Israel-Iran Saling Gempur, Ketegangan Memuncak Usai Serangan ke Fasilitas Nuklir

waktu baca 2 menit

JAKARTA, TRIASPOLITIKA.ID – Konflik bersenjata antara Israel dan Iran semakin memanas sejak Jumat, 13 Juni 2025, ditandai dengan saling serang antara kedua negara. Serangan Israel terhadap situs militer dan nuklir Iran memicu respons keras dari Teheran yang membalas dengan gempuran rudal ke sejumlah wilayah Israel. Ketegangan ini menandai eskalasi baru yang membahayakan stabilitas kawasan.

Menurut laporan Anadolu Agency, hingga Minggu (15/6), Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 224 korban jiwa. Di pihak Israel, seperti dikutip Al Jazeera, sebanyak 24 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.

Konflik bermula saat Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang situs nuklir Natanz dan fasilitas militer lainnya di Iran. Serangan tersebut diberi nama Operasi Rising Lion oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menyatakan bahwa langkah itu penting untuk “menghentikan Iran sebelum memproduksi senjata nuklir.”

Serangan Balasan dan Eskalasi

Teheran merespons dengan cepat. Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, menyebut Israel akan “menerima hukuman berat”. Iran kemudian meluncurkan operasi balasan bernama True Promise III, menembakkan lebih dari 100 rudal ke arah Israel.

Sebagian besar rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara Iron Dome, namun serangan tetap menimbulkan kerusakan dan korban. Pada Kamis (19/6), rudal Iran menghantam Rumah Sakit Soroka di Beersheba, selatan Israel, melukai sedikitnya 32 orang. Israel menyebut serangan itu sebagai pelanggaran berat hukum perang, sementara Iran mengklaim targetnya adalah markas militer yang berada di dekat lokasi.

Pada hari yang sama, Israel juga melancarkan serangan ke reaktor nuklir Arak di barat laut Iran. IDF menyatakan reaktor tersebut berpotensi memproduksi plutonium dalam jumlah besar dan harus dicegah untuk diaktifkan kembali.

Korban di Kalangan Elite

Dalam gelombang serangan Israel, beberapa tokoh penting militer dan ilmuwan Iran dilaporkan tewas, termasuk Komandan IRGC Hossein Salami dan mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Fereydoon Abbasi. Iran menyebut serangan ini tidak hanya menargetkan fasilitas strategis, tapi juga menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak.

Pada Selasa (17/6), militer Israel mengklaim telah menguasai wilayah udara Teheran dan menghancurkan sepertiga peluncur rudal Iran.

Ancaman Perang Skala Besar

Ketegangan saat ini memunculkan kekhawatiran atas pecahnya perang regional yang lebih luas. Retorika dari kedua negara semakin tajam, sementara negara-negara besar dunia menyerukan penahanan diri. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi.

Analis memperingatkan bahwa jika serangan terhadap fasilitas nuklir terus berlanjut, potensi keterlibatan pihak ketiga—seperti Amerika Serikat dan sekutu regional lainnya—kian besar. Sementara itu, ribuan warga sipil di kedua negara terjebak dalam situasi genting tanpa perlindungan memadai.