Bersih-bersih Towuti: Ketika Warga dan PT Vale Bergandengan Tangan Pulihkan Lingkungan

waktu baca 3 menit

TOWUTI, TRIASPOLITIKA.ID – Di bawah terik matahari pagi, Yusperlin Hanteka berdiri di pinggir aliran sungai yang mengalir melintasi Dusun Molindowe, Desa Lioka. Tangannya memegang karung goni yang telah setengah penuh berisi lumpur dan dedaunan tercemar. Di sekelilingnya, puluhan warga desa sibuk mengeruk endapan minyak dari dasar sungai.

Sudah sebelas hari berlalu sejak pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mengalami kebocoran di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Namun, semangat warga untuk memperbaiki lingkungan mereka belum surut—justru semakin menguat.

“Sungai ini bagian dari hidup kami. Jadi saat ada masalah, kami juga yang harus menjaga dan memulihkannya,” ujar Yusperlin, Kepala Dusun Molindowe, yang turut menggerakkan warga untuk terlibat langsung dalam aksi bersih-bersih.

225 Warga, Enam Desa, Satu Tujuan

Sejak insiden pada 23 Agustus 2025, tercatat 225 warga dari enam desa—Lioka, Wawondula, Langkea Raya, Matompi, Baruga, dan Timampu—ikut turun tangan. Mereka membersihkan aliran sungai, saluran drainase, hingga area lahan pertanian yang terdampak rembesan minyak.

Lioka menjadi desa dengan partisipasi terbanyak, sebanyak 75 orang. Lima desa lainnya menyumbang masing-masing 30 warga. Bagi mereka, ini bukan sekadar kerja bakti—melainkan aksi kolektif menjaga tanah dan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

PT Vale, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden, tak tinggal diam. Perusahaan menyalurkan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar keselamatan, serta mendirikan posko kesehatan di setiap titik aksi untuk memastikan keselamatan para relawan.

“Lingkungan kami mulai membaik, terutama aliran sungai yang sebelumnya tercemar,” kata Yusperlin. “Masyarakat merespons baik kegiatan ini, dan kami siap membantu sampai proses ini selesai. Kami percaya PT Vale menjaga komitmennya.”

Ketika Ternak Menjadi Korban

Pemulihan juga menyentuh aspek lain dari kehidupan warga—yakni ternak. Di Desa Matompi, seekor sapi milik warga bernama Suriman sempat ditemukan lemas setelah meminum air dari sungai yang tercemar. Tak butuh waktu lama, tim lapangan PT Vale segera turun, memberikan penanganan medis, serta mengamankan ternak agar tak kembali ke area berisiko.

“Kasus seperti ini kami tangani serius karena menyangkut mata pencaharian warga,” ujar salah satu anggota tim teknis PT Vale di lokasi.

Posko Aduan, Komitmen Tanpa Jeda

Untuk menjamin setiap keluhan tertangani secara cepat, PT Vale membuka Posko Pengaduan dan Informasi di Kantor Camat Towuti, ditambah dengan layanan hotline 24 jam. Lewat sistem ini, masyarakat bisa menyampaikan laporan secara langsung untuk diverifikasi dan ditindaklanjuti.

Menurut Endra Kusuma, Head of External Relation PT Vale, kolaborasi antara warga dan perusahaan menjadi kunci keberhasilan proses pemulihan.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat dan pemerintah setempat atas kepedulian luar biasa mereka. PT Vale berkomitmen melakukan pemulihan dengan prinsip transparansi, tanggung jawab, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Bangkit Bersama Alam

Apa yang dilakukan warga Towuti bukan hanya sekadar upaya menghapus jejak minyak di sungai. Ini adalah bentuk cinta terhadap kampung halaman, sebuah refleksi dari hubungan yang mendalam antara manusia dan lingkungannya.

Di tengah krisis, solidaritas lahir. Di antara sisa-sisa minyak, tumbuh harapan bahwa bencana ini tak hanya menjadi luka, tapi juga momentum memperkuat ketahanan komunitas.

Bagi warga seperti Yusperlin, kerja belum selesai. Tapi setidaknya, mereka tahu: mereka tidak sendirian.