ANTAM Kolaka Dorong Ekonomi Biru Lewat Pengembangan Budidaya Teripang
KENDARI, TRIASPOLITIKA.ID – PT ANTAM (Persero) Tbk Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Nikel Kolaka mendorong pengembangan ekonomi biru berbasis potensi lokal melalui program budidaya teripang yang melibatkan masyarakat pesisir Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Upaya tersebut disampaikan ANTAM dalam Seminar Nasional Oseanografi Kepulauan Tropis Series 1 Tahun 2026 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Oseanografi Universitas Halu Oleo (UHO) di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UHO, Kendari, Senin (19/10).
Seminar bertema “Inovasi Ilmu dan Teknologi Oseanografi untuk Mewujudkan Ekonomi Biru yang Berkelanjutan di Kepulauan Tropis” itu diikuti sekitar 200 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan praktisi.
ANTAM UBP Nikel Kolaka diwakili Anggoro Dwi Saputro, Community Development Work Unit Head, yang membawakan materi bertajuk “Teripang Pasir dan Ekonomi Biru: Kolaborasi Industri untuk Kemandirian Masyarakat Pesisir”.
Dalam paparannya, Anggoro memperkenalkan Program Mattiro Wale Blue Hatchery Teripang di Desa Tambea, Kabupaten Kolaka, sebagai salah satu inisiatif pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan potensi sumber daya pesisir melalui budidaya berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas sektor.
Program tersebut dikembangkan melalui kerja sama ANTAM dengan Universitas Halu Oleo dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terutama dalam pengembangan proses pembenihan teripang.
“Kami membutuhkan banyak masukan dari para akademisi dan pakar untuk mendukung keberlanjutan Program Blue Hatchery Teripang di Desa Tambea. Kami berharap program ini dapat terus berkembang dan direplikasi di daerah lain yang memiliki potensi budidaya teripang,” kata Anggoro.
Ia menjelaskan, pengembangan program tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara bertanggung jawab.
Sebagai bagian dari rencana pengembangan, ANTAM juga merencanakan skema restocking atau pengembalian bibit teripang ke habitat alaminya sebesar 5–10 persen dari hasil produksi pembenihan.
Rencana tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan populasi teripang di perairan. Pelaksanaannya akan mempertimbangkan kajian ilmiah dan masukan para ahli agar kegiatan budidaya tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem.
ANTAM menilai pengembangan ekonomi biru tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan potensi laut sebagai sumber penghidupan, tetapi juga perlu memperhatikan kelestarian sumber daya hayati dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.
Seminar tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari sektor akademik, pemerintah, industri, dan teknologi.
Muhammad Iqbal dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University membahas inovasi teknologi kelautan untuk mendukung pengelolaan pesisir dan laut Indonesia.
Sementara itu, Faizal Habibie, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Kendari, memaparkan peran data dan informasi oseanografi dalam peringatan dini serta keselamatan maritim.
Narasumber lainnya, Umaidi Suhari dari PT Terra Drone Indonesia, menyampaikan pemanfaatan teknologi pesawat nirawak atau drone untuk pemetaan dan pemantauan wilayah pesisir kepulauan tropis.
Beragam perspektif tersebut menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan masyarakat dalam menjawab tantangan pengelolaan wilayah pesisir dan laut.
Bagi ANTAM UBP Nikel Kolaka, forum akademik itu menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman, memperoleh masukan ilmiah, serta memperluas kerja sama dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi wilayah.
Melalui pengembangan budidaya teripang dan kolaborasi lintas sektor, ANTAM berharap potensi sumber daya pesisir dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Perusahaan juga mengapresiasi Himpunan Mahasiswa Program Studi Oseanografi UHO atas penyelenggaraan seminar yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, praktisi, dan pelaku industri dalam mendorong inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
- Reporter: A. Jamal







