Dua Dekade Pilkada Langsung: Lansia Tetap Setia Menjaga Nyala Demokrasi
Dua puluh satu tahun perjalanan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung di Indonesia tidak hanya menjadi catatan evolusi politik nasional, tetapi juga kisah kesetiaan rakyat terhadap demokrasi. Di antara jutaan pemilih yang menggunakan hak suaranya pada Pilkada 2024 lalu, kelompok lanjut usia (lansia) tampil sebagai simbol keteguhan, menjadi saksi hidup perubahan sistem politik sejak masa Orde Baru hingga era digital hari ini.
Bagi banyak lansia, Pilkada bukan sekadar momentum politik, melainkan panggilan moral dan kenangan akan perjuangan menegakkan kedaulatan rakyat. Di berbagai daerah, para pemilih berusia di atas 60 tahun datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan penuh semangat, sebagian bahkan harus dibantu berjalan atau diantar keluarga, demi memastikan suara mereka tetap dihitung.
Di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, misalnya, Sutarmi (74) datang lebih awal ke TPS meski harus menggunakan tongkat. “Saya sudah ikut memilih sejak zaman kepala daerah masih dipilih DPRD. Sekarang, meski sudah tua, tetap ingin datang. Ini hak saya,” ujarnya dengan senyum bangga.
Kisah seperti Sutarmi bukanlah hal langka. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih lansia dalam Pilkada Serentak 2024 mencapai lebih dari 23 juta orang, atau sekitar 12 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) nasional. Meski di tengah tantangan kesehatan dan keterbatasan mobilitas, tingkat partisipasi lansia tercatat tinggi di banyak daerah—sebuah fenomena yang mencerminkan kedewasaan politik di tingkat akar rumput.
Ketua KPU RI, Hasyim Asy’ari, menyebut keikutsertaan lansia sebagai “wajah paling tulus demokrasi.”
“Banyak pemilih lansia datang dengan kursi roda atau dibantu keluarga, tapi semangat mereka luar biasa. Ini membuktikan bahwa demokrasi bukan hanya milik generasi muda, tetapi juga mereka yang sudah berpuluh tahun menjadi saksi perjalanan bangsa,” katanya di Jakarta, Senin (28/10).
Dari Masa DPRD ke Era Digital
Bagi para lansia, perubahan sistem Pilkada dari pemilihan oleh DPRD menjadi pemilihan langsung pada tahun 2005 merupakan tonggak bersejarah. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana suara rakyat kini benar-benar menentukan nasib kepemimpinan daerah.
Menurut Dr. Luthfi Yusran, pengamat politik Universitas Indonesia, kehadiran lansia dalam Pilkada bukan sekadar angka partisipasi, melainkan simbol kontinuitas sejarah politik nasional.
“Sebagian besar lansia yang masih memilih adalah generasi yang pernah hidup dalam sistem tertutup. Mereka mengalami transisi demokrasi dan kini menjadi penjaga nilai partisipasi. Ini penting sebagai pembelajaran bagi generasi muda,” ujarnya.
Namun, kehadiran lansia di TPS juga menyoroti tantangan baru dalam penyelenggaraan Pilkada. Faktor kesehatan, transportasi, dan aksesibilitas masih menjadi persoalan. KPU mencatat, di sejumlah wilayah pedalaman seperti Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara, banyak lansia yang kesulitan mencapai TPS karena jarak dan medan yang berat.
Untuk mengatasi hal itu, KPU bersama aparat desa dan relawan demokrasi menyediakan layanan jemput pemilih lansia serta TPS ramah disabilitas. Upaya ini dinilai efektif meningkatkan partisipasi, terutama di daerah terpencil.
Kesetiaan yang Tak Pudar
Di Muna Barat, Sulawesi Tenggara, seorang kakek berusia 83 tahun, La Pande, menolak diwakilkan saat keluarganya menawarkan untuk mengurus surat pindah memilih. “Selama masih bisa jalan, saya sendiri yang datang ke TPS. Saya mau lihat sendiri siapa yang saya pilih,” ujarnya tegas.
Bagi La Pande dan jutaan lansia lainnya, Pilkada bukan hanya pesta demokrasi, melainkan penghormatan terhadap hak yang telah mereka perjuangkan sejak lama. “Generasi kami dulu tidak bebas memilih. Sekarang sudah bebas, masa mau disia-siakan?” katanya.
Fenomena itu, menurut KPU, menunjukkan bahwa usia tidak menghalangi partisipasi politik. Bahkan di sejumlah daerah, para lansia ikut menjadi panitia TPS, relawan pengawas, hingga tokoh masyarakat yang aktif mengajak warga untuk tidak golput.
21 Tahun Demokrasi Lokal yang Matang
Pilkada langsung yang telah berjalan selama 21 tahun menjadi barometer kedewasaan politik bangsa. Dari sistem perwakilan elitis menuju partisipasi rakyat, demokrasi lokal terus berkembang, dan partisipasi lansia menjadi salah satu indikator kuatnya rasa kepemilikan warga terhadap sistem itu.
“Pilkada adalah ruang bersama. Lansia menunjukkan kepada kita bahwa partisipasi politik tidak mengenal usia. Justru dari mereka, kita belajar arti kesetiaan terhadap demokrasi,” ujar Hasyim Asy’ari.
Kini, menjelang Pilkada Serentak 2029, pemerintah dan penyelenggara pemilu tengah menyiapkan inovasi baru—termasuk digitalisasi data pemilih dan pelayanan inklusif bagi kelompok rentan. Semua diarahkan agar setiap warga, tanpa kecuali, bisa tetap berpartisipasi aktif dalam menentukan arah kepemimpinan daerah.
Dua dekade lebih perjalanan Pilkada langsung bukan hanya kisah tentang sistem yang matang, tetapi juga tentang manusia-manusia yang menjaganya. Dari generasi muda yang baru pertama mencoblos hingga para lansia yang datang dengan langkah perlahan, semuanya bersatu dalam satu pesan: demokrasi hidup karena rakyat tidak berhenti percaya pada suara mereka sendiri.
Penulis: Dekri Adriadi







