Potensi Komoditas Nilam Bumi Mekongga sebagai Antibakteri Alami
PKM Riset Eksakta Mahasiswa USN Kolaka
Minyak nilam kini menjadi salah satu hasil komoditi andalan petani di Bumi Mekongga (Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur) Sulawesi Tenggara. Tanaman nilam (Pogostemon cablin) merupakan suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam.
Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembap. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.
Keberadaan tanaman nilam tak hanya menjadi hasil pertanian tetapi bagi masyarakat Bumi Mekongga tanaman ini telah dijadikan sebagai tanaman kearifan lokal Sulawesi Tenggara yang telah memberikan banyak manfaat bagi perekonomian masyarakat.
Selain sebagai bahan komoditi andalan, tanaman nilam juga dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pengobatan tradisional, seperti mengatasi infeksi yang dipicu oleh bakteri misalnya diare dan luka. Minyak nilam juga dimanfaatkan untuk mencegah bau badan yang juga disebabkan oleh bakteri pada kulit yang berkeringat.
Mahasiswa dari Universitas Sembilanbelas November Kolaka (USN Kolaka) yang melihat potensi dari minyak nilam tertantang untuk meneliti potensi antibakteri yang dimiliki oleh minyak nilam asal Bumi Mekongga melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (No. 1949/E2/KM.05.01/2021).
Tim PKM-RE asal USN Kolaka ini terdiri dari lima mahasiswa lintas program studi, yaitu farmasi, pendidikan kimia, dan pendidikan geografi yang memadukan bidang ilmu mereka masing-masing dalam meneliti minyak nilam asal Bumi Mekongga.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Dina Lestari (Farmasi 2018), Wa Rita (Pendidikan Geografi 2017), Firah Rahmadani (Farmasi 2018), Wahyuni Hakim (Farmasi 2018), dan Laili Cahyani Sabila (Pendidikan Kimia 2019) yang melakukan riset terhadap minyak nilam selama 3 bulan, terhitung mulai bulan Juni 2021.
Dina selaku ketua tim riset PKM-RE USN Kolaka memaparkan hasil sampel dari minyak nilam yang diteliti ‘’Minyak nilam asal Bumi Mekongga mengandung komponen atsiri yang beragam, hasil tersebut di peroleh dari analisis menggunakan metode GC-MS,’’ jelas Dina.
Lanjut Dina menambahkan bahwa komponen mayor minyak nilam dari sampel yang diteliti adalah patchouli oil yang memiliki aroma cukup khas.
‘’Komponen khas inilah yang menjadikan minyak nilam sebagai komoditi bagi industri parfum, kosmetik, bahkan farmasi,’’ terang Dina.
Rita yang memantau berdasarkan kondisi georafis wilayah mengatakan pengambil sampel minyak nilam dari berbagai tempat memiliki variasi “Secara geografis, lokasi pengambilan sampel tanaman nilam ternyata memberikan variasi terhadap komposisi sampel minyak nilam yang kami teliti,” jelas Rita.
Laili menambahkan bahwa hasil kadar minyak nilam yang telah dikumpulkan baik dari petani maupun hasil uji coba di laboratorium.
“Hasil riset kami menunjukkan kadar patchouli oil yang cukup tinggi dalam 6 sampel minyak nilam yang kami teliti, baik itu minyak yang dikumpulkan dari petani maupun minyak yang kami destilasi sendiri di laboratorium,” jelas Laili.
Wahyuni dan Fira yang fokus pada pengamatan keberadaan bakteri pada komponen atsiri mengungkapkan dalam minyak nilam tentu memiliki efek perlawanan terhadap aktivitas bakteri yang merugikan tubuh. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pengujian antibakteri oleh Tim PKM-RE ini.
“Semua sampel minyak nilam yang kami teliti ternyata aktif melawan bakteri S. aureus, aktivitas antibakteri minyak nilam asal Bumi Mekongga hampir setara dengan obat kloramfenikol yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri,” ungkap Fira dan Wahyuni.
Lanjut Dina ketua tim menjelaskan bahwa kolaborasi yang dilakukan oleh lima mahasiswa lintas prodi di USN Kolaka ini tentunya tidak terlepas dari bimbingan Bu Carla Wulandari Sabandar, S.Si M.Sc selaku Dosen pembimbing yang sangat berpengalaman di bidang potensi bahan alam yang memudahkan kami untuk mengungkap potensi minyak nilam asal Bumi Mekongga sebagai sumber antibakteri alami.
‘’Kami bersama tim dan dosen pembimbing telah mengungkap anti bakteri alami dalam kandungan minyak nilam kedepannya akan terus mengembangkan minyak nilam asal Bumi Mekongga yang kami teliti menjadi produk-produk farmasi, terutama untuk pengobatan terhadap infeksi bakteri,” ujar Dina. (Redaksi)









