oleh

IPW Minta Polda Jambi Jelaskan Motif Pemukulan Perwira Polisi yang dilakukan Polisi juga

JAKARTA, TP – Terkait video viral, dimana seorang perwira Polisi sedang dipukuli sejumlah Polisi Anti huru hara dalam aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker. Polda Jambi harus menjelaskan secara transparan. Hal tersebut dikatakan ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada media, Rabu (21/20/2020).

IPW juga menilai, Polri perlu mengklarifikasi peristiwa ini. Sebab bagaimanapun peristiwa ini, sebuah peristiwa yang sangat memalukan bagi Polda Jambi dan sekaligus menggambarkan betapa buruknya koordinasi Polda Jambi dalam menangani aksi demo mahasiswa menolak UU Ciptaker.

“Akibat buruknya kordinasi ini, di lokasi demo yang terjadi justru aksi baku hantam sesama polisi. Bukan hanya itu, publik juga melihat dengan jelas, seorang Polisi anti huru hara jatuh terjengkang setelah ditendang Polisi berpakaian preman,” kata Neta S Pane.

Neta juga menjelaskan, jika dilihat dari kronologinya, perwira Polisi itu menyusup ke barisan mahasiswa yang sedang berdemo. Dia memakai jaket mahasiswa. Saat terjadi kericuhan sejumlah polisi berpakaian preman terlihat menangkapnya dan lalu memitingnya serta sebagian memukulinya. Bahkan ada pula sejumlah pasukan anti huru hara ikut memukulinya. Akibatnya polisi yang menyusup itu babak belur.

Melihat hal ini, teman-teman Polisi yang menyusup itu, yang juga adalah Polisi berpakaian preman langsung berdatangan untuk menyelamatkan perwira yg menyusup tersbut. Akhirnya baku hantam sesama Polisi di tengah aksi demo pun tak terhindarkan. Bagaimana pun peristiwa ini tidak hanya memalukan Polda Jambi tapi juga memalukan institusi kepolisian.

“Di TKP para demonstran menertawakan peristiwa ini. Begitu juga di medsos banyak yg menertawakan peristiwa ini,” ujarnya.

Masih dikatakanya, kasus baku hantam antar Polisi di tengah aksi demo mahasiswa ini terjadi akibat tidak adanya koordinasi yang baik sesama aparatur kepolisian di lapangan. Selain itu tidak ada petugas yang mengawal perwira penyusup, sehingga ketika YBS ditangkap polisi yang lain, tidak ada yang menjelaskan bahwa YBS sedang melakukan penyusupan. Akibatnya YBS babak belur dipukuli dan terjadi bakuhantam antar Polisi.

“Aksi penyusupan adalah hal biasa dalam strategi kepolisian untuk melakukan cipta kondisi, terutama dalam mengatasi aksi demo. Namun jika aksi penyusupan itu tidak terkoordinasi dengan baik, kekonyolan yang memalukan pun akan terjadi. Bukan hanya si penyusup yang babak belur, tapi sesama polisi bisa baku hantam di TKP, seperti di Jambi. Kasus ini hrs menjadi pelajaran bagi polri. Jika tidak, mahasiswa yang demo akan kembali disuguhkan pertunjukkan sesama Polisi baku hantam di lokasi demonstrasi,” pungkasnya.

Reporter: Budi Utomo

Komentar

HUKUM KRIMINAL