Kenali Porto, Pelaku UMKM Ayam Geprek Jekpot yang Berhasil Bangkit Ditengah Pandemi

waktu baca 5 menit
Kedai Porto beralamat di Jalan Pemuda, Kelurahan Laloeha.(Dekri/triaspolitika.id)

”Saya sempat gagal dalam memulai usaha. Kala itu saya belum mengetahui cara membuat ayam geprek kriuk yang baik. Saya juga masih kesulitan kala itu, dalam menggugah selerah para pelanggan,” tutur Andi Porto Rico.

Penulis: Dekri Adriadi
wartawan: Triaspolitika.id

Ayam geprek adalah salah satu masakan khas yang menggunakan bahan utama daging ayam. Saat ini Ayam geprek memang sedang banyak diminati pencinta kuliner. Selain rasanya yang lezat, cara pengolahan ayam geprek juga terbilang unik. Ayam digoreng dengan tepung, kemudian digeprek bersama sambal khas yang pedas.

Untuk menyajikan Ayam geprek dengan kualitas baik, tentu saja membutuhkan chef yang handal. Tidak heran, jika pembuat Ayam Geprek dengan kualitas kriuk yang lezat di Indonesia, masih terbilang langkah.

Kendati demikian, tidak sedikit juga ditemukan pelaku usaha Ayam geprek yang berhasil menarik minat pelanggan.

Seperti halnya penggiat Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) Ayam Geprek Jekpot di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang juga terbilang cekatan meraup keuntungan dalam memulai bisnisnya.

Ayam Geprek Jekpot adalah nama usaha yang di gagas oleh Andi Porto Rico bersama sang istri tercinta. UMKM satu ini terbilang berhasil bertahan ditengah pandemi Covid-19.

Kedai Porto beralamat di Jalan Rambutan, Kelurahan Latambaga.(Dekri/triaspolitika.id)

Lelaki sapaan akrab Porto ini, memulai usaha Ayam Geprek Jekpot pada tahun 2020 lalu. Tahun dimana pemerintah kala itu mulai memberlakukan Pandemi Covid-19 atau pernyataan bangkitnya wabah virus di tanah air.

Tidak sedikit pelaku UMKM gulung tikar kala itu. Sebab masyarakat diminta untuk membatasi interaksi di luar rumah. Sebisa mungkin masyarakat tidak dulu keluar rumah, jika tidak penting. Hal tersebut dilakukan pemerintah sebagai upaya mencegah banyaknya pasien yang terpapar dari virus ganas tersebut.

Pemberlakuan Pandemi oleh pemerintah pusat, jutru dimanfaatkan baik oleh Porto bersama sang Istri dalam memulai usaha Ayam Geprek.

Memang sempat gagal saat awal-awal merintis usahanya. Namun kata Porto, kegagalannya dalam memulai usahanya itu, bukan akibat Pandemi Covid-19. Namun melainkan gagal dalam menciptakan Ayam Geprek yang gurih dan nikmat.

Tentu saja gagal dalam memulai usaha. Sebab, Porto hanyalah seorang mekanik elektrik yang hanya bisa memperbaiki mesin mobil ataupun mesin kapal. Selain itu, Porto juga hanya seorang nelayan yang dalam kesehariannya mencari ikan untuk bisa menghidupi istri dan anaknya.

Sementara istri Porto hanya seorang ibu rumah tangga, yang juga tidak pandai dalam menciptakan Ayam Geprek yang ktriuk dan gurih.

Kedai Porto beralamat di Jalan Bolu, Kelurahan Sea.(Dekri/triaspolitika.id)

Lantas bagaimana langkah Porto bersama istri tercinta, dalam memulai usaha Ayam Geprek Jekpot. Menciptakan kriuk nan lezat, yang saat ini menjadi makanan pilihan para penikmat ayam goreng kriuk nan pedas di Kabupaten Kolaka.

Kata Porto, dalam menciptakan kriuk di usaha Ayam Geprek Jekpot miliknya, Ia hanya mengandalkan Youtube sebuah platform situs web berbagi video, yang saat ini dijadikan oleh orang-orang di dunia sebagai tempat untuk mengunggah, dan menonton video.

”Saya menciptakan kriuk di usaha Ayam Geprek saya, dengan belajar di Youtube. Karena saya bukan seorang yang ahli dalam membuat kriuk di Ayam Geprek,” kata Porto.

Melalui platform Youtube, Porto mengaku akhirnya mampu membius lidah pelanggannya. Tidak tanggung-tanggung usaha Porto bersama istri berhasil.

Saat ini, Porto sudah memiliki tiga kedai di kabupaten Kolaka. Kedai Porto pertama beralamat di Jalan Pemuda, Kelurahan Laloeha. Kemudian ada juga di Jalan Rambutan, Kelurahan Latambaga, dan satunya lagi beralamat di Jalan Bolu, Kelurahan Sea. Porto juga tengah merancang usahanya untuk membuka cabang di Kabupaten Konawe.

Tentu saja keberhasilan Porto dalam menciptakan Ayam Geprek Jekpot khas, tidak semuda seperti apa yang bisa kita bayangkan.

Kata Porto, dalam memulai bisnis kulinernya sempat beberapa kali diterpa kegagalan. Hingga membuat dua buah telepon gengam miliknya harus dijual sebagai tambahan modal.

”Saya sempat jual HP (Handphone) untuk tambahan modal. Karena saat itu saya masih belum bisa membuat Ayam geprek yang gurih. Jadi modal awal, terbuang sia-sia,” tutur Porto.

Porto yakin berbekal dengan modal kegigihan dalam memulai usaha kulinernya bisa berujung keberhasilan. ”Prinsip saya jualan dulu, belakangan baru memikirkan keuntungan. Kalau kita pikir keuntungan besar dalam memulai usaha, kita pasti gagal. Sebab, kita tidak akan melanjutkan usaha jika sudah gagal pertama kali,” ujarnya.

Dasar Porto memulai usaha kulinernya yaitu mempelajari minat pembeli saat ini. ”Pembeli itu ada beberapa kriteria. Ada pembeli yang mengutamakan kualitas dan ada juga pembeli yang mengutamakan kuantitas. Bahkan ada juga pembeli yang ketika berbelanja kuliner melihat dua faktor yaitu kualitas dan kuantitas,” jelas Porto.

Dengan pola mengetahui keinginan pembeli, Porto akhirnya menyimpulkan untuk membuat Ayam geprek dengan mengutamakan kuantitas atau banyaknya barang yang disajikan dengan harga terjangkau.

Tidak heran, dengan modal Rp13 ribu, kita sudah bisa menikmati paket Nasi Ayam Geprek di kedai Porto. Sedangkan untuk paket Ayam Bakar ditambah Nasi satu porsi, Porto bandrol dengan harga Rp20 ribu rupiah. Ada juga paket hemat dengan harga Rp10 ribu, yaitu Ayam Geprek Paha Bawah ditambah nasi satu porsi.

Porto mengatakan bagi UMKM kuliner tidak perlu berputus asa dengan adanya pemberlakukan PPKM oleh pemerintah. Sebab, berusah kuliner tidak mesti dengan cara door to door.

”Kita bisa mempromosikan usaha kita dengan memanfaatkan media sosial yang ada. Seperti Facebook, Instagram maupun MiChat,” jelas Porto.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!