HMJ IK UHO gelar Ekspedisi Kelautan Jilid II

waktu baca 2 menit

BUTON, TRIASPOLITIKA.ID – Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (HMJ IK), Universitas Haluoleo (UHO), menggelar ekspedisi kelautan jilid II di Desa Sampuabalo, Kecamatan Siotapina, Buton, Sulawesi Tenggara, pada Jumat, (17/12/2021).

Kegitan yang bertema ‘Eksplorasi Potensi Sumberdaya Bahari dan Sosial Ekonomi Budaya’ itu, mengelar tiga item ekosistem laut seperti Sosialisasi, Bakti Sosial dan Pengambilan data Sosial Ekonomi Budaya.

Ketua Panitia Ekspedisi Kelautan, Ahmad Yamin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan jild II.

“Kegitan pertama, itu kita laksanakan di Desa Sampuabalo, dengan melakukan pendataan terhadap tiga ekosistem laut yakni ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang,” jelas Ahmad Yamin.

Pada masing-masing pendataan ekosistem laut kata dia, dilakukan pendataan dua stasiun, dengan tujuan mengeskplore keanekaragaman.

Dikatakannya, kegiatan tersebut akan tertuju pada Sasaran Kegiatan Sosialisasi sekolah khususnya siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah menengah atas.

Dia mengatakan, bakti sosial dilaksanakan sebagai bentuk penumbuhan kesadaran masyarakat. Agar dapat menjaga daerah pesisir, khususnya masalah terbesar seperti sampah.

Ahmad Yamin menambahkan, ekspedisi kelautan jilid II merupakan salah satu bentuk program kerja yang merupakan salah satu pertanggung jawaban agar dapat melahirkan suatu ide dan gagasan.

Sementara itu, Ketua HMJ Ilmu Kelautan, Muh. Arjuna Sakti mengatakan, tujuan kegiatan ekspedisi kelautan jilid II yaitu untuk mengeksplore dan mendata tiga ekosistem laut yang ada di wilayah Sampuabalo seperti mangrove lamun dan terumbu karang.

“Karena Desa Sampuabalo sama sekali belum diketahui bagaimana keberagaman ekosistem alamnya khususnya di perairan laut yang ada di wilayah tersebut,” kata Arjun.

Arjun berharap, dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pariwisata yang ada di Kabupaten Buton utuk memerhatikan lagi kekayaan alam, serta objek-objek yang bisa dijadikan destinasi wisata.

“Perspektif orang orang, menganggap Desa Sampuabalo sangat anarkis dan berbahaya tapi nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang kita bayangkan,” katanya.

Reporter: Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!