbatasan—adalah obat paling mujarab bagi penatnya dunia perantauan.
Rumah adalah energi. Tempat kita pulang untuk bernostalgia, mengenang masa kecil, dan mengisi kembali amunisi jiwa sebelum kembali bertarung di tanah orang.
Namun, hidup memang tentang pertemuan dan perpisahan. Meninggalkan rumah tempat kita dilahirkan akan selalu terasa berat, baik untuk sementara maupun selamanya.
Hari ini, siklus itu kembali berulang. Kita mungkin berdiri di dermaga, melepas keberangkatan anak anak kita untuk kembali ke kampus.
Saat melihat punggungnya perlahan memasuki kapal, tanpa sadar sudut mata kita basah. Di detik itulah kita baru benar-benar memahami apa yang dirasakan orang tua puluhan tahun lalu.
Ternyata, mudik dan balik bukan sekadar urusan transportasi. Ia adalah tentang estafet rindu dan perjuangan yang tak pernah usai.(*)







