Apresiasi Hari Kebudayaan Mekongga, PMII Kolaka Tekankan Peran Generasi Muda

waktu baca 2 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Bhakti Eki Permadi, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Kolaka yang menetapkan 19 November 2026 sebagai peringatan Hari Kebudayaan Mekongga untuk pertama kalinya.

Menurut Bhakti, penetapan tersebut menjadi momentum penting dalam menjaga, merawat, dan memperkuat eksistensi kebudayaan serta kearifan lokal masyarakat Mekongga.

Ia menilai, kebudayaan tidak sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga merupakan identitas kolektif yang membentuk karakter, nilai, dan jati diri masyarakat suatu daerah.

“Di tengah perkembangan zaman, modernisasi, dan perubahan sosial yang begitu cepat, pelestarian budaya lokal harus menjadi perhatian bersama. Kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar sejarah, tradisi, dan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan para leluhur,” ujar Bhakti.

Ia berharap, penetapan Hari Kebudayaan Mekongga tidak hanya menjadi agenda seremonial atau perayaan tahunan. Pemerintah daerah diharapkan menindaklanjutinya melalui program pelestarian budaya yang berkelanjutan.

Sejumlah langkah yang dinilai perlu dilakukan antara lain memperkuat ruang ekspresi kebudayaan, memberikan pendidikan budaya kepada generasi muda, serta melindungi warisan sejarah dan tradisi masyarakat Mekongga.

Bhakti juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

Sebagai organisasi kaderisasi dan gerakan mahasiswa, PC PMII Kolaka memandang pemuda memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk merawat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Mekongga kepada masyarakat luas.

“Kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang kita warisi dari masa lalu, tetapi nilai dan identitas yang harus kita jaga hari ini agar tetap hidup di masa depan,” katanya.

Lebih lanjut, Bhakti berharap momentum peringatan Hari Kebudayaan Mekongga dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, akademisi, komunitas, dan generasi muda.

Menurut dia, keterlibatan berbagai elemen masyarakat diperlukan agar upaya pelestarian budaya tidak hanya berlangsung dalam kegiatan peringatan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Merawat kebudayaan adalah bagian dari merawat peradaban. Daerah yang mengenal dan menjaga akar budayanya memiliki pijakan kuat dalam menatap masa depan,” pungkasnya.

  • Reporter: A. Jamal