PT Vale Terapkan Reklamasi Berkelanjutan di Morowali, Pulihkan Ekosistem Pascatambang

waktu baca 2 menit

MOROWALI, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan menerapkan sistem reklamasi berkelanjutan di wilayah operasionalnya.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan fasilitas pembibitan (nursery), penanaman kembali vegetasi lokal, serta pemulihan kondisi topografi di area bekas tambang.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memastikan keberlanjutan ekosistem pascatambang.

Head of Bahodopi Project IGP Morowali, Wafir, mengatakan program reklamasi yang dijalankan disusun secara teknis dan ilmiah melalui berbagai inisiatif restorasi dan rehabilitasi lingkungan.

“Program ini tidak hanya fokus pada pemulihan lahan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya, baru-baru ini.

Salah satu program yang dijalankan adalah konservasi tanaman lokal menggunakan metode rootball (gali akar). Sebanyak 2.000 batang tanaman dengan tinggi maksimal 2,5 meter dikonservasi untuk memperkaya keanekaragaman vegetasi di area reklamasi.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses suksesi alami sekaligus membentuk tegakan hutan yang lebih stabil.

Selain itu, PT Vale juga melakukan penataan lahan dan revegetasi pada area bukaan non-Vale seluas 19,3 hektare.

Tahapan kegiatan meliputi perbaikan bentang alam, sistem hidrologi, kontur lahan, penaburan top soil, hingga penanaman tanaman penutup (cover crops) dan bibit pohon pionir.

Dari total luasan tersebut, sekitar 7,3 hektare lahan telah direhabilitasi dengan penanaman lebih dari 5.000 pohon di area terbuka non-Vale. Proses pemantauan dilakukan melalui metode sampling dengan intensitas 5 persen.

Untuk mendukung keberhasilan reklamasi, perusahaan juga mengoperasikan fasilitas nursery dengan memanfaatkan benih lokal yang dipropagasi sebelum pembukaan lahan. Jenis tanaman pionir yang tumbuh cepat turut ditanam guna mempercepat penutupan tajuk.

Pada 2025, target produksi bibit mencapai sekitar 100.000 batang, dengan kapasitas maksimal hingga 700.000 batang per tahun saat fase operasional penuh.

Selain itu, PT Vale menerapkan metode hydroseeding pada area dengan kemiringan lebih dari 33 derajat, seperti jalan tambang. Teknik ini mencakup penaburan jerami, pemasangan jute net, serta penyemprotan benih menggunakan hydroseeder.

Metode tersebut tidak hanya mempercepat pertumbuhan vegetasi, tetapi juga berfungsi mengurangi debu dari aktivitas angkutan serta mengendalikan erosi yang berpotensi meningkatkan tingkat kekeruhan air (total suspended solids/TSS).

Hingga saat ini, progres penerapan metode hydroseeding telah mencapai 8 hektare.

Melalui berbagai langkah tersebut, PT Vale menegaskan komitmennya dalam menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan.(*)