Bank Mandiri dan Ceria Perkuat Hilirisasi Nikel Lewat Ekspor Perdana FeNi
KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID — Bank Mandiri terus memperkuat perannya dalam mendukung hilirisasi industri nasional. Terbaru, bank pelat merah ini menggandeng PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) untuk mengawal ekspor perdana produk Low-Carbon Ferronickel (FeNi) ke pasar Asia dari smelter Merah Putih di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Rabu (3/7).
Ekspor perdana ini dimulai secara simbolik melalui pengiriman 10 kontainer dari total 65 kontainer yang disiapkan. Produk feronikel tersebut dihasilkan dari fasilitas Smelter Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Line I milik Ceria, yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional (Obvitnas).
Dengan kapasitas produksi 72 MVA, smelter ini mampu menghasilkan 63.200 ton feronikel per tahun dengan kandungan logam nikel sebesar 13.900 ton.

Seluruh proses produksi dilakukan dengan energi bersih dan telah tersertifikasi Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero). Teknologi yang digunakan pun berbasis kecerdasan buatan (AI) dan robotik, menjadikan proyek ini model industri nikel berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menegaskan, kolaborasi ini merupakan bentuk dukungan nyata Bank Mandiri terhadap agenda hilirisasi nasional dan transisi energi.
“Sinergi dengan Ceria menunjukkan bahwa sektor keuangan dapat menjadi akselerator pertumbuhan industri bernilai tambah dalam negeri,” kata Darmawan dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/7).
Komitmen ini diperkuat dengan pendanaan sindikasi yang telah disalurkan Bank Mandiri bersama Bank BJB dan Bank Sulselbar senilai USD277,69 juta sejak 2022. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan smelter dan infrastruktur pendukung Ceria.
CEO Ceria Corp Derian Sakmiwata menyampaikan apresiasi terhadap dukungan berkelanjutan dari sektor perbankan nasional.
“Smelter ini adalah simbol kebangkitan industri nasional. Kemitraan dengan perbankan membuka peluang baru, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah ekonomi daerah,” ujarnya.
Ceria saat ini tengah menyiapkan ekspansi dengan membangun RKEF Line II dan fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) Line I. Target jangka panjang perusahaan adalah memproduksi 252.800 ton ferronickel per tahun dan 293.200 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang mengandung logam nikel dan kobalt, komponen penting baterai kendaraan listrik (EV).

Seremoni ekspor turut dihadiri Bupati Kolaka Amri Jamaluddin, menandai sinergi antara pelaku industri, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan nasional dalam mendorong hilirisasi mineral berdaya saing global.
Langkah ini juga dinilai sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan tenaga kerja lokal, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Reporter: A. Jamal







