Menlu Iran Temui Putin Pasca Serangan AS-Israel, Moskow Tak Tegas Soal Dukungan Militer

waktu baca 2 menit
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi

JAKARTA, TRIASPOLITIKA.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Senin, 23 Juni 2025, hanya dua hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar terhadap fasilitas nuklir utama Iran.

Pertemuan ini berlangsung dalam eskalasi konflik yang makin panas di Timur Tengah, setelah sebelumnya Israel meluncurkan serangan udara terhadap infrastruktur militer dan nuklir Iran di awal Juni. Iran menanggapi serangan tersebut dengan rentetan roket dan drone balasan. Sejak pecahnya perang udara, korban jiwa—termasuk warga sipil—telah berjatuhan di kedua belah pihak.

“Dalam situasi berbahaya yang baru ini, konsultasi kami dengan Rusia tentu saja sangat penting,” kata Araghchi seperti dikutip media pemerintah Rusia, saat tiba di Moskow.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Araghchi akan berdialog dengan Putin dan pejabat tinggi Rusia guna membahas “perkembangan regional dan internasional” menyusul agresi militer oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran.

Rusia Kecam Serangan, tapi Tak Beri Bantuan Militer

Meski secara resmi Moskow mengecam serangan AS dan Israel sebagai tindakan “tidak bertanggung jawab”, Rusia hingga kini belum menyatakan komitmen militer untuk membantu Teheran. Bahkan, isi perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani awal 2025 tampak belum direalisasikan dalam bentuk dukungan konkret.

Pada Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Putin menepis peran mediasi yang sempat ia tawarkan antara Iran dan Israel. Ia menyatakan, “Kami sama sekali tidak berusaha bertindak sebagai mediator. Kami hanya menyarankan gagasan. Jika itu menarik bagi kedua belah pihak, kami akan senang.”

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menolak keterlibatan Kremlin dalam penyelesaian konflik.

Ancaman Regional dan Dilema Diplomatik

Langkah diplomatik Araghchi dipandang sebagai bagian dari strategi Iran untuk menekan Rusia agar lebih aktif dalam menghadapi tekanan dari Barat dan sekutunya. Namun hingga kini, sikap Moskow masih berada di titik tengah antara kecaman verbal dan ketidakinginan untuk terlibat langsung dalam konfrontasi militer.

Rusia sebelumnya mengingatkan Washington agar tidak melakukan intervensi militer, namun tidak menyampaikan bentuk bantuan nyata terhadap sekutunya tersebut. Kondisi ini memunculkan spekulasi soal efektivitas poros Moskow–Teheran dalam menjaga stabilitas kawasan.