Menjaga Harapan di Tengah Krisis: Upaya PT Vale Pulihkan Dampak Kebocoran Minyak
TOWUTI, TRIASPOLITIKA.ID — Aroma menyengat itu datang bersama aliran air yang tak lagi jernih. Di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, aroma minyak yang menyusup dari sungai telah membuat Teki (71) sesak napas dan batuk-batuk sejak pekan lalu. Ia hanya bisa terbaring di dalam rumah panggung sederhana, sembari berharap ada pertolongan datang dari luar.
Hari itu, pertolongan itu tiba.
“Petugas medis dari PT Vale datang memberi obat dan bantu periksa Ibu. Kami bersyukur, meski rumah kami jauh, mereka tetap datang,” ujar Masikua (75), suami Teki, dengan suara bergetar menahan haru.
Peristiwa kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) pada 23 Agustus 2025 mengubah rutinitas warga di sekitar wilayah operasional perusahaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Memasuki hari ke-10 pascainsiden, perusahaan tambang nikel ini terus bergerak cepat menangani dampak yang ditimbulkan—baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Desa-desa yang terdampak seperti Lioka, Langkea Raya, Baruga, Matompi, Timampu, dan Wawondula, kini menjadi titik fokus dalam proses pemulihan yang diklaim perusahaan dilakukan secara transparan dan berkeadilan.
Menjawab Keluhan, Menyambung Kepedulian
Teki bukan satu-satunya warga yang terdampak. Arsal, seorang petani dari Desa Timampu, juga melaporkan keluhan serupa. Ia merasa sesak setelah beberapa hari bekerja di ladang tak jauh dari aliran sungai yang terpapar minyak.
“Langsung ditindaklanjuti,” ujar salah satu petugas posko. Arsal mendapat obat-obatan dan kini rutin dipantau oleh tim kesehatan.
Menurut data dari PT Vale, hingga kini total 135 aduan telah diterima—baik melalui Posko Pengaduan di Kantor Camat Towuti, layanan hotline 24 jam, maupun melalui asesmen langsung ke rumah warga. Dari jumlah itu, 66 aduan telah diselesaikan, 58 sedang dalam penanganan, dan 11 masih dalam tahap verifikasi.
Langkah-langkah pemulihan ini juga melibatkan tokoh masyarakat dan pemuda desa. PT Vale akan membuka posko tambahan di Desa Timampu, yang dikelola oleh perwakilan lokal. Tujuannya, agar pengaduan warga lebih cepat dicatat dan ditindaklanjuti.
“Kami ingin hadir lebih dekat dengan warga,” kata Endra Kusuma, Head of External Relation PT Vale, saat ditemui di Towuti. “Kami paham bahwa dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian, ketenangan, dan rasa aman.”
Berbenah Lewat Dialog dan Aksi
Di tengah krisis, perusahaan juga membuka ruang dialog. Pendataan dan asesmen dampak dilakukan dengan melibatkan aparat desa, kepala dusun, hingga tokoh adat. PT Vale menyebutkan bahwa semua keluhan dicatat, diverifikasi, dan diproses sesuai mekanisme yang telah disiapkan.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mengedepankan responsibility dan transparency. Meski tekanan dari masyarakat sipil dan aktivis lingkungan terus menguat, PT Vale memilih untuk menunjukkan kepedulian melalui aksi nyata di lapangan.
“Harapan kami, kejadian ini bisa segera teratasi, dan yang terpenting—masyarakat tidak dibiarkan sendirian menghadapi dampaknya,” tutup Endra.
Sementara itu, di rumah panggung yang menghadap sungai, Teki masih beristirahat. Namun kali ini, dengan sedikit rasa tenang—karena ia tahu, setidaknya ada yang datang, mendengarkan, dan bertindak.
- Editor: Dekri







