Menembus Hutan Ueesi dengan Motor Trail: Cerita di Balik Persiapan TMMD Kolaka
KOLTIM, TRIASPOLITIKA.ID – Deru motor trail meraung di antara pepohonan lebat Kecamatan Ueesi, Kabupaten Kolaka Timur. Debu jalan setapak bercampur batuan tajam berhamburan ketika ban berulir menjejak tanah kering.
Di atas motor, Komandan Kodim 1412 Kolaka, Letkol Inf Choky Gunawan, tampak mantap mengendalikan setang. Hari itu, Rabu, 24 September 2025, ia menempuh perjalanan panjang untuk memastikan progres pra-TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa).
Sebelumnya, rombongan Dandim berangkat dari Markas Kodim di Kolaka menggunakan mobil dinas. Perjalanan darat sejauh lebih dari 80 kilometer membawa mereka ke Kantor Kecamatan Ueesi.
Dari titik itu, kendaraan roda empat tak lagi mampu menaklukkan medan. Jalan semakin menyempit, dipenuhi tanjakan curam, sungai kecil dengan batu-batu besar, hingga jalur berlumpur yang nyaris tak bisa dilalui. Pilihan satu-satunya: motor trail.
“Lokasinya ekstrem, kalau bukan motor trail, hampir mustahil bisa sampai,” kata Choky, yang hari itu ditemani Pasiter dan sejumlah perwira Kodim Kolaka.
Melintasi Sungai, Menyusuri Bukit

Dari Kecamatan Ueesi, perjalanan berlanjut sejauh 20 kilometer menuju desa sasaran TMMD. Suara mesin motor bergantian dengan suara cipratan air kala rombongan menyeberangi sungai-sungai kecil. Di beberapa titik, motor harus didorong untuk menaklukkan tanjakan berbatu yang licin.
Di Desa Alaha, Dandim meninjau titik pembangunan pompanisasi air. Sungai deras menghadang. Tidak ada jembatan, hanya rakit kayu yang ditambatkan warga. Tanpa ragu, Choky bersama rombongan menaikinya, menyebrangi aliran deras demi mencapai lokasi.
Perjalanan kemudian berlanjut ke proyek jembatan penghubung Desa Alaha–Tongauna. Jembatan ini menjadi nadi ekonomi warga, penghubung utama bagi hasil bumi seperti kakao, nilam, dan hasil kebun lain untuk keluar desa.
Jalan Sepanjang 10 Kilometer

Dari jembatan, rombongan kembali harus mendaki tanjakan terjal menuju lokasi pengerasan jalan sepanjang 10 kilometer. Di sisi kanan-kiri jalan, material pembangunan sudah ditumpuk: pasir dan batu menanti tangan prajurit dan warga untuk digarap. Di Desa Tongauna, 12 unit deker (saluran air beton) juga akan dibangun.
Perjalanan panjang itu ditutup dengan peninjauan rumah-rumah warga di Desa Tongauna dan Puurau. Beberapa rumah akan direhab melalui program TMMD, memberi harapan baru bagi warga yang rumahnya sudah lapuk dimakan usia.
Antara Fisik dan Nonfisik

Choky menyebut, TMMD ke-126 yang akan digelar di tiga desa Ueesi tak hanya fokus pada pembangunan fisik. Ada pula program nonfisik: sosialisasi bahaya narkoba, pencegahan stunting, ketahanan pangan, hingga pengarahan masuk tentara.
“Saya melihat langsung beberapa lokasi. Material sudah mulai ada. Targetnya, semua pembangunan fisik maupun kegiatan nonfisik selesai dalam sebulan,” ujarnya.
Asa di Tengah Rimba

Bagi masyarakat Ueesi, TMMD bukan sekadar deretan proyek pembangunan. Jalan yang akan dikeraskan berarti akses lebih cepat ke pasar. Jembatan penghubung berarti harga hasil bumi bisa lebih stabil karena biaya angkut berkurang. Pompanisasi air berarti petani tak lagi bergantung pada hujan.
“Kami melibatkan banyak pihak, mulai dari kepolisian, BNN, sampai masyarakat setempat. Harapannya, TMMD ini bisa betul-betul meningkatkan ekonomi warga,” kata Choky.
Di balik gemuruh mesin motor trail, ada asa yang tumbuh. Dari jalan berbatu, jembatan kayu, hingga rakit yang dibuat warga, setiap perjalanan rombongan TNI hari itu seolah menggambarkan perjuangan panjang warga Ueesi.
Sebuah perjuangan yang kini perlahan ditopang oleh program TMMD, menyalakan harapan akan masa depan yang lebih sejahtera di pelosok Kolaka Timur.
- Reporter: A. Jamal
- Editor: Dekri Adriadi







