Jadi Bupati Kolaka Bukan Sekedar Ada Niat!

waktu baca 4 menit
Ridwan Demmatadju

Oleh: Ridwan Demmatadju

Direktur Kolaka Media Institute

MENGAMATI orang-orang yang berniat maju sebagai kandidat Bupati Kolaka hari ini jadi menarik perhatian ku.

Meskipun belum waktunya untuk menyatakan diri secara terbuka, tetapi satu dua orang terlihat sudah mulai bergerak untuk sekedar pasang baliho di beberapa titik pandangan mata. Mulai dari Kota Kolaka hingga ke pelosok desa.

Cara memperkenalkan diri lewat visual itu sejatinya tak punya pengaruh yang signifikan saat perolehan suara dihitung. Lagi-lagi meski demikian tak ada gunanya toh cara ini tetap dipakai.

Padahal di era revolusi 4.0 semua sudah serba mudah untuk menyampaikan semua keinginan politik secara digital dan canggih.

Nah jika masih ada yang menggunakan cara seperti itu, boleh jadi kandidat ini termasuk kaum yang gagap dengan teknologi informasi.

Dalam lintasan waktu di 2021, tak lama lagi di ujung tahun, sejumlah nama-nama sudah disebut punya niat maju dengan berbagai ukuran kelayakan, ada yang diukur karena punya uang, dan koneksi dengan parpol tertentu.

Tapi lebih dominan jadi ukuran adalah karena punya uang banyak. Begitulah obrolan masyarakat di sejumlah warung kopi di Kolaka.

Jika uang jadi ukuran menang di arena Pilkada tentunya jadi potret buram pendidikan demokrasi.

Sejauh ini sejarah Pilkada di Kolaka selalu dimenangkan oleh kandidat yang memiliki “tim kerja” yang cerdas mengatur strategi secara terstruktur, sistematis dan masif.

Jika sudah on the track, TSM (terstruktur, sistematis, masif) dipastikan 95% kemenangan sudah tangan.

Pilkada Kolaka yang akan datang, diwarnai kandidat dengan muka baru semua, karena tak ada petahana lagi kecuali wakil bupati yang bukan muka baru.

Untuk kandidat dengan muka baru ini, semuanya punya peluang untuk ikut di arena politik pilkada sepanjang ia terdaftar atau didaftar oleh parpol pengusung dan ikut tahapan pilkada yang diselenggarakan oleh KPUD Kolaka.

Sampai saat ini, wacana soal kandidat yang akan diusul parpol belum ada satu pun kandidatnya.

Namun sejatinya jika ditelisik pakai ilmu cocologi, katakanlah Si A bisa dipinang partai A atau si B akan menggunakan partai X.

Bahkan bisa diprediksi si A akan didukung juga parpol G karena ada si A yang punya koneksi dengan pemilik parpol.

Prediksi dan ilmu cocologi bisa jadi benar terbukti nantinya. Karena sejumlah fakta bisa terbaca sekaligus jadi variabel yang menentukan.

Diskursus atau wacana soal parpol pengusung nampaknya masih harus menunggu Pemilu selesai dan kuota kursinya terpenuhi di DPRD Kolaka sebagaimana aturan berlaku.

Sejauh ini, belum ada lembaga survey yang memulai melakukan penelitian untuk menguji orang-orang yang berniat maju.

Hal ini terlihat di media online atau media sosial hasil risetnya disebar.

Hasil survey yang margin errornya sekian persen itu bisa dipercaya untuk jadi pedoman.

Meski begitu, dari pengalaman sebagai jurnalis yang banyak mengulas soal dinamika politik di Kolaka, saya berharap di Pilkada nantinya akan melahirkan pemimpin yang bisa membawa perubahan di semua sektor, apalagi di era milenial ini.

Kolaka sebagai daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya tentu sangat membutuhkan pemimpin yang sadar dengan kelestarian alam, bukan pemimpin yang serakah menjual tanah air untuk kepentingan biaya pembangunan.

Kita tidak ingin Kolaka ini digadai untuk investor yang hanya cari untung di sektor pertambangan dan pertanian.

Karena terbukti hari ini pemerataan terhadap kesejahteraan masyarakat atas hasil pertambangan hanya dinikmati oleh segelintir orang, kesenjangan sosial terlihat jelas di depan mata.

Sekali lagi, Jadi kandidat Bupati Kolaka itu bukan sekedar ada niat,punya uang dan pasang baliho besar dengan kalimat-kalimat bujuk rayuan bombastis saat kampanye, seolah-olah kemenangan sudah di tangan.

Percaya atau tidak propaganda politik yang tidak santun dan terkesan mendikte akan jadi bahan cemoohan dan pastinya akan merusak elektabilitas.

Masyarakat Kolaka hari ini sudah sangat pandai menilai siapa yang akan dipilihnya.

Selain sudah cerdas, kecanggihan teknologi informasi digital, semakin mudah warga net mengetahui layak tidaknya jadi pilihan saat di TPS.

Pada frame ini, tentu banyak hal yang mesti diurai dengan penjelasan berdasarkan data yang obyektif.

Selain itu ada hal jadi rahasia penulis yang tak perlu saya tulis disini, termasuk soal nama kandidat yang sudah terselip di hati dan pikiran.

Untuk hal yang tersembunyi ini sejatinya bisa dengan mudah terbaca jika Anda menggunakan pendekatan “ilmu berlapis-lapis”begitu saya menyebutnya.

Di ujung tulisan ini, besar harapan saya untuk Kolaka menjadi lebih smart di tangan kaum milenial untuk menghapus angka kemiskinan masyarakatnya.Semoga.

Penulis, Direktur Kolaka Media Institute, mantan jurnalis Kendari Pos, tinggal di Watuliandu.

Kolaka, 30/11/2021

error: Content is protected !!