Kakakku Nyaris Setubuhiku

waktu baca 3 menit
  • Penulis : Dekri Adriadi

Malam di Kolaka turun perlahan. Di antara deretan penginapan murah di pinggiran kota, Kembang duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang menyala hijau. MiChat. Aplikasi yang menjadi jembatan antara kesepian dan uang tunai.

Usianya baru dua puluh tahun, tapi sorot matanya lebih tua dari angka itu. Ia sudah hafal ritme malam: menunggu pesan, menawar, menentukan tempat, lalu menunggu lagi.
“Biasanya jam segini sudah ada yang japri,” gumamnya sambil menyalakan rokok, asapnya berputar pelan di udara kamar empat kali empat itu.

Setelah beberapa menit, notifikasi muncul.
“BO ST, bisa?”
Kembang menjawab cepat. “Bisa. 600 ribu.”
Negosiasi singkat terjadi, diakhiri kesepakatan di angka empat ratus ribu. “Oke, kamar kamu aja,” tulis si pria.

Tak sampai lima menit kemudian, suara ketukan terdengar di pintu. Kembang mematikan rokoknya, berdiri, dan membuka pintu separuh hati. Pria itu berdiri di depan, tubuhnya besar, tapi wajahnya tak jelas karena pencahayaan yang remang.
“Masuk aja, Mas,” katanya lirih, lalu bergegas ke kamar mandi, meninggalkan pria itu di ruang tamu kecil penginapan.

Ia tak tahu, malam itu akan jadi malam yang tak pernah ia lupakan.

Begitu Kembang keluar dari kamar mandi, lampu kamar sudah menyala terang. Wajah pria itu terlihat jelas.
Dunia Kembang seakan berhenti.

“Ka… Kak…” suaranya serak, hampir tak terdengar.

Pria itu menatapnya beberapa detik—wajahnya pucat, rahangnya menegang, lalu tanpa peringatan, tangannya melayang ke pipi Kembang.

Plak!
Satu tamparan keras.
Disusul tendangan ke arah perut.

“Apa-apaan ini, Kembang?! Kau… astaga!” suaranya parau, antara marah dan kaget.

Kembang terhuyung, air matanya jatuh tanpa sempat tertahan.
“Saya… saya nggak tahu kalau itu Kakak,” katanya terbata, suara kecil di tengah sesak yang tak bisa dijelaskan.

Kakaknya, seorang mantan anggota Satpol PP yang kini bekerja di perusahaan tambang, menatapnya lama. Tak lagi berkata apa-apa. Hanya diam, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa menutup pintu.

Kembang terduduk di lantai. Satu tangannya menahan perut, satu lagi menutup wajah. Hening. Hanya suara kipas angin yang berdecit.
Dalam diam itu, ia merasa seluruh rahasia hidupnya runtuh begitu saja.

“Lucu ya,” kata Kembang kini, beberapa bulan setelah kejadian itu, ketika kami duduk di teras rumah kos sederhana. Ia tertawa, tapi matanya kosong. “Saya nyaris… berhubungan sama Kakak sendiri. Dunia emang aneh.”

Ia mengisap rokoknya, lalu menatap jauh ke jalan.
“Kadang saya mikir, mungkin ini cara Tuhan negur saya. Tapi hidup nggak selalu punya pilihan, kan? Kalau bukan MiChat, saya nggak makan.”

Kembang tahu, dunia menilainya rendah. Tapi di balik pekerjaannya yang dianggap kotor, ada kenyataan yang lebih kompleks: kebutuhan, kesepian, dan nasib yang tak ramah.

Malam itu, di penginapan murah dengan cat dinding mengelupas, Kembang bukan hanya kehilangan pelanggan — ia kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Sejak saat itu, katanya, setiap kali layar MiChat-nya menyala hijau, ia selalu teringat satu hal: bahwa di dunia yang gelap, tak semua orang yang datang membawa cahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *