oleh

Kuliahku di Masa Pandemi

-DEMOKRASI, OPINI-301 views

Oleh: Lely Novia, S.Pd.,M.Hum

Dosen : Bahasa Inggris
Prodi : Business Communication
Jurusan Bahasa Inggris

Fakultas : Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

Pagi ini sangatlah cerah, mentari pagi muncul memancarkan pesonanya. Sama denganku bersemangat sekali untuk memulai hari. Hari ini masuk perkuliahan bulan kedua dan saat ini sebagai mahasiswa semester dua, Aku sangat bersemangat masuk kuliah. Ilmu adalah alasan kedua, yang utama adalah bisa bertemu dengan teman-teman sekelas. Ngobrol bareng bahas tentang hal apa saja yang bisa membuat hati senang.

Setelah selesai perkuliahan biasanya Aku dan teman-temanku kumpul bareng di suatu tempat sambil makan bakso dan minum es. Wah, nikmat tiada tara bagi kami untuk menutup kegiatan di hari itu. Begitulah rutinitasku hampir setiap hari. Hidup ini sungguh menyenangkan. Sekali-sekali mungkin menyebalkan apalagi kalo ada tugas dari Dosen yang butuh usaha lebih banyak.

Oia, Aku adalah mahasiswa dari Jurusan Bahasa Inggris dari Perguruan Tinggi Negeri di Kota Makassar. Suatu kebanggan tersendiri bagi orang tua karena putrinya, bisa melanjutkan kuliah di PTN yang banyak peminatnya. Aku, Nurul, mahasiswa yang berasal dari Batuputih, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara yang saat ini menimba ilmu di Kota Makassar akan berusaha belajar sebaik-baiknya untuk membanggakan orang tuaku, begitu pikirku.

Di awal semester 2, perkuliahan berjalan seperti biasa. Kami semua bertemu secara tatap muka. Kami bisa berdiskusi bersama, baik sesama mahasiswa, maupun bertanya kepada dosen kami. Perkuliahan yang berat pun tidak terasa berat karena kami bisa bertanya langsung kepada dosen yang bersangkutan, dengan terlebih dahulu membuat janji tentunya.

Perkuliahan berlangsung dengan baik, hingga tiba-tiba muncul virus yang disebut-sebut berasal dari Kota Wuhan. Ketika mendengar berita tersebut, kami berpikir bahwa virus itu tidak akan tiba di Kota kami, hingga akhirnya pada pertengahan Maret 2020 kami diliputi keresahan akan munculnya pandemi ini. Masih teringat jelas hari terakhir pertemuan tatap muka bersama dengan teman dan Dosen, 16 Maret 2020. Hari itu kami diminta pulang lebih awal dari biasanya untuk mempersiapkan pembelajaran secara daring. Kebetulan entah bagaimana salah satu Dosen kami memperkenalkan dengan salah satu video conferencing.

“Hari ini kita akan belajar mengenai salah satu aplikasi yang akan digunakan untuk pembelajaran daring.”
“Untuk memulainya silahkan unduh dan instal aplikasinya terlebih dulu.”

Kami semua sibuk mencari aplikasinya di play store. Kami semua excited karena memang Dosen kami ini sering sekali memperkenalkan teknologi dalam pembelajarannya. Dan ini adalah pengalaman dan keseruan bagi kami.

“Nurul apa namanya itu aplikasi yang digunakan?” tanya Jesika kepadaku.
“Astagfirullah, tidak ku ingat, tanyak coba Akmal. Akmal, na bilang Miss apa nama aplikasi nya?”
“Webex namanya itu, begitulah tampilannya,” jawab Akmal sambal memperlihatkan HP-nya.

Tiba-tiba Dosen kami bertanya untuk memastikan apakah kami sudah mengunduh aplikasi yang diminta.

“Have you downloaded the application? After that don’t forget to install on your cellphone.”
“Miss, habis kouta ku bah,” celetuk Ryan.
“You may use our Wi-Fi connection. Kalian tau kan passwordnya?

Kebetulan kampus kami ini menyediakan free Wi-Fi sehingga kami cukup terbantu dalam mengakses internet.
Miss Fira dengan sabar menunggu kami hingga selesai menginstal. Beberapa persiapan juga dilakukannya seperti menyambungkan Laptop ke proyektor agar kami bisa melihat tampilannya.

“Jika kalian sudah instal, silahkan masuk ke Room dengan Meeting Number 579 045 122 dan password 12345.”
“Pastikan masuk dengan menggunakan nama sesuai daftar hadir.”
“Baik, Miss,” Jawab beberapa teman.
“Loh, ini siapa yang menggunakan nama James?”

Mendengar ini kami pun tertawa dengan keisengan salah satu teman kami.
Setelah di layar muncul beberapa nama, kami pun melakukan simulasi dengan berganti peran menjadi host dan presenter.

Tiba-tiba Helsa mengangkat tangan, “Miss, bisakah saya jadi host?”

“Oke, sekarang Helsa akan bertugas sebagai host. Coba kamu matikan microphone teman kamu yang masih aktif, caranya cari peserta yang aktif mic-nya, lalu tekan mic-nya hingga berwarna merah.”
“Ohiye, Miss.”
“Sudah paham ya, sekarang kamu ubah Nurul menjadi host. Caranya cari nama Nurul lalu change role as a host.”

Begitulah kami melakukan simulasi penggunaan aplikasi sebagai persiapan kami menghadapi pembelajaran online. Kami tidak menyangka bahwa pertemuan hari ini adalah pertemuan tatap muka kami yang terakhir. Dengan perasaan yang masih bingung berkecamuk dalam hati kami masing-masing, akan seperti apa pembelajaran ini.

Esoknya kelas dimulai dengan apa yang disebut dengan online learning. Awalnya Kami berpikir perkuliahan akan lebih menyenangkan karena kami tidak perlu datang ke kampus. Akan tetapi semua menjadi tidaklah mudah, terlebih untukku karena Aku harus kembali ke Kampung di Batuputih, Kolaka Utara. Kampungku bukanlah kampung yang besar dengan koneksi internet yang baik, sehingga untuk mendapatkan koneksi yang baik, Aku harus pergi menuju ke kampung sebelah.

“Ada kelasnya Pak Prof besok, harus Ki bangun pagi,” isi chat Akmal di WA grup kelas kami.
Tapi sayangnya pesan itu Aku baca siang harinya dan terpaksa Aku ketinggalan materi hari ini. Akhirnya Aku memutuskan untuk mengemukakan alasan ketidak hadiranku.

Begitulah keadaan tempat tinggalku, susah sinyal dan untuk mendapatkannya Aku harus keluar kampung yang jaraknya tidaklah berdekatan, kira-kira 30 menit. Jadi apabila ada kelas pagi, Pukul 07.30 Aku harus bangun pagi. Hal ini lah yang membuat rasa malas dan stress muncul. Betapa tidak, keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk mengikuti perkuliahan. Akhirnya Aku memutuskan untuk menjadikan keadaanku sebagai alasan keterlambatan dan ketidak hadiranku di beberapa kelas.

Beberapa Dosen menerima alasanku dan memberikan dispensasi. Akan tetapi semakin diberikan kemudahan, membuat Aku tambah malas dengan perkuliahan daring ini. Repot sekali karena harus bangun pagi-pagi sekali dan mempersiapkan diri untuk mengikuti perkuliahan. Hal inilah yang membuat nilai-nilai kuis tidak ada. Pernah suatu ketika ada kuis yang diberikan melalui satu aplikasi yang disebut dengan Socrative. Hari itu Aku terlambat bangun dan lupa dengan jadwal perkuliahan. Tiba-tiba salah satu teman sekelasku menghubungiku bahwa saat ini mereka sedang menunggu kehadiranku untuk bisa bersama-sama memulai kuis bersamaan.

Dengan tergesa-gesa Aku menyiapkan diri menuju kampung sebelah untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik. Karena merasa panik tidak bisa menyelesaikan kuis hingga selesai, terpaksa Aku menjawab dengan asal-asalan karena kebetulan kuisnya berbentuk Pilihan Ganda.
Betapa terkejutnya Aku ketika selesai mengerjakan tugas, muncul nilai nol di layar. Malu dan sedih bercampur menjadi satu. Tapi Aku tetap menjadikan keadaanku sebagai alasan nilaiku yang tidak maksimal. Begitulah yang Aku rasakan selama 2 minggu. Tetap santai dan menyatakan bahwa Aku sudah berusaha maksimal selama perkuliahan ini.

Suatu hari, Miss Fira menyampaikan kembali nilai-nilai tugas kami dan memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa yang ingin melakukan perbaikan dengan mengerjakan tugas. Miss Fira juga menanyakan keberadaan kami satu per satu, apa kendala yang kami hadapi dalam memahami materi dan mengerjakan tugas ataupun latihan yang diberikan. Miss Fira juga menegur dan menanyakan alasan ketidak hadiranku. Tanpa merasa bersalah Aku menyampaikan alasanku. Aku memberanikan diri menyatakan keluhanku yaitu kesulitan akan koneksi internet yang baik. Aku berharap dengan mengemukakan alasan ini, Miss Fira akan memberikan kemudahan yang lain.

“Minta maaf ka Miss, tidak bagus jaringan di tempatku, baru kalau saya mau cari jaringan harus keluar kampung.”
Respon Miss Fira tidak akan bisa kulupakan dan telah mengingatkanku arti dari perjuangan mendapatkan pendidikan.
“Justru karena Kampung kamu tidak memiliki jaringan yang bagus, kamu harus lebih berusaha belajar dengan baik supaya kamu bisa memperbaiki Kampung kamu.”

Aku pun terdiam dengan jawaban Miss Fira dan menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan lebih berusaha lagi.
Esoknya Aku bangun lebih awal untuk sholat subuh dan membantu pekerjaan rumah lalu bersiap-siap untuk mengikuti perkuliahan ataupun mengerjakan tugas yang telah diberikan di e-learning.

“Mau kemana itu, Nurul?” tanyak Mama ku.
“Mau ka keluar cari jaringan Ma, ada kelasku.”
“Hati-hati nah”
“Iya Ma.”

Orang tua ku mengerti tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang mahasiswa. Aku juga menyampaikan bahwa ini sudah menjadi tekad untuk merubah kampung.

“Mama mau ka belajar sungguh-sungguh karena mau ka banggakan Ki dan bikin kampung kita bangga.”
Mendengar alasanku, tentu saja Ibuku senang dan mendukung niat baikku.

Ada satu tugas dari Miss Fira yang cukup sulit karena kami diminta untuk merekam suara kami pada sebuah web. Tugas ini berguna untuk mengecek pengucapan yang tepat dari setiap kosa kata. Melelahkan memang tugasnya tapi Aku tidak akan mengeluh. Apalagi belakangan Miss Fira sering sekali memuji usahaku dan menjadikanku sebagai contoh bagi teman-temanku untuk berusaha dan tidak menjadikan kesulitan dan rintangan sebagai alasan untuk tidak maju.

Tuhan memang baik bagi setiap umatNya yang memohon kepadaNya. Syukur Alhamdullilah, mendekati akhir semester, kabar baik datang dari Kampusku. Ternyata kampusku mencoba mendata mahasiswa yang berada di luar Kota Makassar dan mencari tahu permasalahan yang kami hadapi. Aku sungguh tidak menyangka akan tiba hari baik seperti hari ini.

Kepala Desa kami menerima beberapa orang dengan menggunakan seragam berwarna merah. Ah ternyata itu adalah petugas dari Telkomsel yang tengah berdiskusi mengenai jaringan di kampungku.

Dari pembicaraan orang tuaku, Aku tahu bahwa kampusku mengadakan kerja sama dengan provider tersebut sehingga mereka datang untuk memastikan bahwa kami memiliki jaringan internet yang lebih baik. Selain itu mahasiswa juga mendapatkan bantuan kuota yang pastinya akan membantu kami semua dalam perkuliahan di masa pandemi ini.
Aku sungguh bersyukur dengan perubahan ini.

Semangatku untuk belajar dengan lebih baik kembali berkobar. Aku juga bersyukur bisa mengenal Miss Fira, seorang Dosen baru yang asal dan budayanya berbeda sepenuhnya dengan kami.

Kami diperkenalkan dengan hal baru seperti aplikasi belajar online yang bisa kami gunakan dalam pembelajaran mandiri kami. Aku sangat bersyukur akan hal ini, dan melihat pandemi ini sebagai pemacu untuk bisa maju.
Semangat Ki belajar Nah. Jangan karena Pandemi Covid-19 nah malas ki(*)

Komentar

BERITA PILIHAN