Towuti Bangkit: Pemulihan Lingkungan dan Masyarakat Jadi Prioritas PT Vale

waktu baca 3 menit

TOWUTI, TRIASPOLITIKA.ID – Di sebuah sudut Dusun Molindowe, Desa Lioka, aroma minyak yang pekat sempat menjadi bagian dari napas sehari-hari. Tiga belas hari sudah sejak insiden kebocoran pipa minyak mengguncang Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Namun kini, udara mulai berangsur bersih. Warga seperti Masikua pun bisa bernapas lebih lega.

“Sekarang sudah pulih. Kalau di dalam rumah, bau sudah tidak tercium lagi. Beda dengan minggu lalu,” ujarnya sambil menyandarkan tubuh di kursi bambu. “Saya senang, merasa ada perhatian. Tidak dibiarkan begitu saja.”

Kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) yang terjadi pada 23 Agustus 2025 itu tak hanya meninggalkan jejak di aliran sungai, sawah, dan halaman rumah, tapi juga menyentuh psikologis warga yang khawatir akan keselamatan hidup mereka. Meski begitu, dalam kekhawatiran itu, warga Towuti menemukan harapan—dalam bentuk respon cepat dan keterlibatan langsung dari berbagai pihak.

Bersih-bersih Tanpa Jeda

Sejak hari pertama, PT Vale menurunkan tim tanggap darurat, bekerja sama dengan kontraktor dan melibatkan ratusan warga dari enam desa terdampak: Lioka, Langkea Raya, Baruga, Wawondula, Matompi, dan Timampu. Pembersihan dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WITA, dan dilanjutkan secara nonstop oleh tim internal perusahaan selama 24 jam.

Langkah ini menjadi bentuk tanggung jawab yang tak hanya berbasis prosedur, tapi juga empati. Aroyos, warga Dusun Molindowe yang pertama kali menemukan jejak kebocoran, mengaku terkejut dengan kecepatan respon. “Sawah saya kena, ternak juga sempat terganggu. Tapi PT Vale cepat tanggap. Dari hari pertama mereka langsung turun, melibatkan kontraktor dan warga. Serius sekali mereka menangani ini,” katanya.

Dari Laporan Jadi Tindakan

Di balik pembersihan fisik yang intensif, PT Vale juga membuka ruang partisipasi publik. Sejauh ini, 162 aduan resmi masyarakat telah diterima melalui Posko Pengaduan & Informasi di Kantor Camat Towuti, Posko tambahan di Desa Timampu, serta Hotline 24 jam.

Laporan itu mencakup dampak pada lahan pertanian, akses air bersih, hingga keluhan kesehatan. Salah satunya datang dari warga Dusun Molindowe yang melaporkan aroma menyengat yang masih tertinggal di lingkungan rumah. PT Vale menindaklanjuti dengan menurunkan tim medis dan tim industrial hygiene untuk memeriksa kualitas udara dan melakukan pemeriksaan kesehatan.

Pendekatan ini, menurut Endra Kusuma, Head of External Relations PT Vale, merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan.

“Setiap aduan masyarakat adalah prioritas,” ujar Endra. “Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah dan masyarakat, memastikan pemulihan berjalan dengan prinsip keterbukaan dan kolaborasi.”

Menuju Pemulihan Kolektif

Saat ini, pemulihan di Towuti difokuskan dalam kerangka jangka pendek, menengah, dan panjang. Rencana ini dirancang berdasarkan rekomendasi tim ahli independen dan arahan langsung dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Di lapangan, ini berarti bukan hanya pembersihan, tapi juga perbaikan sistemik: perbaikan lahan, perlindungan ternak, pemantauan kualitas air, dan penguatan partisipasi warga.

PT Vale berupaya menjadikan pemulihan ini bukan sebagai program sepihak, melainkan sebagai gerakan kolektif. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tapi turut aktif dalam membersihkan lingkungan, menyuarakan kondisi mereka, dan menjaga pemulihan berjalan ke arah yang benar.

Towuti Belum Selesai, Tapi Tidak Sendiri

Tiga belas hari mungkin belum cukup untuk menyembuhkan seluruh luka. Tapi bagi warga seperti Masikua dan Aroyos, kehadiran tim di lapangan, perhatian terhadap aduan, dan gerak cepat pemulihan adalah langkah awal yang berarti.

Di tengah ketidakpastian, warga Towuti kini tahu bahwa suara mereka didengar, dan tangan mereka digandeng dalam proses panjang mengembalikan harmoni antara manusia dan alam di kampung mereka.

  • Editor: Dekri