Pulau Indo, Riwayatmu Kini
Oleh: Ona Rahayuna Dkk (Firman, Shania Aulia Yunus, K. Sukiadi) Mahasiswa teknik sipil Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBKM) Mubar
Di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tepatnya di Kabupaten Muna Barat (Mubar) terdapat pulau yang dulu menjadi ikon wisata. Pulau Indo begitu masyarakat sekitar menyebutnya, keindahan dan keunikannya membuat siapapun terkesima.
Diketahui, pulau kecil berpasir putih dengan ukuran 350 m x 75 m dan terletak pada gugusan kepulauan Tiworo, sebelah barat Pulau Muna ini, memiliki nilai estetis yang tidak kalah menariknya dengan destinasi wisata pantai yang ada di luar daerah Mubar.
Pulau Indo sempat menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang menawarkan keindahan alam yang memukau, air laut yang biru dan jernih, pasir putih yang panjang serta angin sepoi-sepoi dan disuguhi dengan pemandangan sunset sore hari menambah kesempurnaannya.
Tapi itu dulu. Kini Pulau Indo nyaris tak berpengunjung, daya tariknya seolah punah. Tak adanya perhatian serius dari Pemerintah setempat serta tangan- tangan jahil oknum yang tak bertanggung jawab “merampok” keestetikan Pulau yang digadang-gadang bakal menjadi destinasi wisata nomor Wahid yang mampu mendongkrak perekonomian di Bumi Praja Laworoku.
Plang nama destinasi wisata, gasebo-gasebo, taman-taman hingga listrik tenaga surya nyaris tak nampak lagi di Pulau yang pernah di Ekpose di Acara Laptop Si Unyil Trans7 2017 silam itu. Apalagi yang diharapkan untuk menarik minat wisatawan jika kondisi ini sudah terjadi di depan mata?.
Para wisatawan kini lebih tertarik untuk menghilangkan jenuhnya di pantai Napabale, Meleura (Muna) bahkan di Labobo di Buton Tengah. Bukan saja di Pulau Indo, destinasi wisata lain yang ada di Mubar saat ini sudah kurang diminati oleh pengunjung.
Melihat kondisi ini, siapa yang patut kita salahkan? Pemerintah? Atau Masyarakat/orang-orang yang jail dan tidak bertanggung jawab untuk merawat Pulau Indo?.. Tentu kedua bela pihak ini harus sama-sama mengambil peran untuk bertanggung jawab kembali menghidupkan destinasi wisata yang ada di Pulau Indo.
Akan tetapi, menghidupkan pariwisata tidak seperti membalikkan telapak tangan. Butuh program dan perencanaan anggaran yang matang. Sebab jika program pariwisata hanya sekadar menggugurkan kewajiban, maka pariwisata kita akan biasa saja. Tak akan menarik orang untuk datang berkunjung. Tak akan mendongkrak ekonomi.
Kita ketahui bersama, ada dua jenis wisatawan, yakni lokal dan mancanegara. Keduanya memiliki minat berbeda terhadap potensi wisata yang disajikan.
Untuk itu, Penulis sedikit memberikan semacam usulan kepada pemangku kepentingan terkait pengembangan wisata yang penulis ketahui.
1. Menetapkan Wisata Unggulan
Dari sekian banyaknya potensi wisata, pemerintah daerah harus menetapkan wisata unggulan yang berpotensi untuk didatangi wisatawan.
Wisata yang paling diminati oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara adalah seni, budaya, kuliner dan panorama alam yang alamiah.
Di Muna Barat, beberapa jenis wisata budaya yaitu, perkelahian kuda dan layangan dari daun ubi hutan. Kedua potensi wisata ini sudah cukup terkenal tinggal dipoles. Bisa menarik wisatawan mancanegara.
Wisatawan mancanegara kepincut dengan pariwisata yang natural, unik dan identik dengan budaya masyarakat setempat.
2. Menetapkan kalender wisata
Tanpa ada kalender wisata, kita tidak bisa menetapkan program pengembangan pariwisata. Kalender wisata ini menjadi bagian dari program terpadu, jangka panjang dan terukur.
Dengan kalender wisata, wisatawan mancanegara bisa mengatur waktu untuk berkunjung. Tentunya, wisata yang dimaksud menarik bagi mereka.
3. Promosi yang gencar
Promosi wisata ini adalah sesuatu yang penting bagi pemerintah daerah. Promosi dimaksud harus melibatkan media massa, influencer, pegiat media sosial, youtuber, floger, tiktoker, dan media sosial lainnya.
Keberadaan mereka sangat penting di era digitalisasi ini. Tanpa mereka, wisatawan mancanegara tak akan pernah tahu potensi wisata kita.
Tentu, menghadirkan pegiat media sosial ini butuh biaya. Tak bisa hanya sebatas mengumbar air liur. Makin ramai di media sosial, pariwisata kita makin menarik untuk dikunjungi.
4. Pembangunan Pariwisata berbasis lingkungan
Program seperti ini untuk menghindari wisata ‘betonisasi’. Proyek pariwisata ini menggiurkan karena anggaran yang besar. Namun, jika orientasi berpikirnya adalah proyek dan keuntungan, sama saja kita membuang garam di laut.
Lebih baik, pariwisata dikelola dengan ramah lingkungan. Lebih menarik orang luar untuk berkunjung. Sebab, wisatawan mancanegara sudah kenyang dengan betonisasi dan bangunan tinggi. Mereka ingin melihat hal baru yang jarang dinikmati di kehidupan mereka.
5. Melatih masyarakat untuk lebih kreatif
Kita mesti lebih kreatif menciptakan karya agar wisatawan mau membuang uangnya di daerah kita. Contoh kecilnya, souvenir.
Barang-barang ini memiliki nilai jual dan memantik pengunjung. Apalagi, souvernirnya berupa ciri khas suatu daerah. Tugu sapi kah, atau apalah.
Terakhir, pariwisata kita tidak akan terkelola dengan baik bila pemerintahnya setengah hati. Apalagi bilang anggaran tidak ada.(*)







