Pulihkan Laut Indonesia, PT Vale Tanam Terumbu Karang dan Angkat 200 Kg Sampah di Pulau Bulupoloe
LUWU TIMUR, TRIASPOLITIKA.ID – Di tengah krisis iklim global dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati laut, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dengan melakukan restorasi ekosistem pesisir di Pulau Bulupoloe, Sulawesi Selatan.
Sebanyak 25 struktur terumbu karang buatan (spider reef) ditanam, dan lebih dari 200 kilogram sampah diangkat dari garis pantai dalam aksi bersih laut yang digelar pada Sabtu (27/7).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang PT Vale dalam menjaga ekosistem laut, sekaligus memperkuat kontribusi sektor industri terhadap isu lingkungan.
Tidak hanya berhenti pada proses penanaman, perusahaan juga memastikan seluruh struktur karang buatan dimonitor secara berkala oleh tim penyelam profesional dari Sorowako Diving Club (SDC). Proses pemantauan dilakukan menggunakan metode visual census dan pencitraan bawah laut untuk mengukur pertumbuhan karang, kehadiran spesies laut, serta kualitas perairan secara ilmiah dan terukur.
“Restorasi laut tidak cukup hanya dengan menanam. Kami pastikan proses monitoring dilakukan secara berkelanjutan. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar pulih dan hidup kembali,” ujar Suharpiyu Wijaya, Head of IGP Sorowako Limonite PT Vale.
Koordinator proyek transplantasi, Moh Rendra Gunawan Nading dari SDC, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan PT Vale telah rutin dilakukan dalam berbagai kegiatan konservasi, mulai dari reef check, edukasi diving, hingga pembersihan pantai.
“Untuk kegiatan transplantasi terumbu karang jenis spider reef, ini yang pertama kali. Ke depan, SDC tetap terlibat dalam monitoring dan pengembangan kegiatan serupa,” kata Rendra.
Inisiatif ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk TNI AL Lantamal VI Makassar, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), dan BPSPL Makassar.
Komandan Lantamal VI Makassar, Brigjen TNI (Mar) Dr. Wahyudi, menyebut kegiatan ini sebagai contoh kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan laut Indonesia.
“Tugas besar seperti ini tak bisa dilakukan sendiri. Sinergi antara TNI, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil adalah kunci untuk menjaga kelestarian laut kita,” tegas Wahyudi.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap 26 Juli sebagai pengingat pentingnya peran kolektif dalam menjaga ekosistem maritim secara berkelanjutan.
Restorasi laut ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan PT Vale berdasarkan standar internasional. Chief Human Capital Officer PT Vale, Adriansyah Chaniago, menekankan bahwa kontribusi positif terhadap lingkungan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas pertambangan.
“Kami percaya bahwa menjaga laut adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang berkelanjutan. Restorasi ini adalah bentuk nyata filosofi kami bahwa keberlanjutan bukan sekadar komitmen, tapi tindakan,” ujarnya.
Hingga kini, PT Vale telah menanam total 150 unit spider reef di berbagai titik. Selain memperkaya habitat laut, struktur ini diharapkan menarik kembali ikan-ikan lokal, mendukung perekonomian nelayan, dan meningkatkan kualitas ekosistem perairan. Pelibatan masyarakat, mulai dari pelatihan penyelam lokal hingga edukasi anak muda tentang pentingnya kelestarian laut, juga menjadi bagian integral dari pendekatan perusahaan.
Dari Pulau Bulupoloe—sebuah pulau kecil di Sulawesi Selatan—sebuah harapan besar muncul: bahwa melalui kolaborasi, transparansi, dan aksi nyata, laut Indonesia bisa pulih kembali, satu | karang demi satu.
Editor: Triaspolitika.id







