Jelang Idul Adha, PJ Bupati Bahri Pastikan Hewan Ternak di Mubar Bebas PMK

waktu baca 2 menit
PJ. Bupati Mubar, Bahri saat meninjau tempat pemotongan dan peternakan sapi di Desa Katangana, Kecamatan Tiworo Selatan. (Dedi/Triaspolitika.id)

MUBAR, TRIASPOLITIKA.ID – Beberapa waktu lalu Kemendagri mengeluarkan Intruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 31 Tahun 2022 tentang Penanganan Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Kesiapan Hewan Kurban Menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 H.

Hal tersebut menginstruksikan 18 Gubernur dan 192 Bupati/walikota kota, untuk melakukan pengendalian dan penanggulangan wabah dengan tepat, serta cermat sesuai pedoman yang telah ditetapkan.

Yang terbaru, Satgas Nasional PMK mengeluarkan Surat Edaran (SE) No. 2/2022 Tentang Protokol Kesehatan Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku. SE ini dikeluarkan dalam rangka menindaklanjuti persebaran virus PMK pada berbagai daerah di Indonesia.

Dalam SE tersebut, Satgas menilai penyebaran virus PMK di berbagai wilayah di Indonesia tak hanya mengancam kesehatan bagi hewan, tetapi juga bisa berdampak bagi perekonomian Indonesia. Maka diperlukan pengaturan protokol kesehatan penanganan PMK.

Beruntungnya, ampai saat ini belum tercatat sapi atau ternak di Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dinyatakan positif terjangkit PMK.

Hal itu ditegaskan Penjabat (PJ) Bupati Mubar, Bahri saat meninjau salah satu kandang dan pemotorngan sapi milik warga Desa Katangana, Kecamatan Tiworo Selatan.

“Kita pastikan hewan ternak saat ini bebas dari PMK, karena Dinas Pertanian dan dokter hewan terus mendampingi para peternak,” jelas Bahri, Rabu (6/7/2022).

Ia mengatakan, sebelumnya saat melantik Satuan Tugas Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (Satgas PMK) di Mubar, bahwa Satgas PMK Mubar harus dapat memastikan kesehatan hewan ternak, apalagi menjelang hari raya Idul Adha.

“Hewan yang disembelih atau pun yang dibeli dari Mubar harus bebas PMK,” tukasnya.

Bahri juga menemukan peternak sapi di Mubar sudah mampu melakukan rekayasa genetika.

“Luar biasa, sudah mengikuti perkembangan teknologi, mereka sudah mampu mengawinkan sapi lokal dengan sapi-sapi yang dari luar negeri. Contohnya dari sapi Bali dan Sapi Limousin,” pungkas Bahri.

Reporter: Dedi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!