Dari Magang ke Manajer: Maharani dan Jalan Hijau di Lindungi Hutan

waktu baca 2 menit
Maharani kini bukan sekadar manajer. Ia adalah simbol dari visi LindungiHutan

SEMARANG, TRIASPOLITIKA.ID — Perjalanan Maharani Dwi Rahmadani dari mahasiswa magang hingga menjabat Manajer Eksekusi Bisnis di LindungiHutan menjadi potret bagaimana generasi muda bisa memainkan peran penting dalam upaya pelestarian lingkungan, tidak hanya lewat aktivisme, tapi juga melalui jalur profesional.

Kisahnya dimulai pada 2020, ketika ia mengikuti program magang yang dibuka organisasi konservasi tersebut. Berbekal latar belakang pendidikan Manajemen dan ketertarikan terhadap isu lingkungan, Maharani tak hanya terlibat dalam tugas administratif, tapi aktif turun langsung dalam kegiatan operasional serta menjalin komunikasi dengan petani dan mitra lokal.

“Kerja konservasi bukan hanya soal menanam pohon, tapi juga membangun hubungan dan menciptakan sistem yang berkelanjutan,” ujar Maharani dalam wawancara, Kamis, 29 Mei 2025.

Selepas masa magang, Maharani mendapat tawaran untuk bergabung penuh waktu. Seiring waktu, ia dipercaya menempati berbagai posisi strategis hingga akhirnya diangkat menjadi Manajer Eksekusi Bisnis. Dalam peran tersebut, Maharani bertugas mengoordinasikan jalannya program konservasi, menjembatani relasi dengan mitra korporasi, hingga menyusun laporan dampak dan strategi bisnis yang selaras dengan misi pelestarian alam.

Peran itu menjadikannya tokoh sentral dalam penghubung antara perusahaan yang menjalankan program CSR dan komunitas lokal sebagai pelaksana konservasi di lapangan.

Tempat Tumbuh Generasi Hijau

Transformasi Maharani menggambarkan wajah baru gerakan lingkungan: profesional, kolaboratif, dan berbasis dampak. Budaya kerja di LindungiHutan yang terbuka dan berorientasi pada misi dianggap memberi ruang luas bagi anak muda untuk berkembang sembari memberikan kontribusi nyata bagi bumi.

“Setiap orang bisa terlibat dalam gerakan lingkungan, termasuk melalui jalur profesional,” kata Maharani.

Kisahnya menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan. Di tengah urgensi krisis iklim, profil seperti Maharani menjadi aset berharga bagi organisasi lingkungan.

LindungiHutan, sebagai organisasi konservasi berbasis kolaborasi, melihat peran anak muda sebagai tulang punggung gerakan. Dengan lebih dari sekadar ruang kerja, organisasi ini menjadi tempat belajar dan bertransformasi.

Maharani kini bukan sekadar manajer. Ia adalah simbol dari visi LindungiHutan: bahwa dampak nyata lahir dari semangat kolaborasi, ketekunan, dan keberlanjutan yang dijalankan dengan penuh kesadaran.(**)