PT Vale Gelar Simulasi Tanggap Darurat Bendungan Sungai Larona di Malili, Luwu Timur

waktu baca 3 menit

SOROWAKO, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (PTVI), perusahaan tambang nikel berkelanjutan bagian dari MIND ID, menggelar simulasi Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Seri Sungai Larona di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Rabu (18/6/2025).

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, khususnya kegagalan bendungan.

Simulasi ini berlangsung di sejumlah titik strategis, termasuk Lapangan Merdeka, Lapangan Verbeck, serta desa-desa terdampak di sepanjang aliran Sungai Larona seperti Desa Balantang, Wewangriu, dan Karebbe. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 300 warga dan lintas instansi, termasuk BPBD, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, Basarnas, hingga relawan SAR.

“Sebagai pemilik dan pengelola tiga bendungan besar—Batubesi (1978), Balambano (1999), dan Karebbe (2011)—PT Vale wajib menggelar simulasi secara berkala sebagai upaya mitigasi risiko bencana,” ujar Iqbal Al Farobi, Head of Mine Sorowako Operation PT Vale.

Iqbal menyampaikan bahwa simulasi RTD pertama digelar pada 2018 dan akan dilakukan rutin lima tahun sekali. Tujuannya adalah untuk menguji kesiapan sistem, memperbarui dokumen RTD, serta menguatkan koordinasi lintas pihak.

  • Simulasi Melibatkan Ribuan Warga dan Peringatan Tiga Status Bahaya

Skenario simulasi dimulai dari peringatan BMKG terkait curah hujan ekstrem. Ketinggian muka air di ketiga bendungan meningkat signifikan, sehingga status dinaikkan bertahap dari Waspada, Siaga, hingga Awas. Evakuasi warga dilakukan berdasarkan jalur dan titik kumpul (muster point) yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam proses evakuasi, sejumlah insiden disimulasikan seperti kecelakaan lalu lintas, warga terseret arus sungai, dan pertolongan terhadap ibu hamil serta lansia. Seluruh tim gabungan bergerak cepat untuk melakukan penyelamatan dan memastikan semua warga keluar dari zona bahaya.

“Mitigasi risiko harus dilakukan sebelum bencana datang. Simulasi ini menjadi bagian dari budaya keselamatan kami dan bentuk tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar,” tegas Iqbal.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi langkah proaktif PTVI. Ia menyebut simulasi ini penting untuk mengurangi potensi korban jika terjadi kegagalan bendungan.

“Kalau bencana benar terjadi, 12.000 warga di Malili bisa terdampak, dengan potensi kerugian hingga Rp300 miliar. Maka simulasi seperti ini adalah langkah antisipatif yang sangat penting,” ujarnya.

  • PT Vale Luncurkan Aplikasi Early Warning System (EWS)

Bersamaan dengan simulasi, PT Vale juga meluncurkan aplikasi Early Warning System (EWS) sebagai sistem peringatan dini berbasis digital. Aplikasi ini menyediakan informasi status bendungan (Normal, Siaga, Awas), jalur evakuasi, titik kumpul, serta kanal pelaporan darurat.

“Aplikasi ini memperkuat sistem peringatan yang sudah ada sebelumnya, yaitu Flood Warning System berbasis sirene. EWS membantu masyarakat mendapatkan informasi cepat, tepat, dan akurat,” ujar Anom Prasetio, Manager Hydro Dams & Surveillance PT Vale.

Aplikasi EWS PT Vale dapat diunduh melalui Android dan iOS, dan menjadi bagian penting dalam mendukung tanggap darurat berbasis teknologi.(**)