Trump Tunda Pertemuan Puncak dengan Putin, Upaya Perdamaian Ukraina Kembali Buntu

waktu baca 3 menit
Pertemuan Trump dan Putin pada bulan Agustus tidak menghasilkan hasil konkret

JAKARTA, TRIASPOLITIKA.ID – Harapan terhadap pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin kembali kandas. Setelah sempat mengumumkan rencana pertemuan di Budapest “dalam waktu dua minggu,” Gedung Putih kini menegaskan bahwa pertemuan tersebut ditangguhkan tanpa batas waktu.

Trump mengonfirmasi pembatalan itu saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (22/10/2025) waktu setempat. Ia beralasan ingin memastikan pertemuan tersebut memiliki hasil konkret.

“Saya tidak ingin pertemuan ini sia-sia. Saya tidak ingin membuang-buang waktu, jadi saya lihat saja nanti,” ujar Trump.

Langkah itu juga diikuti dengan pembatalan pertemuan pendahuluan antara diplomat tinggi kedua negara. Padahal, pertemuan tersebut digadang menjadi langkah awal menuju negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina yang telah berlarut hampir empat tahun.

Fokus Baru Setelah Gaza

Penundaan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Trump sukses menengahi gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera di Gaza. Saat menyampaikan pidato di Mesir pekan lalu, Trump bahkan menugaskan kepala negosiator diplomatiknya, Steve Witkoff, untuk “menyelesaikan Rusia.”

Namun, para pengamat menilai kondisi di Ukraina jauh lebih kompleks. Witkoff mengakui bahwa strategi yang berhasil di Gaza—terutama tekanan terhadap pihak-pihak yang terlibat—tidak mudah diterapkan di medan perang Eropa Timur.

“Kunci kesepakatan Gaza adalah tekanan militer dan diplomatik yang sangat terarah. Di Ukraina, faktor-faktornya jauh lebih luas dan saling bertabrakan,” ujarnya.

Pengaruh Trump Mulai Terbatas

Meski Trump dikenal memiliki pengaruh kuat di Timur Tengah, terutama karena kebijakan pro-Israel sejak masa jabatannya yang pertama, kekuatannya di Eropa Timur dinilai jauh lebih terbatas.

Selama sembilan bulan terakhir, Trump kerap berganti pendekatan—dari menekan Putin lewat ancaman sanksi hingga menahan dukungan terhadap Ukraina. Namun, langkah-langkah itu seringkali kontraproduktif.

Ia sempat menangguhkan pengiriman senjata dan berbagi intelijen dengan Kyiv, sebelum akhirnya menarik kembali keputusannya setelah sekutu Eropa memperingatkan risiko keruntuhan Ukraina.

Diplomasi yang Gagal

Trump berkali-kali menegaskan kemampuannya “menyelesaikan kesepakatan” secara langsung. Namun, upaya bertemu dengan Putin maupun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sejauh ini belum menghasilkan kemajuan berarti.

Beberapa pihak menilai, Putin justru memanfaatkan keinginan Trump untuk tampil sebagai “pendamai dunia.” Pada Juli lalu, Rusia bahkan menyetujui rencana pertemuan di Alaska tepat saat Kongres AS akan menyetujui paket sanksi baru terhadap Moskow—yang akhirnya ditunda.

Minggu lalu, ketika muncul laporan bahwa AS mempertimbangkan pengiriman rudal jelajah Tomahawk dan sistem pertahanan udara Patriot ke Ukraina, Putin langsung menelepon Trump. Sehari kemudian, Trump berbicara tentang pertemuan puncak di Budapest.

Namun, setelah pertemuan tegang dengan Zelensky di Gedung Putih, rencana itu kembali sirna.

“Begitu isu mobilitas jarak jauh bagi Ukraina menjadi lebih sulit, Rusia otomatis kehilangan minat pada diplomasi,” kata Zelensky menanggapi dinamika tersebut.

Janji yang Tak Terpenuhi

Dalam kampanyenya tahun lalu, Trump pernah berjanji akan mengakhiri perang Ukraina “dalam waktu 24 jam” jika terpilih kembali. Kini, ia tampak lebih realistis.

“Mengakhiri perang ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan,” ujarnya baru-baru ini.

Pernyataan tersebut menjadi pengakuan langka dari Trump atas keterbatasannya. Situasi Ukraina yang kian kompleks, ditambah minimnya ruang kompromi antara Kyiv dan Moskow, membuat janji perdamaian cepat semakin sulit terwujud.

Untuk saat ini, diplomasi AS-Rusia kembali buntu, dan perang di Ukraina tampaknya masih akan berlanjut tanpa kepastian akhir.