PT Vale Catat Penjualan Perdana Bijih Nikel dari IGP Pomalaa

waktu baca 3 menit

KOLAKA, TRIASPOLITIKA.ID – PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.

Capaian ini menandai transisi penting dari fase konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan (revenue generating phase).

Penjualan perdana tersebut bukan sekadar tonggak operasional, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam proses project de-risking, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang perseroan. Momentum ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.

Nikel merupakan komponen utama dalam baterai lithium-ion, khususnya untuk katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi. Di tengah percepatan transisi energi global, permintaan terhadap nikel diproyeksikan terus meningkat dalam dekade mendatang.

Sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang peran strategis dalam ekosistem tersebut. IGP Pomalaa menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional yang mendorong peningkatan nilai tambah melalui integrasi sektor pertambangan dan pengolahan di dalam negeri.

Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau setara ±US$4,43 miliar, IGP Pomalaa termasuk proyek strategis yang memperkuat fondasi industri nikel nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Penjualan perdana ini dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1. Kedua pit tersebut dirancang untuk mengoptimalkan arus material dan menjaga stabilitas produksi, dengan kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit.

Director and Chief Project Officer PT Vale, Muhammad Asril, mengatakan peresmian area oresell menjadi langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal.

“Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan,” ujar Asril.

Aktivasi kapasitas stockpile skala besar tersebut dinilai memperkuat stabilitas pasokan bahan baku, meningkatkan ketahanan logistik di tengah volatilitas harga komoditas, serta mendukung kesiapan menuju fase produksi penuh.

Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi ramp-up dilakukan secara disiplin guna menjaga keberlanjutan operasional dan optimalisasi kapasitas produksi.

Dengan kapasitas penyimpanan 4 Mwmt dan target produksi bulanan tersebut, proyek ini memiliki inventory buffer yang memadai untuk menjaga konsistensi suplai sekaligus memitigasi risiko gangguan operasional.

Dari sisi pembangunan, hingga Januari 2026 progres konstruksi keseluruhan IGP Pomalaa telah mencapai 65,76 persen, mencerminkan eksekusi proyek yang tetap on track. Sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai 40 persen.

Jalur MHR tersebut menjadi tulang punggung distribusi material dari area tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan, yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hauling sekaligus menekan potensi logistics bottleneck.

Perkembangan ini memperkuat profil efisiensi modal (capital efficiency) proyek serta meningkatkan visibilitas arus kas jangka menengah dan panjang perseroan.

Langkah tersebut juga selaras dengan strategi nasional hilirisasi yang mendorong pengolahan domestik dan integrasi industri dari hulu ke hilir untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi di dalam negeri.

Sebagai bagian dari MIND ID, PT Vale menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pertumbuhan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.(**)