Antisipasi Gangguan Pasokan Global, PT Vale Siapkan Strategi Mitigasi Sulfur
JAKARTA, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi potensi gangguan pasokan sulfur yang menjadi bahan baku penting dalam proses pengolahan nikel melalui smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).
Langkah tersebut dilakukan menyusul kekhawatiran atas kemungkinan terganggunya jalur perdagangan global di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi komoditas dunia, termasuk sulfur.
Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, mengatakan perusahaan mulai mengoptimalkan pemanfaatan sulfur dalam desain proyek pengolahan nikelnya.
Optimalisasi itu tidak hanya mencakup kebutuhan konsumsi bahan baku, tetapi juga efisiensi energi dari proses produksi.
“Optimalisasi dilakukan agar penggunaan sulfur lebih efisien sekaligus mendukung keberlanjutan operasional,” ujarnya di Jakarta Selatan, dikutip Senin (9/3/2026).
Ia mencontohkan penerapan sistem tersebut pada proyek smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Di kawasan itu, fasilitas pengolahan asam berbasis sulfur (acid plant) telah terintegrasi dengan sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan energi sisa dari proses produksi.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan baku di tengah dinamika rantai pasok global.
Di sisi lain, Budiawansyah mengungkapkan bahwa tekanan terhadap pasokan sulfur sebenarnya telah terjadi sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga komoditas tersebut bahkan telah melonjak lebih dari 200 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari ketergantungan Indonesia terhadap impor sulfur dari negara-negara di Timur Tengah yang selama ini menjadi pemasok utama bagi industri pengolahan nikel nasional.
“Tanpa adanya peristiwa di kawasan Teluk sekalipun, harga sulfur sudah mengalami kenaikan signifikan,” katanya.
Kondisi ini mendorong pelaku industri, termasuk PT Vale, untuk memperkuat strategi mitigasi risiko rantai pasok guna memastikan keberlanjutan proyek hilirisasi nikel di tengah ketidakpastian global.(*)







