Pemda Lutim dan PT Vale Perpanjang Masa Tanggap Darurat, Pastikan Pemulihan Towuti Tuntas dan Transparan

waktu baca 2 menit

LUTIM, TRIASPOLITIKA.ID – Sejak insiden kebocoran pipa minyak di Kecamatan Towuti pada 23 Agustus lalu, prinsip kebersamaan menjadi landasan utama setiap langkah pemulihan. Pemerintah Daerah Luwu Timur bersama PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) bergerak cepat dengan melibatkan para ahli, aparat, dan masyarakat guna memastikan seluruh dampak ditangani secara adil, transparan, dan menyeluruh.

Komitmen itu kembali ditegaskan melalui forum pemaparan yang dipimpin Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, Jumat (5/9). Forum tersebut membahas klasifikasi dampak, skema kompensasi, hingga keputusan memperpanjang masa tanggap darurat hingga 12 September 2025. Langkah ini ditempuh untuk memastikan pembersihan dan pemulihan benar-benar tuntas di enam desa terdampak: Lioka, Langkea Raya, Baruga, Wawondula, Matompi, dan Timampu.

“Insya Allah kami kawal sampai tuntas. PT Vale sudah menyatakan komitmennya, dan apa yang menjadi harapan masyarakat akan terus diupayakan agar terjawab dengan solusi terbaik,” ujar Bupati Irwan.

Bagi PT Vale, arahan pemerintah menjadi acuan penting dalam setiap langkah pemulihan. Direktur dan Chief of Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, menegaskan perusahaan hadir bukan hanya sebagai korporasi, melainkan mitra masyarakat. “Pemulihan dilakukan dengan pendekatan ilmiah, prinsip transparansi, dan dengan hati untuk masyarakat,” ujarnya.

Sejak hari pertama, tim gabungan dari dinas teknis, BPBD, camat, dan PT Vale melakukan asesmen lapangan. Dampak kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori sawah, kebun, empang, ternak unggas, ternak besar, nelayan, hingga sumur air, dengan tingkat keparahan rendah, sedang, hingga tinggi. Berdasarkan klasifikasi ini, mekanisme kompensasi dirancang agar setiap warga terdampak mendapat penanganan proporsional dengan kondisi yang dihadapi.

Kepala Desa Lioka, Yuliana, menyambut baik langkah tersebut. “Ini keputusan yang sangat bijaksana dari Pak Bupati dan PT Vale. Masyarakat merasa lebih tenang karena ada kepastian. Kami berharap tindak lanjutnya nanti betul-betul clear and clean di lapangan,” ucapnya.

Kepala Desa Timampu, Samsul, menambahkan keresahan petani kini mulai terjawab. “Banyak petani menunda panen karena khawatir sawahnya terdampak. Kini, setelah dijelaskan mekanismenya, warga lebih tenang untuk panen dan menyimpan hasilnya,” ungkapnya.

Head of External Relations PT Vale, Endra Kusuma, menegaskan pemulihan Towuti tidak berhenti pada kompensasi. “Komitmen kami tetap sama sejak hari pertama: menjawab keresahan masyarakat dengan solusi terbaik. Selain kompensasi, kami melibatkan tim ahli independen untuk melakukan asesmen berkala agar tidak ada dampak sosial, kesehatan, maupun lingkungan yang tersisa,” katanya.

Perpanjangan masa tanggap darurat hingga 12 September 2025 menandai keseriusan semua pihak untuk tidak mengambil langkah terburu-buru. Dengan koordinasi erat, kepemimpinan pemerintah, keterlibatan masyarakat, serta komitmen penuh PT Vale, pemulihan Towuti diharapkan berjalan tuntas, transparan, dan berkelanjutan demi mengembalikan kehidupan warga.