Selalu Ada Makna di Balik Peristiwa

waktu baca 6 menit

Oleh : Ridwan Demmatadju
Pengiat Media Sosial Kolaka

Adakah yang lebih indah dari sebuah persahabatan atau teman rasa saudara? Pernyataan ini kerap kali kita dengar dalam obrolan saat bicara seberapa dekat dan pedulinya seseorang yang kita anggap sahabat atau teman dengan rasa saudara. Karena banyak orang yang meski dianggap teman atau melebihi dari saudara namun kadang dia tak peduli ketika ada yang membutuhkan pertolongan dalam situasi darurat.

Semisal yang saya alami tadi jelang senja, di perjalanan menuju rumah kawan saya di Wundulako, saya sengaja lewat jalur by pass masuk jalan beraspal ke arah Desa Towua untuk memperpendek jarak tempuh kendaraan yang saya gunakan. Tentu semua ada pertimbangan hemat bahan bakar sekaligus saya bisa menikmati pemandangan sawah dan gunung di tengah rinai hujan.

Belum sampai di tujuan tetiba saja mobil avanza silverku tak mau bunyi mesinnya alias mogok. Tepat di Desa Towua 1 mobil saya parkir karena tak lagi bisa bergerak meski semua cara sudah saya coba termasuk didorong oleh dua anak muda yang saya cegat untuk minta bantuannya. Di dorong pun tak bisa.

Akhirnya saya biarkan saja mobil dipinggiran aspal itu, sembari mendinginkan mesinnya, sebatang rokok 234 menemani menghadapi situasi darurat di perjalanan. Sembari menyulut sebatang rokok saya pun menghubungi beberapa nama teman yang saya anggap bisa membantu menghidupkan mesin mobilku.

Lagi-lagi, untuk menghadapi situasi seperti ini di perjalanan saya sudah terbiasa dan tidak panik atau ketakutan. Sudah menjadi biasalah, kerap kali saya hadapi dengan tenang sambil mencari jalan untuk menghubungi teman-teman terdekat yang memiliki ilmu soal otomotif, atau seorang mekanik. Bisa juga siapa saya yang saya kenal dan mau membantu memberikan pertolongan.

Dan saya selalu yakin, pertolongan itu selalu datang di waktu yang tepat.Oleh karena itu saya tetap tenang sambil menunggu teman ditemani sebatang rokok. Orang pertama yang saya telpon adalah Herman Syahruddin, dia sahabat saya yang selalu setia dan peduli.

Soal kesetiakawannya saya dengan dia sudah teruji bertahun-tahun lamanya.Tentu banyak cerita dan peristiwa yang sudah kami lewati berdua untuk menilai seberapa kental persahabatan kami.

Saat saya telpon dia tidak bisa ke TKP karena dia tidak punya kendaraan dan cuaca tidak bersabat, di Kolaka hujan deras terlihat dari kejauhan, sampai di tempat mobil saya macet masih hujan gerimis. Meski begitu dia mengirimkan nomor hape yang bisa saya panggil memperbaiki mobilku. Pemandangan mulai gelap di hamparan sawah sampai ujung jalan terlihat sinar lampu kendaraan lalu-lalang seperti tak peduli, dan itu biasa terjadi karena tak saling kenal.

Saya masih berdiri di depan mobil sambil membuka kap mesin dan memeriksa kembali semua kabel yang berhubungan dengan kelistrikan mobil, namun terlihat tak membuahkan hasil. Tetap tidak mau. Saat saya telpon Om Cambang, begitu dia kami sapa, dia janji akan datang selepas magrib.

Telepon saya matikan.Selepas magrib dia pun datang, dan mencoba menghidupkan mesin mobilku lagi-lagi dia tak berani mengutak-atik karena menurutnya mobil sekarang itu menggunakan sistem digital.

Harus pakai alat untuk menemukan secara cepat kerusakannya. Rupanya Om Cambang, buang handuk alias angkat tangan untuk urusan mobil dengan sistem digital semua. Walaupun begitu saya sangat menghargai kedatangannya saat saya butuh pertolongan di situasi darurat. Rumahnya cukup jauh dari TKP, dia tinggal tidak jauh dari Pintu Gerbang Kowioha, tepatnya di samping rumah H.Arifin Latumaa, bagi orang Kolaka sosok H.Arifin Latumaa, cukup dikenal sebagai Tokoh Masyarakat Mekongga.Om Cambang, tak peduli hujan dia tembus sampai di TKP.

Nama Mustari Muhammad pun terlintas dibenak saya untuk saya hubungi. Dua nomor di kontak hapeku, dan nomor hpnya terkoneksi dengan WA nya pun saya hubungi lewat percakapan WA disusul kami bertelepon dan saya menjelaskan musabab mobilku tak mau hidup saat start engine. Akhirnya dia bilang selepas magrib dia ke tempat saya menunggu di sebuah rumah panggung di pinggiran sawah itu.

Rupanya rumah panggung tempat saya menunggu itu dihuni oleh alumni Tahun 2016 di SMK Negeri Baula, namanya Abdul Hafid. Menyebut nama Mustari Muhammad, “Dia kepala sekolahku dulu”katanya sembari pamit ke dalam untuk sholat magrib.

Tak berapa lama usai magrib, mobil warna kuning tiba di depan rumah panggung, saya pun bergegas turun melewati tangga kayu, merapat di mobilnya Mustari yang masih menjabat Kepala Sekolah di SMK Negeri 2 Baula, hubungan persaudaraan kami sudah terjalin hampir 10 Tahun, saat ada hajatan Pilkada di Kabupaten Kolaka, dan pertemuan pertama dengannya di sebuah wakop di bilangan jalan Pemuda Kolaka, namanya Warkop KNPI Kolaka, di warkop inilah saya mengenal sosoknya dan ternyata juga alumni Universitas Negeri Makassar dulunya saat saya masih kuliah bernama IKIP Ujungpandang, saya alumni terakhirnya IKIP Ujunpandang.

Karena kami satu almamater, ditambah saya lebih senior maka saya mau tidak mau suka atau tidak, siap disapa kakanda. Begitulah tradisi yang masih terjaga sesama alumni IKIP atau UNM.Senior dan Yunior harus saling menghargai😁.

Meski saya lebih tua usia dari adindaku Mustari ini, tapi saya tetap harus hormat dan menghargai jabatannya sebagai orang yang dapat kepercayaan dari Bupati Kolaka dan Gubernur Sulawesi Tenggara untuk memimpin sebuah sekolah kejuruan dengan banyak prestasi di lomba uji kompetensi level nasional.

Maka tak heran jika sekolahnya selalu mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara di ajang lomba tingkat Nasional. Buat saya tak meragukan kemampuannya dalam memajukan sebuah sekolah kejuruan, karena dia punya ilmu dan talenta kepemimpinan paripurna. Bahkan skill interpreneur pun dia miliki, jadi untuk urusan dunia usaha dan industri bukan hal yang sulit untuk disinergikan sebagai mana visi sekolah kejuruan.

Tak butuh waktu lama, mobilku dihidupkan.Hatikupun senang dan harus menyampaikan pujian kepadanya. “Memang kalau ahlinya-ahli di bidangnya”kataku, didengar Om Cambang yang berdiri di sampingku. Usai menghidupkan mesin mobilku adindaku pun keluar dari kabin mobil dan memberikan sedikit penjelasan jika kejadian seperti ini terulang begini caranya supaya bisa mesin dihidupkan kembali. Terlihat simpel dan sederhana baginya. Namun bagi yang tak punya ilmu soal otomotif pasti sulit dan tidak mudah dilakukan.

Hujan gerimis masih membasahi jalan aspal tempat mobilku macet dan kini sudah bisa bergerak pulang.Tak ada yang patut saya ucapkan selain rasa terima kasih yang tak ternilai lagi untuk kebaikan seorang yang mau peduli dan meluangkan waktunya menolong sesama manusia yang butuh pertolongan. Di tengah gelapnya malam dan hujan gerimis masih ada yang mau menolong.

Padahal,gampang saja untuk cari alasan untuk lolos dari kerepotan itu, dan bisa dimaklumi dengan kondisi hujan, gelap dan sulit dijangkau. Tapi tidak baginya. Dia datang dan hatiku senang mobil kembali bisa melaju pulang ke rumah di Watuliandu.

Dari catatan perjalanan saya tadi sore menjelang magrib saya kembali dipaksa untuk merenungkan setiap peristiwa yang bagi orang itu tidak menyenangkan bahkan bisa bikin sakit kepala ketika menghadapi musibah atau masalah dalam hidupnya. Justeru saya menemukan banyak makna tak ternilai di balik peristiwa tak baik menurut ukuran manusia biasa.

Nah, untuk bisa naik di tingkat ini, anda harus bisa jadi manusia luar biasa.Saya yakin yang mau menolong dan di tolong itu adalah dua manusia luar biasa.Dia selalu berpikir di luar kebiasaan.😀 begitulah hidup dan sekenarionya. Hari ini menolong besok lusa akan datang kebaikan sekaligus keberkahaan yang tak pernah kita duga. Jadi, baiknya berikanlah pertolongan itu dengan penuh keikhlasan.Tuhan itu, maha melihat dan mengetahui segala di alam semesta Titik(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *