Sepupuku Penjarakan Aku

waktu baca 4 menit

Oleh: Dekri Adriadi

Hujan turun deras di Kolaka malam itu. Langit seolah tumpah, mengguyur jalanan yang mulai sepi menjelang tengah malam.

Di kedai kopi kecil bernama Ojel, Fandy masih duduk memandangi gelas kopinya yang sudah lama habis. Asap rokok terakhirnya menari di udara, sebelum padam bersama lampu-lampu yang satu per satu dimatikan barista.

“Bro, hujan makin deras,” ujar barista, sambil menata kursi.
“Iya. Kalau saya balik sekarang, pasti basah kuyup,” jawab Fandy pelan.

Jarak rumahnya sembilan kilometer dari kedai. Di tengah derasnya hujan dan gemuruh yang sesekali menggelegar, Fandy bimbang: pulang, atau menunggu reda yang tak pasti.

Dalam diamnya, ia teringat sesuatu—rumah Tante-nya, hanya sekitar satu kilometer dari kedai itu. Tempat yang cukup akrab baginya sejak kecil. Ia merogoh saku, mencoba menelpon sepupunya, Popi. Tidak aktif.
Fandy menarik napas panjang. Lalu, dengan jaket seadanya, ia nekat menembus hujan malam.

Ketika sampai, rumah itu gelap di bagian depan. Hanya lampu ruang tengah yang menyala. Fandy mengetuk pintu.
Tuk… tuk… tuk.

Tak lama, pintu dibuka oleh Paman-nya. Lelaki paruh baya dengan sarung tergulung di pinggang, tampak sedikit terkejut melihat keponakannya berdiri di ambang pintu, kuyup dari ujung rambut sampai kaki.

“Fandy? Malam-malam begini, dari mana?”
“Saya dari kedai kopi, Om. Hujan deras, jadi mampir berteduh.”

Paman-nya mengangguk, lalu berkata, “Ya sudah, buka bajumu. Nanti masuk angin. Ambil baju sama handuk di kamar Popi.”

Fandy mengucap terima kasih, menanggalkan bajunya yang basah, lalu berjalan menuju kamar Popi. Ia mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Pintu sedikit terbuka.

“Popi, minta handuk sama baju ya,” katanya dari luar. Tetap tak ada sahutan. Ia pun mendorong pintu perlahan.

Popi tertidur di atas ranjang. Lampu kamar redup. Selimutnya terjatuh ke lantai.
Fandy, yang hanya berniat menutupinya agar tidak kedinginan, meraih selimut itu dan menutupi tubuh sepupunya. Tapi dalam gerakan yang tergesa, tangannya tak sengaja menyentuh kulit Popi.

Popi tersentak bangun. “Eh, Fandy?! Kamu ngapain!?” suaranya tinggi, panik, dan disusul jeritan, “Tolong! Ayah!”

Fandy kaget. “Bukan, Popi! Aku—aku cuma mau—” Ia mencoba menjelaskan, tapi belum sempat satu kalimat tuntas, ayah Popi sudah muncul di depan pintu.

Wajahnya berubah murka.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Fandy.
“Keluar kamu dari rumah ini!” bentaknya.

Fandy terpaku. Dalam kepanikan itu, hujan di luar seolah ikut menghakiminya. Ia berlari keluar tanpa sempat menjelaskan. Di bawah gemuruh petir, air matanya bercampur air hujan.

Beberapa jam kemudian, suara sirine memecah malam di depan rumah Fandy. Dua mobil patroli berhenti. Empat petugas turun.
“Fandy, kamu kami bawa ke kantor. Ada laporan dugaan pelecehan,” ujar salah satu petugas.

Kata “pelecehan” membuat bibir Fandy gemetar. Ia bahkan belum sempat berganti pakaian. Tangannya diborgol. Orang tuanya keluar dengan wajah pucat dan tak percaya melihat anak semata wayangnya dibawa polisi di tengah hujan.

Di kantor polisi, Fandy menceritakan semuanya: tentang hujan, tentang kedai kopi, tentang niat sederhana untuk berteduh. Tentang selimut yang jatuh dan malam yang salah paham.

Penyidik yang mendengar hanya mengangguk pelan. Mereka baru tahu, Popi—pelapor itu—adalah anak dari saudara kandung ayah Fandy.

Keesokan paginya, ruang pemeriksaan Polres terasa tegang. Popi datang bersama ayahnya. Di sisi lain, Fandy duduk dengan kepala tertunduk, ditemani kedua orang tuanya.

Polisi meminta Fandy menjelaskan lagi. Suaranya pelan, bergetar, tapi jujur. Setiap kata seperti meneteskan beban yang selama semalam menindih dadanya.

Usai mendengar kronologi lengkap, ayah Popi terdiam lama. Matanya berkaca-kaca. Ia menatap Fandy, lalu menatap anaknya. “Saya salah paham,” katanya pelan. “Saya minta maaf.”

Tangis Popi pecah. Ia menunduk, lalu mendekat pada Fandy. “Aku juga minta maaf.”

Laporan itu dicabut. Kasus selesai. Tapi luka di hati Fandy tak serta-merta hilang.

Beberapa minggu kemudian, di kedai kopi Ojel yang sama, Fandy kembali duduk di bangku favoritnya. Hujan turun lagi malam itu, seperti ingin mengulang kisah yang sudah lewat.

“Masih suka kopi malam-malam, Bro?” tanya barista yang mengenalnya.
Fandy tersenyum tipis. “Masih. Tapi sekarang, saya tahu, nggak semua hujan bisa disinggahi.”

Ia menatap keluar, ke arah hujan yang mengguyur jalanan.
Kadang, pikirnya, hidup bisa mengubah seseorang hanya dalam satu malam—dan bukan karena ia bersalah, tapi karena takdir memilih waktu yang salah untuk mengujinya.

  • Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka yang dibuat disaat gabut wk wk wk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *