Tidak Punya Surat Antigen, 23 Penumpang Ditahan di Pelabuhan Kolaka
KOLAKA, TP – Sebanyak 23 penumpang asal Pelabuhan Bajoe, Sulawesi Selatan (Sulsel), tersekat di Pelabuhan Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Senin, (17/6/2021) malam.
Penumpang tersebut disekat oleh petugas akibat tidak mengantongi surat rapid antigen sebagai syarat melintas di Pelabuhan Kolaka.
Para penumpang mengaku tidak memiliki surat antigen karena saat memasuki Pelabuhan Bajoe, sudah ada petugas yang bertanggung jawab untuk surat antigen.
“Waktu di pelabuhan Bajoe ada yang minta uang, katanya sudah termaksud surat antigen sama tiket,” ujar Intang, salah seorang penumpang asal Pelabuhan Bajoe.
Namun kata Intang, ia tidak diberikan surat ataupun sejenisnya. Ia justru langsung diberikan kelonggaran untuk masuk di kapal.
Kata Intang, ia dimintai dana sekitar Rp1. 200 ribu oleh salah seorang petugas di Pelabuhan Bajoe. Dana tersebut untuk menalangi biaya tiket serta surat antigen untuk dia dan delapan orang keluarganya.
Sayangnya, saat di Pelabuhan Kolaka, Intang serta 22 orang penumpang lainnya justru ditahan karena tidak memiliki surat antigen.
Para penumpang tersebut diwajibkan untuk melakukan Rapid antigen oleh petugas. Penumpang yang hasilnya positif bakal dilakukan isolasi.
Sementara itu, Kepala ASDP Kolaka, Lakadaha menuturkan, bagi penumpang asal Pelabuhan Bajoe yang tidak mengantongi surat antigen, bakal dilakukan rapid antigen oleh petugas kesehatan.
“Semua penumpang yang tidak memiliki surat antigen, bakal di rapid antigen di Pos yang telah disediakan,” ujar Lakadaha, Senin, (17/6/2021) malam.
Rapid antigen terhadap penumpang kata Lakadaha tidak dipungut biayanya atau gratis.
“Rapid antigen nya gratis tidak dipungut biaya,” terang Lakadaha.
Sebenarnya kata Lakadaha, rapid antigen di pelabuhan Kolaka berlaku besok 18 Mei, namun karena sudah ada ditemukan penumpang yang tidak memiliki surat antigen, sehingga para penumpang tersebut di rapid antigen.
Lebih lanjut Lakadaha menyatakan, penumpang yang hasil rapid antigen nya positif bakal dilakukan isolasi.
Reporter : Dekrit







