Pilgub Sultra: Peta Politik Lokal atau Nasional ?

waktu baca 3 menit

Oleh: Muhammad Kurniawan Malik
Mahasiswa Pasca Sarjana Departemen Ilmu Politik Fisip Unhas

AKHIR-akhir ini mulai banyak baliho, pamflet, atau sejenisnya mulai membanjiri ruang-ruang publik hampir diseluruh wilayah Sulawesi Tenggara, dari kota hingga desa, dari jalan protokol hingga gang-gang sempit maupun dari media luring sampai media daring.

Hal ini mengindikasikan bahwa pilkada atau pilgub sudah semakin dekat terlaksana, para figur mulai bermunculan untuk ikut berkontestasi dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut, ada pemain baru sebut saja mantan Pangdam Hasanuddin Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangeruka, Bupati Konawe Utara (Konut) 2 Periode Ruksamin maupun pemain lama seperti Ir. Ridwan Bae ataupun Tina Nur Alam.

Menarik untuk melihat konstalasi politik pada pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Tenggara. Hal ini dikarenakan tak ada satupun partai politik peserta pemilu yang memiliki Golden Tiket atau Tiket Langsung untuk bisa mengusung calon, atau dengan kata lain semua parpol masih saling membutuhkan guna membangun poros koalisi. Ini menunjukkan betapa cairnya proses politik yang terjadi di sultra baru-baru ini sehingga tak ada partai dominan pada pileg kemarin.

Tentu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah poros koalisi yang akan terbangun di pilgub sultra nanti akan sama atau replikasi dari poros koalisi pilpres kemarin ? jawabannya bisa iya bisa tidak tergantung bagaimana posisioning sultra dalam peta politik nasional. Tentu saja pada pilkada serentak ini pemerintah pusat punya kepentingan strategis di Tingkat lokal terlebih di level provinsi, hal ini sejalan dengan tugas dan wewenang gubernur yang merukan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat.

Dari beberapa wilayah provinsi strategis yang akan menggelar pilgub seperti jateng, jatim atau Jakarta mulai terlihat arah koalisi parpol yang terbangun adalah replikasi dari koalisi yang terbangun pada saat pilpres, hal ini semakin dikuatkan dengan pernyataan dari ketua projo (pro jokowi) Budi Ari Setiadi yang mangatakan akan mendukung seluruh calon peserta pilkada dari koalisi Indonesia maju.
Hal ini tentu saja bisa ditangkap sebagai sinyalemen atau bahkan sebagai algoritma politik yang akan tercipta di pilkada serentak nanti.

Kembali pada pertanyaan sebelumnya apakah pilgub sultra hanya sebatas peta politik lokal atau peta politik nasional, kita bisa melihatnya dari dua aspek yaitu dari aspek elektoral dan aspek ekonomi politik. Dari aspek elektoral mungkin sultra tidak masuk masuk dalam peta politik nasional mengingat jumlah pemilih nya hanya sebesar 1 persen dari total suara nasional.

Namun dari sisi ekonomi politik sultra memiliki kandungan mineral yang sangat luar biasa, mulai dari emas, nikel, tembaga dan lain sebagainya yang menjadikan sultra sabagai salah satu penyumbang ekonomi nasional.

Jadi menarik untuk kita tunggu bersama apakah pilgub sultra masuk dalam peta politik nasional atau hanya sekedar peta politik lokal saja dengan melihat poros koalisi yang akan terbangun pada pilgub nanti.(**)

error: Content is protected !!