Puluhan Organisasi Adat Tamalaki Dukung Investasi PT Vale di Kolaka

waktu baca 4 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – Sebanyak 26 organisasi adat Tamalaki yang tergabung dalam tiga unsur besar, yakni Gabungan Aliansi, Poros Tengah, dan Formakom, menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan investasi PT Vale Indonesia Tbk di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dukungan itu disampaikan saat perwakilan masyarakat adat Tamalaki melakukan kunjungan ke PT Vale pada Selasa, 11 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara masyarakat adat dan perusahaan untuk memperkuat komunikasi serta membangun kemitraan dalam menjaga keberlanjutan sosial dan ekonomi di Wonua Mekongga.

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu, para perwakilan masyarakat adat menyampaikan pandangan, harapan, sekaligus sejumlah masukan terkait keberadaan dan keberlanjutan investasi PT Vale di Kabupaten Kolaka.

Sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale menempatkan keberlanjutan, tata kelola yang baik, serta keterlibatan pemangku kepentingan sebagai bagian dari perjalanan investasinya.

Di Kolaka, komitmen tersebut diwujudkan melalui komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk masyarakat adat. Dialog dinilai penting untuk memastikan kehadiran investasi dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat setempat.

Ketua Umum Tamalaki Wuta Kalosara Sultra, Mansiral Usman, mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum penting karena berbagai unsur masyarakat adat Tamalaki dapat duduk bersama dalam satu forum.

“Ini menjadi momentum penting bagi kami, karena tiga unsur utama masyarakat adat Tamalaki bisa hadir bersama dalam semangat yang sama. Kami berterima kasih dan menyatakan dukungan penuh terhadap investasi yang dilakukan PT Vale di Wonua Mekongga ini,” ujar Mansiral.

Menurut dia, keberadaan investasi PT Vale telah memberikan dampak terhadap masyarakat, terutama melalui terbukanya peluang kerja dan berkembangnya aktivitas ekonomi lokal.

Karena itu, ia berharap hubungan antara perusahaan, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan dapat terus dirawat. Menurutnya, komunikasi yang baik diperlukan agar manfaat investasi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat Kolaka.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Forum Swadaya Masyarakat Daerah (Forsda), Jabir Lahukuwi. Ia mengatakan keberadaan investasi di Kolaka perlu dijaga bersama karena berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan masa depan pembangunan daerah.

“Kami sesungguhnya ingin menyelamatkan investasi di Kabupaten Kolaka. Jika investasi ini gagal, yang rugi kita semua. Sumber daya alam kita sudah dibuka, jadi jangan sampai investasi itu ditutup,” kata Jabir.

Selain menyatakan dukungan, masyarakat adat Tamalaki menyampaikan sejumlah aspirasi kepada PT Vale. Masukan tersebut terutama berkaitan dengan bagaimana investasi dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat lokal.

Ada tiga hal utama yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut, yakni pemberdayaan tenaga kerja lokal, dukungan pendidikan, serta penguatan program pengembangan masyarakat.

Dalam aspek ketenagakerjaan, masyarakat adat berharap keterlibatan tenaga kerja asal Kolaka dapat terus diperluas. Hal tersebut tidak hanya pada lingkup perusahaan, tetapi juga melalui perusahaan mitra dan kontraktor yang terlibat dalam proyek PT Vale.

Masyarakat menilai peningkatan kesempatan kerja bagi warga lokal penting agar perkembangan investasi turut membuka ruang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Di bidang pendidikan, masyarakat adat mendorong adanya dukungan yang lebih luas melalui akses beasiswa bagi generasi muda Kolaka. Program tersebut dinilai dapat membantu mempersiapkan sumber daya manusia lokal agar memiliki kompetensi dan daya saing sesuai kebutuhan industri.

Sementara dalam aspek pemberdayaan masyarakat, para perwakilan Tamalaki berharap program pengembangan masyarakat atau tanggung jawab sosial perusahaan dapat terus diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat, organisasi adat, serta pengembangan ekonomi lokal.

Director of Project IGP Pomalaa PT Vale, Mohammad Rifai, mengapresiasi kehadiran para perwakilan masyarakat adat Tamalaki dalam forum tersebut.

Menurut Rifai, dukungan dan keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi keberlanjutan proyek sekaligus memastikan investasi memberikan manfaat jangka panjang bagi daerah.

Ia juga menyambut sejumlah masukan yang disampaikan masyarakat, khususnya mengenai kesiapan tenaga kerja lokal, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami menyambut baik aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan ini. Masukan tersebut menjadi bagian penting dari dialog yang terus kami bangun bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan,” ujar Rifai.

Ia menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan saling menghormati antara perusahaan dan masyarakat. Menurut dia, hubungan yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan investasi.

Rifai juga mengajak generasi muda Kolaka untuk mempersiapkan diri dengan meningkatkan kompetensi dan keterampilan. Hal tersebut dinilai penting agar masyarakat lokal mampu memanfaatkan peluang kerja yang terbuka seiring perkembangan dan kebutuhan proyek.

“Kami juga mendorong generasi muda Kolaka untuk terus mempersiapkan diri dan meningkatkan kompetensi, sehingga memiliki kesiapan untuk mengambil bagian dalam peluang yang terbuka sesuai kebutuhan dan tahapan proyek,” katanya.

Pertemuan antara masyarakat adat Tamalaki dan PT Vale tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat di Kabupaten Kolaka.

Dialog antara kedua pihak diharapkan tidak berhenti pada pertemuan tersebut, tetapi berlanjut dalam bentuk komunikasi dan kemitraan yang konstruktif. Dengan demikian, investasi dapat berjalan dalam iklim yang kondusif sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di Wonua Mekongga.(**)