oleh

Konsep Morikana Berdimensi Budaya Buton Bakal Warnai Wajah Baru Kota Baubau

BAUBAU, TP – Karya gemilang Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Baubau, bertajuk konsep ‘Morikana’ yang artinya ‘Terdahulu’ dalam bahasa Buton, yang berkhas budaya dan berakar pada falsafah PO-5, sangat patut diacungkan jempol dan di apresiasi yang setinggi-tingginya.

PO-5 yang tak lain adalah Po Ma-masiaka (saling menyayangi), Po Pia-piara (saling memelihara), Po Mae-maeaka (saling menghargai), Po Angka-angkataka (saling mengangkat harkat), dan Po Binci-binciki kuli (toleransi).

Diketahui, Projects awal dari konsep ‘Morikana’ ini yaitu Jalan Lingkar yang menghubungkan langsung tiga Kecamatan, yakni Betoambari, Bungi dan Sorawolio.

Selanjutnya, jalur tersebut bertemu pada titik sentral yang menjadi jalur penghubung ke jalan Baypass dan Jembatan penghubung pulau Buton dan Pulau Muna.

“Konsep perdana ini sungguh memukau dan akan membawa manfaat kepada masa depan Kota Baubau dikemudian hari, terutama bagi masyarakat dan anak cucu kelak,” ungkap Ketua DPD Wasindo Kepton Muhlis M, usai dibeberkan konsep Morikana oleh Kadis PUPR, H Andi Hamzah Machmud SSos MSi, diruang kerjanya. (Rabu, 18/11/2020).

“Jujur saya kagum bercampur haru dan tentu ini suatu kebanggaan,” imbuhnya

Pasalnya, hal itu bila dirunut beberapa tahun terkahir, mulai dari Kadis Defenitif hingga Pelaksana Tugas (Plt) Dinas PUPR di periode ‘Tampil Manis’ (Dr. H. As Tamrin, M.H – La Ode Ahmad Monianse) belum ada inisiasi konsep seperti yang sedang dilakukan oleh Kadis PUPR saat ini.

Lahirnya konsep ‘Morikana’, Dinas PUPR Kota Baubau kini lebih optimis. Selain restu dari Wali Kota Baubau, juga kebanggaan Kadis yang turut andil dalam memberi warna dan kehidupan baru terhadap daerah Eks kesultanan ini (Kota Baubau, red)

Lebih lanjut, Ketua DPD Wasindo mengatakan bahwa konsep Morikana adalah terobosan baru dari Pemerintahan Kota Baubau. “Saya yakin ini bakal jadi trending topik, bahkan ikon Kota Baubau di masa mendatang,” ucapnya.

Dikesempatannya, Kadis PU pun ikut menjelaskan. Kata dia, dalam penguatan konektivitas antara Jalan Lingkar, Baypass dan Jembatan Buton-Muna juga tidak terlepas dari Tupoksi PU pada RPJMD yang memuat tentang ada tiga hal, yaitu jalan, air minum dan tata ruang.

“Pada saatnya, areal Jalan Lingkar akan membentuk satu titik sentral (pusat,red), dengan menyatunya areal dari jalur Baypass dan akses jalur jembatan Pulau Buton dan Pulau Muna,” tuturnya.

Bahkan bukan itu saja, Konsep Morikana ini, juga akan memperpendek jarak antar kabupaten, seperti Busel, Buton, Buteng Butur. “Baubau ini ikon, jadi bagaimana kita hadirkan kembali suasana sejarah kita bahwa dulu pernah ada kerajaan dan kesultanan Buton,” katanya.

Yang lebih mengesankan, Kadis PU terangkan bahwa konsep Morikana ini sebagai irama dalam mendorong percepatan pemekaran Provinsi di kepulauan buton. Karena itu konsep Morikana ini selain buah dari nilai budaya dan falsafah PO-5, juga sebagai cikal bakal hadirnya sentral ekonomi yang sangat besar.

Bahkan flashback konsep Morikana yaitu, terciptanya kesiapan Kota Baubau menjadi Ibu Kota provinsi. “Jadi kami tidak tertahan dengan moratorium, tapi kami tetap melaju dengan menyiapkan sarana prasarana, sehingga Kota Baubau di10-20 tahun terus eksis program melalui Konsep Morikana, katanya.

“Inilah penguatan Visi Misi dari Wali Kota di periode ke-dua ini, dan tetap berpedoman dari RPJMD,” imbuh Kadis yang juga eks pegawai Bapeda Kota Baubau.

Konsep Morikana adalah manifestasi nilai Budaya, selain makna yang terkandung didalam visi Kepala Daerah, juga menjaga nilai-nilai budaya tidak stagnan. “Jadi kalau semua itu kita giring ke arah pembangunan itu akan lebih bagus, katanya.

“Karena konsep Morikana (terdahulu,red) ini juga merupakan nilai kearifan budaya lokal, maka inilah langkah masa depan yang tetap bertolak dari eksistensi budaya sebagai ciri suatu daerah,” cetusnya.

Belajar dari pengalamannya sebagai salah satu tim penyusun RPJMD, langkah yang dilakukan Kadis pun penuh dengan kehati-hatian. Pasalnya, korelasi antara Kota yang maju serta kaya akan budaya tentu tidak mudah dan membutuhkan konsep yang matang.

Kedepan pengembangan konsep Morikana bakal melibatkan para budayawan, sejarawan, tokoh-tokoh pembangunan agar konsep Morikana terdongkrak ke skala lebih besar.

“Sekarang kita masih terus dalami lebih jauh untuk gabungkan antara falsafah PO-5 dan konsep Morikana,” ucapnya.

Kadis juga terbuka bahwasanya konsep Morikana secara langsung menata dan melahirkan wilayah Kota Baru, ekonomi baru, spot pariwisata dan yang lebih utama nilai budayanya tetap menyatu didalam satu kesatuan.

“Ini kosep besar kedepan, 2021 konsep detailnya akan hadir dan kita wujudkan, inilah konsep mensejahterakan masyarakat, baik dari segi penyebaran penduduk dan lahirnya ekonomi baru untuk mengentaskan kemiskinan,” paparnya.

Tak terlepas, demi suskesnya konsep Morikana ini, Dinas PU tak henti berbagai upaya teknis digenjot, baik tingkat provinsi maupun tingkat pemerintah pusat, bahkan pihaknya yang tergabung dalam Tim kerja sementara menyusun target yang lebih besar. “Untuk tahun depan itu sesuatu yang baru saya akan terjemahkan lagi lebih detail,” katanya.

Bahkan Kadis pun tidak main-main, berjalannya waktu, konsep Morikana ini akan di uji beberapa tahun kedepan. Pasalnya, maksud konsep Morikana ini adalah sinergitas dalam pembangunan, jadi kita tidak melihat arah pembangunan itu hanya secara parsial tapi secata utuh yang berkebudayaan.

Sebelum menutup perbincangan, Kadis PU optimis untuk membuktikan konsep Morikana hingga akhir masa jabatan As Tamrin sebagai Wali Kota. Inilah yang bakal mengubah mindset masyarakat, bahwa inilah bukti dari kepemimpinan Wali Kota.

Kadis berharap konsep Morikana ini dapat diterima dan mengajak dari hati kecil masyarakat agar mau bersama-sama. “Mari kita hilangkan pertentangan, perbedaan, dan mari melihat kedepan dengan tetap melihat kultur budaya,” pungkasnya.

Laporan : Tim Triaspolitika.id

Komentar

BERITA PILIHAN