IGP Pomalaa, Jejak Baru PT Vale Menopang Masa Depan Nikel Indonesia

waktu baca 3 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – Suasana di View Point Living Area, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, terasa berbeda pada Senin (29/7). Deretan tamu undangan, mulai dari pejabat daerah, perwakilan mitra global, hingga perwakilan Kedutaan Besar Australia, menyaksikan sebuah momentum bersejarah: peletakan batu pertama pembangunan infrastruktur penunjang Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa milik PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale).

Proyek ini bukan sekadar pembangunan fasilitas fisik. Lebih dari itu, ia adalah wujud nyata dari visi besar Indonesia untuk memperkuat rantai pasok global kendaraan listrik (EV) dan mengukuhkan diri sebagai pemain utama industri nikel berkelanjutan.

Tonggak Hilirisasi Berkelanjutan

IGP Pomalaa akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas utama: workshop, area perkantoran, operational camp, main entrance, hingga gedung penunjang seperti operation building, maintenance building, dan support building. Seluruhnya dikerjakan oleh PT Leighton Contractors Indonesia (LCI), mitra yang dikenal berpengalaman dalam konstruksi berskala internasional.

Dengan target penyelesaian 26 bulan hingga 31 Oktober 2026, pembangunan ini ditopang teknologi modern dan standar keselamatan kerja global. Saat ini, progres proyek telah mencapai 31 persen, termasuk tahap awal pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) bersama Huayou, perusahaan global yang fokus pada pengolahan nikel laterit.

“Proyek ini menjadi simbol bahwa limonite Kolaka bisa menjadi sumber kesejahteraan, bukan sekadar limbah. Bersama mitra strategis seperti LCI, kami optimistis proyek ini akan meninggalkan warisan berharga bagi generasi mendatang,” ujar Mohammad Rifai, Head of Pomalaa Project PT Vale.

Kolaborasi Global, Dampak Lokal

Bagi LCI, keterlibatan dalam proyek ini bukan hanya soal konstruksi. President Director LCI, Simon Burley, menyebut proyek Pomalaa sebagai kesempatan untuk menghadirkan teknologi konstruksi cepat, efisien, dan aman. “Keselamatan adalah prioritas utama kami. Kami merasa terhormat bisa berkontribusi pada proyek nasional sebesar ini,” katanya.

Dukungan juga datang dari pemerintah Australia. Julia DeLorenzo, Second Secretary Economic Trade and Investment Kedubes Australia, menilai proyek ini sebagai tonggak baru dalam memperkuat investasi jangka panjang Australia di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa.

Namun, di balik kolaborasi global itu, Bupati Kolaka Amri menegaskan pentingnya keberpihakan pada masyarakat lokal. “Aturan kita jelas, minimal 70 persen tenaga kerja tidak terampil harus dari lokal. Pengangguran masih tinggi. Jadi, semua mitra Vale harus patuh, termasuk realisasi pembangunan smelter bersama PT KNI,” tegasnya.

Menanam Harapan

Peletakan batu pertama itu ditutup dengan penanaman pohon oleh para pejabat dan tamu undangan. Sebuah simbol kecil, namun sarat makna: bahwa keberlanjutan bukan hanya jargon, melainkan napas yang mengiringi setiap langkah PT Vale di Pomalaa.

Dengan IGP Pomalaa, Kolaka bukan sekadar tapak industri, melainkan pusat harapan baru. Bagi Indonesia, inilah jejak penting menuju masa depan hijau, di mana sumber daya alam tidak hanya digali, tetapi juga dirawat, dikelola, dan diwariskan untuk generasi berikutnya.

Editor: Dekri