Jembatan Perintis Garuda Kembali Terbentang, Membuka Jalan Harapan Warga Wolo
KOLAKA, TRIASPOKITIKA.ID – Pagi itu, sebuah jembatan kembali membentang di atas jalur yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi warga. Bukan sekadar rangka besi dan lantai selebar 1,2 meter.
Bagi masyarakat Desa Lalonggopi dan Desa Lalonaha, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, jembatan itu adalah jalan pulang, jalan ke sekolah, sekaligus jalan bagi hasil bumi untuk sampai ke pasar.
Jembatan Perintis Garuda resmi digunakan kembali setelah diresmikan Komandan Kodim 1412/Kolaka Letkol Inf. Choky Gunawan, Kamis, 13 Agustus 2026.
Jembatan gantung sepanjang 35 meter dengan lebar 120 sentimeter itu dibangun dalam waktu sekitar tiga bulan. Kehadirannya menghidupkan kembali akses yang sempat terputus akibat kerusakan jembatan lama.
Bagi warga, peresmian itu bukan sekadar seremoni. Ada napas lega yang terasa di antara lalu-lalang warga.
Makmur, warga Desa Lalonggopi, masih mengingat ketika jembatan lama mulai kehilangan fungsinya. Jembatan tersebut dibangun pemerintah daerah sekitar 2016-2017. Namun, beberapa tahun kemudian kondisinya rusak dan tak lagi aman digunakan.
“Alhamdulillah, jembatan ini sangat meringankan beban masyarakat,” kata Makmur.
Sebelum jembatan baru berdiri, warga harus mencari jalur alternatif. Bagi masyarakat Desa Lalonaha, pilihan itu berarti perjalanan yang lebih jauh, terutama bagi anak-anak yang hendak bersekolah dan petani yang membawa hasil kebun.
Jarak yang semestinya dapat ditempuh dalam waktu singkat berubah menjadi perjalanan berkilometer.
Moris, warga Desa Lalonaha, mengatakan jembatan baru memangkas waktu perjalanan siswa menuju sekolah. Jika sebelumnya mereka harus menempuh perjalanan hingga sekitar satu jam melalui jalur alternatif, kini waktu perjalanan dapat dipangkas menjadi sekitar 20 menit.
“Utamanya bagi kami yang kerap menjual hasil bumi, tidak perlu memilih akses lain yang cukup jauh,” ujar Moris.
Di desa itu, kehidupan bergerak dari tanah. Cengkeh, kakao, dan padi sawah menjadi bagian dari penghidupan warga. Setiap hasil panen yang keluar dari kebun bukan hanya membawa komoditas, tetapi juga membawa harapan keluarga.
Jembatan itu menjadi penghubung antara kebun dan rumah, antara rumah dan sekolah, juga antara warga satu desa dengan desa lainnya.
Plt. Camat Wolo Taslim Muthalib mengatakan jembatan tersebut merupakan akses penting bagi ratusan warga setiap hari. Selain menghubungkan Desa Lalonggopi dan Desa Lalonaha, akses itu juga kerap digunakan warga Kelurahan Wolo.

“Jembatan ini merupakan akses satu-satunya masyarakat, baik anak-anak yang mau bersekolah maupun masyarakat yang menjual hasil bumi,” kata Taslim.
Menurut dia, jembatan lama sempat dibangun menggunakan anggaran APBD. Seiring waktu, struktur jembatan mengalami kerusakan akibat kondisi cuaca dan tidak lagi dapat digunakan secara optimal.
Ketika akses itu terputus, warga harus memutar. Aktivitas ekonomi pun ikut tersendat. Kini, situasinya berubah.
Hasil kebun warga dari kawasan sekitar Lalonaha kembali dapat dibawa melalui jalur yang lebih dekat. Warga yang memiliki keluarga atau keperluan di desa seberang juga tidak perlu lagi mengambil jalan memutar.
Jembatan tersebut bahkan menjadi salah satu akses menuju Puncak Harapan, sehingga keberadaannya turut membuka kembali jalur bagi wisatawan yang hendak menuju kawasan tersebut.
Taslim menyebut pembangunan jembatan menjadi bukti kehadiran pemerintah di tengah kebutuhan masyarakat.
“Alhamdulillah, negara hadir. Program ini dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.
Namun, menurut dia, pembangunan hanyalah awal. Warga dan pemerintah desa diminta menjaga jembatan tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam waktu panjang.
Ia berharap setiap kerusakan kecil segera dilaporkan kepada pemerintah desa atau kecamatan sehingga dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
“Kami berharap warga ikut terlibat melakukan pemeliharaan. Tolong dijaga jembatan ini. Kalau ada sedikit kerusakan, segera disampaikan kepada pemerintah desa atau pemerintah kecamatan agar kita sama-sama melakukan pemeliharaan,” katanya.
Taslim juga menyampaikan apresiasi kepada para prajurit Kodim 1412/Kolaka yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut.
“Tak luput kami menghaturkan terima kasih kepada prajurit dari Kodim Kolaka yang sudah bergotong royong membangun jembatan, tanpa mengenal lelah,” ujarnya.
Dibangun Setelah Melihat Kebutuhan Warga
Letkol Inf. Choky Gunawan mengatakan pembangunan Jembatan Perintis Garuda merupakan hasil koordinasi antara TNI dan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah sebelumnya menyampaikan sejumlah titik jembatan di Kabupaten Kolaka yang membutuhkan pembangunan maupun perbaikan. Dari beberapa lokasi tersebut, dilakukan pembahasan untuk menentukan titik yang paling membutuhkan penanganan.
“Pemerintah daerah memberikan beberapa titik jembatan di Kabupaten Kolaka yang perlu dibuat atau diperbaiki. Setelah melalui koordinasi pimpinan, lokasi tersebut dinyatakan sebagai prioritas pembangunan jembatan,” kata Choky.
Kini, jembatan itu telah berdiri. Panjangnya memang hanya 35 meter. Lebarnya pun tak lebih dari 1,2 meter. Namun bagi warga Lalonggopi, Lalonaha, dan Kelurahan Wolo, ukuran itu tidak pernah menjadi soal.
Sebab yang dibentangkan bukan hanya sebuah jembatan. Ada jarak yang dipangkas. Ada waktu yang dikembalikan. Ada hasil kebun yang lebih cepat sampai ke rumah. Ada anak-anak yang dapat bersekolah tanpa harus menempuh perjalanan berputar. Dan ada kehidupan yang kembali mengalir dari satu sisi ke sisi lainnya.
Jembatan Perintis Garuda kini menjadi penghubung sederhana yang membawa arti besar, ketika sebuah jalan kembali terbuka, harapan masyarakat pun ikut menemukan jalannya.
- Penulis: Dekri







