Produksi Turun, Kinerja Keuangan PT Vale Indonesia Tbk Tetap Kuat pada Kuartal I 2026

waktu baca 3 menit

JAKARTA, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (kode saham: IDX:INCO) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada triwulan pertama 2026 (1T26), meski produksi dan pengiriman nikel matte mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Dalam laporan yang dirilis 29 April 2026, perseroan membukukan produksi nikel dalam matte sebesar 13.620 metrik ton, turun dari 17.052 ton pada triwulan IV 2025 dan 17.027 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut sejalan dengan strategi optimalisasi pemeliharaan, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester I 2026, serta penyesuaian berdasarkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Seiring penyesuaian produksi, volume pengiriman nikel matte juga menurun sekitar 25% secara triwulanan. Kendati demikian, perseroan tetap optimistis mencapai target produksi tahunan sebesar 67.645 ton, ditopang prospek harga nikel global yang menguat.

Dari sisi keuangan, PT Vale mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$14.213 per metrik ton, naik 15% dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini mendorong pendapatan mencapai US$252,7 juta.

Kinerja profitabilitas turut menguat, tercermin dari EBITDA yang naik 29% secara triwulanan menjadi US$80,1 juta, serta laba bersih yang melonjak 85% menjadi US$43,6 juta. Peningkatan tersebut didukung oleh harga jual yang lebih tinggi, efisiensi operasional, dan disiplin pengelolaan biaya.

Tahun 2026 juga menjadi tonggak penting bagi perseroan dengan mulai beroperasinya tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Bahkan, awal tahun ini PT Vale mencatat penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa, yang memperluas portofolio komersial sekaligus memperkuat diversifikasi pendapatan.

Untuk bisnis bijih nikel, volume penjualan di Blok Bahodopi tercatat 886.094 wmt, sementara Blok Pomalaa mencapai 88.983 wmt pada triwulan pertama. Ke depan, peningkatan skala operasi di Pomalaa diharapkan mendorong efisiensi biaya dan memperkuat struktur biaya perseroan.

Dari sisi biaya, biaya tunai nikel matte tercatat US$10.382 per ton, sedikit meningkat dari US$9.573 per ton pada triwulan sebelumnya, terutama dipengaruhi kenaikan harga input komoditas. Namun, biaya bisnis bijih nikel relatif stabil, masing-masing US$21 per ton di Bahodopi dan US$13 per ton di Pomalaa.

Perseroan juga mencatat pencapaian strategis melalui penandatanganan fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta pada 23 April 2026. Fasilitas ini menjadi pinjaman berbasis keberlanjutan pertama di industri pertambangan Asia Tenggara, sekaligus memperkuat komitmen perusahaan terhadap prinsip ESG.

Sepanjang triwulan I 2026, PT Vale mengalokasikan belanja modal sekitar US$139 juta untuk mendukung proyek pertumbuhan dan keberlanjutan. Posisi kas dan setara kas tercatat US$220,1 juta per 31 Maret 2026.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa perseroan tetap mampu menjaga kinerja positif di tengah tantangan operasional.

“Terlepas dari tantangan dan ketidakpastian, kami mampu mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan. Kami juga terus memperluas portofolio melalui penjualan limonit dari Pomalaa, sebagai langkah strategis memperkuat diversifikasi pendapatan,” ujarnya.

Ke depan, PT Vale memperkirakan kinerja keuangan akan semakin kuat, didorong oleh tren kenaikan harga nikel global, peningkatan volume produksi, serta optimalisasi struktur biaya yang berkelanjutan.(**)